MAKALAH REBUSAN DAUN PANDAN TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH
DOSEN MATA KULIAH:
Diah indriastuti,S.kep.ns.,M.kep
SUMIATIN
S.0017.P.036
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
STIKES KARYA KESEHATAN KENDARI
PRODI S1 KEPERAWTAN
2020/2021
Contents
KATA PENGANTAR 2
BAB l 3
PENDAHULUAN 3
A. Latar Belakang 3
B.Rumusan masalah 4
C.Tujuan 5
BAB II 6
PENDAHULUAN 6
A. Definisi Diabetes melitus (DM) 6
C.Patofisiologi 8
D.Gejala-Gejala Diabetes Melitus 9
F. Komplikasi 12
Komplikasi 12
BAB III 16
PENUTUP 16
A. Kesimpulan 16
B. Saran 16
DAFTAR PUSTAKA 17
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan karuniaNya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ” MANFAAT REBUSAN DAUN PANDAN TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH ” tepat pada waktunya.
Kami juga mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pengerjaan makalah ini.
Kami juga menyadari banyak kekurangan yang terdapat pada makalah ini, oleh karena itu kami mengharapkan kritik yang membangun agar kami dapat berbuat lebih banyak di kemudian hari. Semoga makalah ini berguna bagi penyusun pada khususnya dan pembaca pada umumnya
KENDARI 13 JANUARI 2021
BAB l
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Penyakit Diabetes Melitus (DM) atau kencing manis, yang seringkali juga disapa dengan “Penyakit gula”, merupakan salah satu dari beberapa penyakit kronis yang ada di dunia. Dikatakan penyakit gula karena memang jumlah atau konsentrasi glukosa atau gula didalam darah melebihi keadaan normal. Dikatakan kencing manis, karena didalam urin atau air seni yang dalam keadaan normal tidak ada atau negatif, maka pada penyakit ini akan mengandung glukosa atau gula tersebut. Konsentrasi glukosa darah dikatakan “normal”, apabila pada pemeriksaan laboratorium kimia darah, konsetrasi glukosa dalam keadaan puasa pagihari, lebih atau sama dengan 126 mg/dL atau 2 jam sesudah makan lebih atau sama dengan 200 mg/dL atau bila sewaktu/sesaat diperiksa lebih dari 200 mg/dL. Diabetes merupakan suatu. penyakit atau kelainan yang mempengaruhi kemampuan tubuh untuk mengubah makanan menjadi energy .i(Nazir et al., 2018)
Penyakit Diabetes Melitus telah menjadi masalah kesehatan di dunia. Insidens dan prevalensi penyakit ini terus meningkat, terutama pada negara yang sedang berkembang dan negara yang telah memasuki budaya industrialisasi. Jumlah orang dewasa yang hidup dengan diabetes hampir empat kali lipat sejak 1980, yaitu 422.000.000 orang dewasa. Kenaikan dramatis ini sebagian besar disebabkan oleh kenaikan diabetes tipe 2 dan penyebab utamanya adalah pola makan dan gaya hidup.(Nazir et al., 2018)
Diabetes Melitus di Indonesia menunjukkan kecenderungan meningkat, yaitu dari 5,7% pada tahun 2007, menjadi 6,9% pada tahun 2013. Toleransi glukosa terganggu (TGT) sebesar 29,9% dan glukosa darah puasa (GDP) terganggu sebesar 36,6%. Proporsi penduduk di pedesaan yang menderita Diabetes Melitus hampir sama dengan penduduk di perkotaan. Prevalensi diabetes yang terdiagnosis dokter tertinggi terdapat di DI Yogyakarta (2,6%), DKI Jakarta (2,5%), Sulawesi Utara (2,4%) dan Kalimantan Timur (2,3%). Prevalensi diabetes yang terdiagnosis dokter tertinggi terdapat di DI Yogyakarta (2,6%), DKI Jakarta (2,5%), Sulawesi Utara (2,4%) dan Kalimantan Timur (2,3%). Prevalensi diabetes yang terdiagnosis dokter atau gejala, tertinggi terdapat di Sulawesi Tengah (3,7%), Sulawesi Utara (3,6%), Sulawesi Selatan (3,4%) dan Nusa Tenggara Timur 3,3%.6.(Nazir et al., 2018)
Tanaman Daun Pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) adalah tanaman asli Indonesia yang berasal dari Bangka dan tersebar luas di daerah Asia Tenggara. Tanaman ini adalah tanaman perdu tahunan dengan tingi 1-2 m. Batang berbentuk bulat dengan bekas duduk daun, bercabang, menjalar, serta akar tunggang keluar di sekitar pangkal batang dan cabang. Daun tunggal, duduk dengan pangkal memeluk batang, dan tersusun berbaris tiga dalam garis spiral. Daun berbentuk pita, tipis, licin, ujung runcing, tepi rata, bertulang sejajar, lebar 3-5 cm, panjang 40-80 cm, berduri tempel pada ibu tulang daun permukaan bawah bagian ujung-ujungnya, dan berwarna hijau. Bunga majemuk, berbentuk bongkol, dan berwarna putih. Buah batu, berbentuk bola, tumbuh menggantung, diameter 4-7,5 cm, dinding buah berambut, dan berwarna jingga. Tanaman ini juga belum banyak dimanfaatkan sebagai obat herbal antidiabetes. Tanaman daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius) mempunyai kandungan kimia antara lain alkaloid, saponin, flavonoid, tanin, polifenol, dan zat warna. Masing-masing senyawa kimia tersebut dapat membantu menurunkan kadar gula darah dalam tubuh.(Nazir et al., 2018)
B.Rumusan masalah
Apa definisi Diabetes melitus
Apa faktor Risiko Diabetes Melitus
Bagaimana Patofisiologi
Apa Gejala-Gejala Diabetes Melitus
Bagaimana Penatalaksanaan
Apa Komplikasi
Apa Tanaman Daun Pandan Wangi
Bagaimana prosedur pemberian air rebusan daun pandan
C.Tujuan
Mengetahui definisi Diabetes melitus
Mengetahui faktor Risiko Diabetes Melitus
Mengetahui Patofisiologi
Mengetahui Gejala-Gejala Diabetes Melitus
Mengetahui Penatalaksanaan
Mengetahui Komplikasi
Mengetahui Tanaman Daun Pandan Wangi
Mengetahui prosedur pemberian air rebusan daun pandan
BAB II
PENDAHULUAN
Definisi Diabetes melitus (DM)
Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolic dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-dua nya.14 Diabetes Melitus adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh kekurangan produksi insulin yang diturunkan dan atau didapat dalam produksi insulin oleh pankreas, atau oleh ketidakefektifan insulin yang dihasilkan, kekurangan tersebut menyebabkan peningkatan konsentrasi glukosa dalam darah.(Nazir et al., 2018)
B .Faktor Risiko Diabetes Melitus
Peningkatan jumlah penderita Diabetes Melitus yang sebagian besar Diabetes Melitus tipe 2, berkaitan dengan beberapa faktor yaitu faktor risiko yang tidak dapat diubah dan faktor risiko yang dapat diubah. Menurut American Diabetes Association (ADA) bahwa Diabetes Melitus berkaitan dengan faktor risiko yang tidak dapat diubah meliputi riwayat keluarga dengan Diabetes Melitus (first degree relative), umur ≥45 tahun, etnik, riwayat melahirkan bayi dengan berat badan lahir >4000 gram atau riwayat pernah menderita diabetes gestasional dan riwayat lahir dengan berat badan rendah (<2,5 kg). Faktor risiko yang dapat diubah meliputi obesitas berdasarkan IMT ≥25 kg/m2 atau lingkar perut ≥80cm pada wanita dan ≥90cm pada Faktor risiko Diabetes Melitus dibagi menjadi dua yaitu :
1.Faktor risiko yang tidak bisa dimodifikasi
Riwayat keluarga Diabetes Melitus Seseorang yang menderita Diabetes Melitus diduga mempunyai gen diabetes. Diduga bahwa bakat diabetes merupakan gen resesif. Hanya orang yang bersifat homozigot dengan gen resesif tersebut yang menderita Diabetes Melitus. Memiliki riwayat keluarga penderita Diabetes Melitus mempunyai risiko terkena Diabetes Melitus tipe 2 sebesar 42 kali dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki riwayat keluarga menderita Diabetes Melitus.laki-laki, kurangnya aktivitas fisik, hipertensi, dislipidemia dan diet tidak sehat.(Nazir et al., 2018)
Umur Usia yang terbanyak terkena Diabetes Melitus adalah ≥45 tahun. Usia ≥45 tahun mempunyai risiko 9 kali untuk terjadinya Diabetes Melitus tipe 2 dibandingkan dengan yang berumur kurang dari 45 tahun.(Nazir et al., 2018)
Faktor risiko yang bisa dimodifikasi
Obesitas (kegemukan) Terdapat korealsi bermakna antara obesitas dengan kadar glukosa darah, pada derajat kegemukan dengan IMT >23 dapat menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah menjadi 200mg%.18.19(Nazir et al., 2018)
Hipertensi Peningkatan tekanan darah pada hipertensi berhubungan erat dengan tidak tepatnya penyimpanan garam dan air, atau meningkatnya tekanan dari dalam tubuh pada sirkulasi pembuluh darah perifer.(Nazir et al., 2018)
Dislipidemia Keadaan yang ditandai dengan kenaikan kadar lemak darah (Trigliserida >250 mg/dl). Terdapat hubungan antara kenaikan plasma insulin dengan rendahnya HDL (<35 mg/dl) sering didapat pada pasien diabetes. Memiliki riwayat dislipidemia mempunyai risiko 2 kali terjadi Diabetes Melitus tipe 2 dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki riwayat dislipidemia.(Nazir et al., 2018)
Alkohol dan rokok Perubahan-perubahan dalam gaya hidup berhubungan dengan peningkatan frekuensi Diabetes Melitus tipe 2. Walaupun kebanyakan peningkatan ini dihubungkan dengan peningkatan obesitas dan pengurangan ketidakaktifan fisik, faktor-faktor lain yang berhubungan dengan perubahan dari lingkungan tradisional kelingkungan kebarat-baratan yang meliputi perubahan-perubahan dalam konsumsi alkohol dan rokok, juga berperan dalam peningkatan Diabetes Melitus tipe 2. Alkohol akan mengganggu metabolisme gula darah terutama pada penderita Diabetes Melitus, sehingga akan mempersulit regulasi gula darah dan meningkatkan tekanan darah. Tekanan darah akan meningkat apabila mengkonsumsi etil alkohol lebih dari 60 ml/hari yang setara dengan 100 ml proof wiski, 240 ml wine atau 720 ml.(Nazir et al., 2018)
C.Patofisiologi
Seperti suatu mesin, badan memerlukan bahan untuk membentuk sel baru dan mengganti sel yang rusak. Di samping itu badan juga memerlukan energi supaya sel badan dapat berfungsi dengan baik. Energi pada mesin berasal dari bahan bakar yaitu bensin. Pada manusia bahan bakar itu berasal dari bahan makanan yang kita makan sehari-hari, yang terdiri dari karbohidrat (gula dan tepung-tepungan), protein (asam amino) dan lemak (asam lemak).(Nazir et al., 2018)
Pengolahan bahan makanan dimulai di mulut kemudian ke lambung dan selanjutnya ke usus. Di dalam saluran pencernaan itu makanan dipecah menjadibahan dasar makanan itu. Karbohidrat menjadi glukosa, protein menjadi asam amino dan lemak menjadi asam lemak. Ketiga zat makanan itu akan diserap oleh usus kemudian masuk kedalam pembuluh darah dan diedarkan keseluruh tubuh untuk dipergunakan oleh organ-organ di dalam tubuh sebagai bahan bakar. Supaya dapat berfungsi sebagai bahan bakar, zat makanan itu harus masuk dulu ke dalam sel supaya dapat diolah. Di dalam sel, zat makanan terutama glukosa dibakar melalui proses kimia yang rumit, yang hasil akhirnya adalah timbulnya energi. Proses ini disebut metabolisme. Dalam proses metabolisme itu insulin memegang peran yang sangat penting yaitu bertugas memasukkan glukosa kedalam sel, untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan bakar, Insulin ini adalah hormon yang dikeluarkan oleh sel beta di pancreas. Dalam keadaan normal artinya kadar insulin cukup sensitif, insulin akan ditangkap oleh reseptor insulin yang ada pada permuka (Nazir et al., 2018)
Pada diabetes dimana didapatkan jumlah insulin yang kurang atau pada keadaan kualitas insulinnya tidak baik (resistensi insulin), meskipun insulin ada dan reseptor juga ada, tapi karena ada kelainan di dalam sel itu sendiri pintu masuk tetap tidak dapat terbuka tetap tertutup hingga glukosa tidak dapat masuk sel untuk dibakar (dimetabolisme). Akibatnya glukosa tetap berada di luar sel, hingga kadar glukosa dalam darah meningkatan sel otot, kemudian membuka pintu masuk sel hingga glukosa dapat masuk sel untuk kemudian dibakar menjadi energi/tenaga. Akibatnya kadar glukosa dalam darah normal.(Nazir et al., 2018)
D.Gejala-Gejala Diabetes Melitus
Perkeni membagi alur diagnosis DM menjadi dua bagian besar berdasarkan ada tidaknya gejala khas DM. Gejala khas terdiri dari poliuria, polidipsia, polifagia dan berat badan menurun tanpa sebab yang jelas, sedangkan gejala tidak khas DM diantaranya lemas, kesemutan, luka yang sulit sembuh, gatal, mata kabur, disfungsi ereksi (pria) dan pruritus vulva (wanita). Apabila ditemukan gejala khas DM, pemeriksaan glukosa darah abnormal satu kali saja sudah cukup untuk menegakkan diagnosis, namun apabila tidak ditemukan gejala khas DM, maka diperlukan dua kali pemeriksaan glukosa darah abnormal.(Nazir et al., 2018)
Diagnosis Diagonosis Diabetes Melitus ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah. Pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan plasma darah vena. Pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler dengan glukometer. Diagnosis tidak dapat ditegakkan atas dasar adanya glukosuria.(Nazir et al., 2018)
Berbagi keluhan dapat ditemukan pada penyandang Diabetes Melitus. Kecurigaan adanya Diabetes Melitus perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan seperti:
Keluhan klasik DM: poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
Keluhan lain: lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, dan disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulva pada wanita.
E.Penatalaksanaan
Penatalaksanaan farmakologis terhadap Diabetes Melitus tipe 1 tidak sama dengan Diabetes Melitus tipe 2. Pengobatan Diabetes Melitus tipe 1 berkaitan dengan triad yang terdiri atas insulin, diet, dan gerak badan. Karena sifat Diabetes Melitus tipe 1 adalah insulinopenia, pemberian insulin merupakan tindakan pertama(Nazir et al., 2018).
Farmakologis insulin mempunyai tiga sifat, yaitu sumbernya,kekuatannya, dan tipe atau kinetiknya. Insulin juga berbeda dilihat dari kecepatan efek (awitan kerja), puncak efeknya, dan lamanya efek itu bertahan (durasi). Insulin juga diklasifikasi sebagai insulin kerja cepat, insulin kerja menengah, dan insulin kerja lama. Makanan seperti karbohidrat dan aktivitas (gerak badan) perlu disesuaikan dengan efek (kerja) insulin agar insulin tetap tersedia untuk metabolisme yang optimal ketika makanan telah diabsorbsi oleh gastrointestinal dan makanan tetap tersedia ketika efek insulin sedang berlangsung untuk menghindari hipoglikemia.(Nazir et al., 2018)
Pada individu tanpa diabetes, insulin dikeluarkan oleh pankreas dalam dua cara, yaitu basal dan prandial. Insulin dikeluarkan secara basal dalam keadaan puasa dan diantara waktu makan untuk mengendalikan haluaran glukosa hepatik. Juga, pada individu tanpa diabetes, kadar counterregulatory hormone sangat minim dengan kadar glukosa darah juga berada pada titik sangat rendah selama diantara tengah malam dan pukul 02.00. Setelah pukul 03.00-04.00, ada peningkatan counterregulatory hormone yang menyebabkan haluaran glukosa hepatik juga meningkat, yang bisa berlangsung sampai pukul 10.00-11.00. Untuk mempertahankan keadaan euglikemia, kadar glukosa darah yang normal, pankreas meningkatkan sekresi insulin sebanyak 50%.(Nazir et al., 2018)
Secara prandial, insulin dikeluarkan oleh pankreas sebagai respons terhadap asupan karbohidrat. Pankreas menyesuaikan jumlah insulin yang dikeluarkan dengan jumlah asupan karbohidrat.(Nazir et al., 2018)
Terdapat beberapa macam obat anti hiperglikemik oral:
a. Golongan insulin sensitizing
1. Biguanid Saat ini golongan biguanid yang banyak dipakai adalah metformin. Metformin terdapat dalam konsentrasi yang tinggi di dalam usus dan hati, tidak dimetabolisme tetapi secara cepat dikeluarkan melalui ginjal. Proses tersebut berjalan dengan cepat sehingga metformin biasanya diberikan dua sampai tiga kali sehari kecuali dalam bentuk extendend release. Setelah diberikan secara oral, metformin akan akan mencapai kadar tertinggi dalam darah setelah 2 jam dan diekskresi lewat urin dalam keadaan utuh dengan waktu paruh 2,5 jam.(Nazir et al., 2018)
2. Glitazone diabsorbsi dengan cepat dan mencapai konsentrasi tertinggi terjadi setelah 1-2 jam. Makanan tidak mempengaruhi farmakokinetik obat ini. Waktu paruh berkisar antara 3-4 jam bagi rosiglitazone dan 3-7 jam bagi pioglitazon.(Nazir et al., 2018)
b. Golongan sekretagok insulin
Sulfonilurea
Sulfonilurea sering digunakan sebagai terapi kombinasi karena kemampuannya untuk meningkatkan atau mempertahankan sekresi insulin. Obat golongan ini umumnya mempunyai sifat farmakologis yang serupa, demikian juga efek klinis dan mekanisme kerjanya. Efek akut obat golongan sulfonilurea berbeda dengan efek pada pemakaian jangka lama. Glibenklamid misalnya mempunyai masa paruh 4 jam pada pemakaian akut, tetapi pada pemakaian jangka lama > 12 minggu, masa paruhnya memanjang sampai 12 jam. (Bahkansampai > 20 jam pada pemakaian kronik dengan dosis maksimal). Karena itu dianjurkan untuk memakai glibenklamid sehari sekali.(Nazir et al., 2018)
Glinid Mekanisme
Glinid Mekanisme kerja glinid juga melalui reseptor sulfonilurea (SUR) dan mempunyai struktur yang mirip dengan sulfonilurea, perbedaannya dengan SU adalah masa kerjanya lebih pendek. Mengingat lama kerjanya yang pendek maka glinid digunakan sebagai obat prandial. Repaglinid dan nateglinid kedua-duanya diabsorbsi dengan cepat setelah pemberian secara oral dan cepat dikeluarkan melalui metabolisme dalam hati sehingga diberikan dua sampai tiga kali sehari. Repaglinid dapat menurunkan glukosa darah puasa walaupun mempunyai masa paruh yang singkat karena lama menempel pada kompleks SUR sehingga dapat menurunkan ekuivalen HbA1c.(Nazir et al., 2018)
Sedang nateglinid mempunyai masa tinggal lebih singkat dan tidak menurunkan kadar glukosa darah puasa. Sehingga keduanya merupakan sekretagok yang khusus menurunkan glukosa postprandial dengan efek hipoglikemik yang minimal. Mengingat efeknya terhadap glukosa puasa tidak begitu baik maka glinid tidak begitu kuat menurunkan HbA1c.(Nazir et al., 2018)
Penghambat alfa glukosidase Acarbose
Penghambat alfa glukosidase Acarbose hampir tidak diabsorbsi dan bekerja lokal pada saluran pencernaan. Acarbose mengalami metabolisme di dalam saluran pencernaan, metabolisme terutama oleh flora mikrobiologis, hidrolisis intestinal dan aktivitas enzim pencernaan. Waktu paruh eliminasi plasma kira-kira 2 jam pada orang sehat dan sebagian besar diekskresi melalui feses. Obat ini bekerja secara kompetitif menghambat kerja enzim alfa glukosidase di dalam saluran cerna sehingga dengan demikian dapat menurunkan penyerapan glukosa dan menurunkan penyerapan glukosa dan menurunkan hiperglikemia postprandial. Obat ini bekerja di lumen usus dan tidak menyebabkan hipoglikemia dan juga tidak berpengaruh pada kadar insulin.(Nazir et al., 2018)
F. Komplikasi
Komplikasi akut
Diabetes ketoasidosis. Ketoasidosis diabetik adalah akibat yang berasal dari defisit insulin yang berat pada jaringan adiposa, otot skletal, dan hepar. Jaringan tersebut termasuk sangat sensitif terhadap kekurangan insulin. DKA dapat dicetuskan oleh infeksi (penyakit).(Nazir et al., 2018).
Komplikasi kronis
Klasifikasi komplikasi kronis adalah mikrovaskular (menyangkut pembuluhh darah kecil) dan makrovaskular (menyangkut pembuluh darah besar). Komplikasi ini adalah akibat lama dan beratnya hiperglikemia. Perubahan pada pembuluh darah mengakibatkan retinopati diabetik, nefropati diabetik, neuropati perifer dan autonomik, penyakit vaskular perifer, penyakit serebrovaskular (stroke), serta penyakit arteri koroner. Komplikasi mikrovaskular dari DM tipe 1 jarang ditemukan dalam 5-10 tahun setelah penyakit diketahui.(Nazir et al., 2018)
Komplikasi Diabetes Melitus kronis meliputi: Retinopati diabetik, nefropatik diabetik, neuropati diabetik, dislipidemia, kaki diabetik.(Nazir et al., 2018)
G.Tanaman Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.)
Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.)
Pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) termasuk genus Pandanus dari suku Pandanaceae. Suku Pandanaceae mempunyai marga antara 200 hingga 300 jenis, terbagi dalam tiga marga utama, yaitu Pandanus, Freycinetia, dan Sararanga, yang tersebar di daerah tropika, di tepi-tepi pantai dan sungai-sungai.(Nazir et al., 2018)
Pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) adalah tanaman asli indonesia yang berasal dari Bangka dan tersebar luas di daerah Asia Tenggara. Budidaya tanaman ini umumnya dilakukan di pekarangan rumah, disamping untuk tumbuhnya tidak membutuhkan tanah yang luas juga memudahkan sewaktu pemetikan karena daun pandan wangi sering dimanfaatkan sebagai pewangi dan pemberi zat warna hijau pada makanan dan minuman. Bagi pencinta flavor dan zat warna alami, daun pandan wangi merupakan salah satu alternatif yang aman untuk dikonsumsi(Nazir et al., 2018)
Tanaman ini mempunyai daun yang selalu hijau sepanjang tahun.Batangnya bulat, dapat tunggal atau bercabang-cabang dan mempunyai akar udara atau akar tunjang yang muncul pada pangkal batang. Helaian daun berbentuk pita, memanjang, tepi daun rata, ujung daun meruncing. Daun berwarna hijau dan tersusun secara spiral.(Nazir et al., 2018)
Klasifikasi Klasifikasi
Klasifikasi Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) adalah sebagai berikut:
Kingdom :Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisi I : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Pandanales
Famil : Pandanaceae
Genus : Pandanus
Spesies : Pandanus amaryllifolius Roxb.
Morfologi
Pandan wangi adalah jenis tanaman monokotil dari famili Pandanaceae. Daunnya merupakan komponen penting dalam tradisi masakan Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.(Nazir et al., 2018)
Tanaman ini adalah tanaman perdu tahunan dengan tingi 1-2 m. Batang berbentuk bulat dengan bekas duduk daun, bercabang, menjalar, serta akar tunggang keluar di sekitar pangkal batang dan cabang. Daun tunggal, duduk dengan pangkal memeluk batang, dan tersusun berbaris tiga dalam garis spiral. Daun berbentuk pita, tipis, licin, ujung runcing, tepi rata, bertulang sejajar, lebar 3-5 cm, panjang 40-80 cm, berduri tempel pada ibu tulang daun permukaan bawah bagian ujung-ujungnya, dan berwarna hijau. Bunga majemuk, berbentuk bongkol, dan berwarna putih. Buah batu, berbentuk bola, tumbuh menggantung, diameter 4-7,5 cm, dinding buah berambut, dan berwarna jingga.(Nazir et al., 2018)
Kandungan
Daun pandan wangi memiliki berbagai kandungan kimia dengan aktivitas farmakologi yang beragam. Bagian daun dari tanaman pandan wangi memiliki aroma khas, yang diketahui berasal dari kandungan senyawa 2-acetyl-1-pyrroline (ACPY). Senyawa ini juga terdapat pada tanaman melati, hanya saja memiliki konsentrasi yang lebih rendah dibandingkan pada tanaman pandan wangi.(Nazir et al., 2018)
Daun pandan wangi mengandung senyawa kimia seperti alkaloid saponin,polifenol, flavonoid, kumarin, terpen dan terpenoid, essential oils, karotenoids, kuercetin. Beberapa golongan alkaloid yang ditemukan pada ekstrak daun pandan wangi yaitu norpandamarilactonineA,-B, pandamarilactam, pandamarilacton-1, pandamarine, pandanamine, pandamarilactonine, serta piperidin.Daun pandan wangi juga memiliki kandungan flavonoid yang cukup tinggi dimana hasil maserasi daun pandan wangi dengan etanol 96% mengandung kadar fenolik total sebesar 478,762 mg/g dan kadar flavonoid total 99,408 mg/g.(Nazir et al., 2018)
Manfaat
Daun pandan wangi juga merupakan komponen cukup penting dalam tradisi boga Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya sebagai pewangi makanan karena aroma yang dihasilkannya. Ada yang suka mencampur lembaran daunnya bersama beras yang dimasak agar nasi yang dihasilkan lebih beraroma. Daun pandan juga dipakai untuk pengharum kue atau makanan basah tradisional. Selain sebagai pengharum kue, daun pandan juga dipakai sebagai sumber warna hijau bagi makanan, sebagai komponen hiasan penyajian makanan, dan juga sebagai bagian dalam rangkaian bunga di pesta perkawinan untuk mengharumkan ruangan. Pandan wangi selain sebagai rempah-rempah juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan minyak wangi. Irisan daun pandan muda dicampur bunga mawar, melati, cempaka dan kenanga, sering diselipkan di sanggul supaya rambut menjadi harum, atau diletakkan di antara pakaian dalam lemari. Daun pandan yang diiris kecil juga digunakan untuk campuran bunga rampai atau bunga tujuh rupa.(Nazir et al., 2018)
Daun pandan wangi juga memiliki kandungan alkaloid, saponin, flavonoid, tanin, polifenol, dan zat warna. Masing-masing senyawa kimia tersebut dapat membantu menurunkan kadar gula darah dalam tubuh pada saat 4 jam setelah pemberian pandan wangi. Tanin memacu metabolisme glukosa dan lemak, digunakan untuk mencegah timbunan glukosa dan lemak di darah. Alkaloid meningkatkan sekresi hormon pertumbuhan, menurunkan glukoneogenesis, meningkatkan kebutuhan insulin dan kadar glukosa darah turun. Flavonoid akan menghambat GLUT 2 mukosa usus yang menyebabkan kadar glukosa darah akan turun.(Nazir et al., 2018)
H. prosedur pemberian air rebusan daun pandan
1. Alat dan Bahan
a. Glucometer
b. Gelas ukur
c. Gelas Plastik
d. Akuades
e. Daun pandan wangi
f. Air putih
2. Cara Kerja.
Persiapan air rebusan dengan menyediakan daun pandan wangi 162 mg lalu di cuci sampai bersih. Masukkan daun pandan wangi ke dalam gelas ukur dengan mencampurkan air sebanyak 400 mL. Rebus hingga hingga mencapai 200 mL. Perebusan dilakukan dengan suhu 100oC.(Nazir et al., 2018)
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa air rebusan daun pandan wangi berpengaruh dalam penurunan kadar gula darah penderita Diabetes Melitus. 5.2
Saran
Diharapkan tulisan ini dapat menambah pengetahuan masyarakat mengenai Diabetes Melitus dan manfaat air rebusan daun pandan wangi dalam menurunkan kadar gula darah.
DAFTAR PUSTAKA
Nazir, M. S., Wahjoedi, B. A., Yussof, A. W., Abdullah, M. A., Singh, A., da Cunha, S., … Access, O. (2018). No Title膠原病 ・ 血管炎にともなう皮膚潰瘍診療ガイドライン. Spectrochimica Acta - Part A: Molecular and Biomolecular Spectroscopy, 192(4), 121–130. Retrieved from http://ec.europa.eu/energy/res/legislation/doc/biofuels/2006_05_05_consultation_en.pdf%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.saa.2017.10.076%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.biortech.2018.07.087%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.fuel.2017.11.042%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.
Nazir, M. S., Wahjoedi, B. A., Yussof, A. W., Abdullah, M. A., Singh, A., da Cunha, S., … Access, O. (2018). No Title膠原病 ・ 血管炎にともなう皮膚潰瘍診療ガイドライン. Spectrochimica Acta - Part A: Molecular and Biomolecular Spectroscopy, 192(4), 121–130. Retrieved from http://ec.europa.eu/energy/res/legislation/doc/biofuels/2006_05_05_consultation_en.pdf%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.saa.2017.10.076%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.biortech.2018.07.087%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.fuel.2017.11.042%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar