MASALAH KESEHATAN TETANUS PADA TN.B
OLEH:
SUMIATIN
S.0017.P.036
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
KARYA KESEHATAN
KENDARI
2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT,Karena berkat rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini tepat pada waktunya. Terlantun solawat serta salam buat untuk imam besar kita semua Nabi Muhammad SAW.
Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan, baik dari segi isi maupun redaksinya. Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dapat menyusun makalah yang lebih baik di masa yang akan datang. Semoga makalah ini bermanfaat untuk memberikan kontribusi bagi kita dalam memajukan ilmu keperawatan.
Kendari,5 Februari 2020
Penulis
DAFTAR ISI
Contents
KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB 1 4
PENDAHULUAN 4
A.Latar belakang 4
B. Tujuan 5
C. Manfaat 5
BAB II 6
TINJAUAN TEORI 6
A.Definisi Tetanus 6
B. Klasifikasi 7
C. Etiologi 8
D. Patofisiologi 9
F. Penatalaksanaan Tetanus 11
H. Komplikasi pada klien Tetanus 12
BAB V 13
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA 13
A. Pengkajian keluarga 13
B . Pengkajian individu 14
C. Kesehatan lingkungan 20
D. Struktur keluarga 22
E. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga 22
F. Status sosial ekonomi keluarga 23
G. Fungsi keluarga 23
H. Koping keluarga 23
I. Aktivitas rekreasi keluarga 24
J. Harapan keluarga 24
K. Tingkat kemandirian keluarga 24
L. Analisa data 27
M. Rumusan masalah 29
N. Intervensi keperawatan 29
O. Evaluasi 32
BAB IV 35
PENUTUP 35
A. KESIMPULAN 35
B. SARAN 35
DAFTAR PUSTAKA 36
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Tetanus berasal dari kata Yunani “tetanus” yang artinya “berkontraksi”, merupakan penyakit bersifat akut yang ditandai dengan kekakuan otot dan spasme, akibat toksin yang dihasilkan Clostiridium Tetani mengakibatkan nyeri biasanya pada rahang bawah dan leher.
Tetanus merupakan hal yang dapat dicegah. Tetanus lebih umum didapatkan pada masyarakat dengan pemasukan ekonomi rendah, terutama negara berkembang, tapi tidak menutup kemungkinan tetanus ada di negara maju.
Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa disertai gangguan kesadaran. Gejala ini bukan disebabkan oleh kuman clostridium tetani, tetapi akibat toksin (tetanospasmin) yang dihasilkan kuman.Tetanus adalah penyakit infeksi yang ditandai oleh kekakuan dan kejang otot, tanpa disertai gangguan kesadaran, sebagai akibat dari toksin kuman closteridium tetani.Penyakit ini tersebar di seluruh dunia, terutama pada daerah resiko tinggi dengan cakupan imunisasi DPT yang rendah. Reservoir utama kuman ini adalah tanah yang mengandung kotoran ternak sehingga resiko penyakit ini di daerah peternakan sangat tinggi. Spora kuman Clostridium tetani yang tahan kering dapat bertebaran di mana-mana.Penyakit tetanus masih sering ditemui di seluruh dunia dan merupakan penyakit endemik di 90 negara berkembang.
WHO mengatakan pada tahun 2015, terdapat 10301 kasus tetanus termasuk 3551 kasus neonatal yang dilaporkan melalui WHO/Unicef. Laporan tersebut juga masih belum bisa menjelaskan angka kejadian sebenarnya dikarenakan banyaknya insiden yang tidak dilaporkan. Kelompok masyarakat yang tidak mendapatkan vaksinasi, usia lebih dari 65 tahun, penderita diabetes merupakan masyrakat yang memiliki faktor resiko tinggi terhadap tetanus. Kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap resiko infeksi tetanus yang disebabkan oleh luka juga menjadi salah satu faktor risiko masih maraknya terjadi tetanus Tetanus yang terjadi pada non neonatal paling banyak didapatkan dikarenakan pekerjaan terutama pekerjaan yang memiliki potensial bahaya tinggi seperti pekerja agrikultural, pekerja industry, dan pekerja kesehatan, pekerja konstruksi dan pekerja besi. Dapat juga didapatkan pada luka-luka yang tidak ditangani dengan benar. Luka yang dimaksud seperti luka akibat terpotong gelas ataupun luka tersayat metal Infeksi tetanus juga bisa disebabkan oleh sebab lain. Seperti dikatakan Novi, pada penelitian yang dilakukannya kepada 40 orang anak, didapatkan bahwa infeksi tetanus disebabkan karena otitis media sebanyak 52.5% dan sisanya dikarenakan luka tusuk dan laserasi di ekstremitas dan kepala.Tetanus neonatal terjadi pada bayi berusia kurang dari 28 hari.
Indonesia sebagai negara berkembang masih menjadi salah satu negara yang kasus tetanus neonatal nya banyak. Pada tahun 1979 Indonesia malukan upaya untuk mencapai target Eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatal dimulai dengan pemberian vaksin tetanus toxoid kepada ibu hamil, calon pengantin dan bayi (Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI. 2012).
Imunitas yang didapatkan dari vaksin tetanus dapat mencegah kejadian tetanus, tetapi imunitas ini tidak berlangsung seumur hidup. Maka dari itu dibutuhkan injeksi booster pada pasien yang mengalami luka rentan tetanus.dilakukan studi literature ini adalah mengedukasi dan memberikan informasi kepada pembaca mengenai pencegahan tetanus terutama dengan penggunaan vaksin tetanus.
B. Tujuan
Mahasiswa mengetahui proses terjadinya penyakit Tetanus
Mahasiswa mengetahui cara mencegah Tetanus
Mahasiswa mampu merumuskan rencana asuhan keperawatan pada penyakit Tetanus
C. Manfaat
Bagi mahasiswa, makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan reverensi untuk materi kasus Tetanus
Bagi masyarakat, makalah ini dapat memberikan edukasi tentang penyebab serta pencegahan Tetanus
Bagi Ilmu pengetahuan keperawatan, makalah ini dapat dijadikan sebagai update referensimengenai kasus Tetanus
BAB II
TINJAUAN TEORI
A.Definisi Tetanus
Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa disertai gangguan kesadaran. Gejala ini bukan disebabkan oleh kuman clostridium tetani, tetapi akibat toksin (tetanospasmin) yang dihasilkan kuman. Tetanus adalah penyakit infeksi yang diakibatkan toksin kuman Clostridium tetani, bermanifestasi sebagai kejang otot paroksismal, diikuti kekakuan otot seluruh badan. Kekakuan tonus otot ini selalu tampak pada otot masseter dan otot-otot rangka.Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa tetanus adalah penyakit infeksi yang diakibatkan oleh toksin kuman Clostridium tetani,yang ditandai dengan gejala kekakuan dan kejang otot.
Tetanus adalah penyakit infeksi yang ditandai oleh kekakuan dan kejang otot, tanpa disertai gangguan kesadaran, sebagai akibat dari toksin kuman closteridium tetani .Penyakit ini mengenai sistem saraf yang disebabkan oleh tetanospasmin yaitu neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani.Clostridium tetani merupakan organisme obligat anaerob, batang gram positif, bergerak, ukurannya kurang lebih 0,4 x 6 μm. Mikroorganisme ini menghasilkan spora pada salah satu ujungnya sehingga membentuk gambaran tongkat penabuh drum atau raket tenis. Spora Clostridium tetani sangat tahan terhadap desinfektan kimia, pemanasan dan pengeringan. Kuman ini terdapat dimana-mana, dalam tanah, debu jalan dan pada kotoran hewan terutama kuda. Spora tumbuh menjadi bentuk vegetatif dalam suasana anaerobik. Bentuk vegetatif ini menghasilkan dua jenis toksin, yaitu tetanolisin dan tetanospasmin. Tetanolisin belum diketahui kepentingannya dalam patogenesis tetanus dan menyebabkan hemolisis in vitro, sedangkan tetanospasmin bekerja pada ujung saraf otot dan sistem saraf pusat yang menyebabkan spasme otot dan kejang.
Derajat keparahan :
1. Derajat I (ringan) : Trismus ringan sampai sedang, spastisitasgeneralisata, tanpa gangguan pernafasan, tanpaspasme, sedikit atau tanpa disfagia.
2. Derajat II (sedang) : Trismus sedang, rigiditas yang nampak jelas,spasme singkat ringan sampai sedang, gangguanpernafasan sedang dengan frekuensi pernafasanlebihd dari 30 disfagia ringan.
3. Derajat III (berat) : Trismus berat, spastisitas generalsata, spasmerefleks berkepanjangan, frekuensi pernafasan lebihdari 40, serangan apnea, disfalgia berat dantakikardia lebih dari 120.
4. Derajat IV (sangat berat) : Derajat tiga dengan gangguan otonomik berat melibatkan sistem kardiovaskuler. Hipertensi berat dan takikardi terjadi berselingan dengan hipotensi dan bradikardia, salah satunya dapat menetap.
B. Klasifikasi
Tetanus berdasarkan bentuk klinis dibagi menjadi 3 yaitu:
Tetanus local: biasanya ditandai dengan otot terasa sakit, lalu timbul rebiditas dan spasme pada bagian paroksimal luar. Gejala itu dapat menetap dalam beberapa minggu dan menghilang.
Tetanus general: yang merupakan bentuk paling sering, biasanya timbul mendadak dengan kaku kuduk, trismus, gelisah, mudah tersinggung daan sakit kepala merupakan manifestasi awal. Dalam waktu singkat kontraksi otot somatic meluas. Timbul kejang tetanik bermacam grup otot, menimbulkan aduksi lengan dan ekstensi ekstremitas bagian bawah. Pada mulanya, spasme berlangsung beberapa detik sampai beberapa menit dan terpisah oleh periode relaksasi.
Tetanus segal: varian tetanus local yang jarang terjadi. Masa inkubasi 1-2 hari terjadi sesudah otitis media atau luka kepala dan muka. Paling menonjol adalah disfungsi saraf III, IV, VII, IX, dan XI tersering saraf otak VII diikuti tetanus umum.
Berdasarkan berat gejala dapat dibedakan menjadi 3 stadium, yaitu:
Trismus (3 cm) tanpa kejang torik umum meskipun dirangsang.
Trismus (3 cm atau lebih kecil) dengan kejang torik umum bila dirangsang.
Trismus (1 cm) dengan kejang torik umum spontan.
C. Etiologi
Penyakit tetanus disebabkan oleh toksin kuman Clostridium tetani yang dapat masuk melalui luka tusuk, gigitan binatang, luka bakar, luka operasi yang tidak dirawat dan tidak dibersihkan dengan baik, caries gigi, pemotongan tali pusat yang tidak steril, dan penjahitan luka robek yang tidak steril. Penginfeksian kuman Clostridium tetani lebih mudah bila klien belum terimunisasi.
Sering kali tempat masuk kuman sukar diketahui tetepi suasana anaerob seperti pada luka tusuk, lukakotor, adanya benda asing dalam luka yang menyembuh , otitis media, dan cairies gigi, menunjang berkembang biaknya kuman yang menghasilkan endotoksin.
Penyakit ini tersebar di seluruh dunia, terutama pada daerah resiko tinggi dengan cakupan imunisasi DPT yang rendah. Reservoir utama kuman ini adalah tanah yang mengandung kotoran ternak sehingga resiko penyakit ini di daerah peternakan sangat tinggi. Spora kuman Clostridium tetani yang tahan kering dapat bertebaran di mana-mana.
Port of entry tak selalu dapat diketahui dengan pasti, namun dapat diduga melalui:
Luka tusuk, gigitan binatang, luka bakar
Luka operasi yang tidak dirawat dan dibersihkan dengan baik
OMP, caries gigi
Pemotongan tali pusat yang tidak steril.
Penjahitan luka robek yang tidak steril
Clostridium tetani termasuk dalam bakteri Gram positif, anaerob obligat, dapat membentuk spora, dan berbentuk drumstick. Spora yang dibentuk oleh C. tetani ini sangat resisten terhadap panas dan antiseptik. Ia dapat tahan walaupun telah diautoklaf (1210C, 10-15 menit) dan juga resisten terhadap fenol dan agen kimia lainnya. BakteriClostridium tetani ini banyak ditemukan di tanah, kotoran manusia dan hewan peliharaan dan di daerah pertanian. Umumnya, spora bakteri ini terdistribusi pada tanah dan saluran penceranaan serta feses dari kuda, domba, anjing, kucing, tikus, babi, dan ayam. Ketika bakteri tersebut berada di dalam tubuh, ia akan menghasilkan neurotoksin (sejenis protein yang bertindak sebagai racun yang menyerang bagian sistem saraf). C. tetanimenghasilkan dua buah eksotoksin, yaitu tetanolysin dan tetanospasmin.Fungsi dari tetanoysin tidak diketahui dengan pasti, namun juga dapat memengaruhi tetanus. Tetanospasmin merupakan toksin yang cukup kuat.
D. Patofisiologi
Tetanus disebabkan oleh toksin kuman Clostridium tetani yang masuk melalui luka tusuk, gigitan binatang, luka bakar, luka operasi yang tida dirawat dan tidak dibersihkan dengan baik, caries gigi, pemotongan tali pusat yang tidak steril, dan penjahitan luka robek yang tidak steril yang lebih beresiko bagi orang-orang yang belum terimunisasi.
Toksin kuman C. tetani berbentuk spora. Bentuk spora dalam suasana anaerob dapat berubah menjadi kuman vegetatif yang menghasilkan eksotoksin. Toksin ini menjalar intrakasonal sampai ganglin/simpul saraf dan menyebabkan hilangnya keseimbanngan tonus otot sehingga terjadi kekakuan otot baik lokal maupun mnyeluruh. Bila toksin banyak, selain otot bergaris, otot polos dan saraf otak juga terpengaruh. Biasanya penyakit ini terjdi setelah luka tusuk yang dalam misalya luka yang disebabkan tertusuk paku, pecahan kaca, kaleng atau luka tembak, karena luka tersebut menimbulkan keadaan anaerob yang ideal. Selain itu luka laserasi yang kotor dan pada bayi dapat melalui tali pusat luka bakar dan patah tulang yang terbuka juga akan mengakibatkan keadaan anaerob yang ideal untuk pertumbuhan clostridium tetani.
Tetanus terjadi sesudah pemasukan spora yang sedang tumbuh, memperbanyak diri dan mneghasilkan toksin tetanus pada potensial oksidasi-reduksi rendah (Eh) tempat jejas yang terinfeksi. Plasmid membawa gena toksin. Toksin yang dilepas bersama sel bakteri sel vegetative yang mati dan selanjutnya lisis. Toksin tetanus (dan toksin batolinium) di gabung oleh ikatan disulfit. Toksin tetanus melekat pada sambungan neuromuscular dan kemudian diendositosis oleh saraf motoris, sesudah ia mengalami ia mengalami pengangkutan akson retrograt kesitoplasminmotoneuron-alfa. Toksin keluar motoneuron dalam medulla spinalis dan selanjutnya masuk interneuron penghambat spinal. Dimanatoksin ini menghalangi pelepasan neurotransmitter . Toksin tetanus dengan demikian meblokade hambatan normal otot antagonis yang merupakan dasar gerakan yang disengaja yang di koordinasi, akibatnya otot yang terkena mempertahankan kontraksi maksimalnya, system saraf otonom juga dibuat tidak stabil pada tetanus.
E. Manifestasi Klinis
Penyakit ini biasanya terjadi mendadak dengan ketegangan otot yang makin bertambah terutama pada rahang dan leher. Dalam waktu 48 jam penyakit ini menjadi nyata dengan gejala umum:
Trismus (kesukaran membuka mulut) karena spasme otot-otot mastikatoris
Kaku kuduk sampai epistotonus karena ketegangan otot-otot erector trunki
Ketegangan otot dinding perut
Kejang tonik terutama bila dirangsang karena toksin terdapat di kornu anterior
Risus sardonikus karena spasme otot muka (alias tertarik ke atas), sudut mulut tertarik ke luar dan ke bawah, bibir tertekan kuat pada gigi
Kesukaran menelan, gelisah, mudah terangsang, nyeri anggota badan (sering merupakan gejala dini)
Spasme yang khas, yaitu badan kaku dengan epistotonus, ekstremitas inferior dala keadaan ekstensi, lengan kaku dan tangan mengepal kuat. Keadaan tetap sadar, spasme mula-mula intermitten diselingi periode relaksasi, kemudian tidak jelas lagi dan serangan tersebut disertai rasa nyeri. Kadang-kadang terjadi perdarahan intramuscular karena kontraksi yang kuat.
Asfiksia dan sianosis terjadi akibat serangan pada otot pernapasan dan laring. Retensi urine dapat terjadi karena spasme otot uretral. Fraktur kolumna vertebralis dapat pula terjadi karena kontraksi otot yang sangat kuat.
Panas biasanya tidak tinggi dan terdapat pada stadium akhir.
Biasanya terdapat leukositosis ringan dan kadang-kadang peninggian tekanan cairan otak.
F. Penatalaksanaan Tetanus
Penatalaksanaan pada klien dengan tetanus ada 2 macam yaitu farmakologi dan non-farmakologi.
Farmakologi
Antitoksin: antitoksin 20.000 1u/ 1.M/5 hari. pemberian baru diberikan setelah dipastikan tidak ada reaksi hipersensitivitas.
Anti kejang (antikonvulsan)
Fenobarbital (luminal): 3 x 100 mg/1.M. Untuk anak diberikan mula-mula 60-100 mg/1.M lalu dilanjutkan 6x30 mg/hari (max. 200mg/hari).
Klorpromasin: 3x25 mg/1.M/hari. Untuk anak-anak mula-mula 4-6 mg/kg BB.
Diazepam: 0,5-10 mg/kg BB/1.M/4 jam, dll.
Antibiotic: penizilin procain 1juta 1u/hari atau tetrasifilin 1gr/hari/1.V. Dapat memusnahkan tetani tetapi tidak mempengaruhi proses neurologiknya.
Non-farmakologi
Merawat dan membersihkan luka sebaik-baiknya,
Diet TKTP. Pemberian tergantung kemampuan menelan. Bila trismus, diberikan lewat sonde parenteral.
Isolasi pada ruang yang tenang, bebas dari rangsangan luar.
Menjaga jalan nafas agar tetap efisien.
Mengatur cairan dan elektrolit.
G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada klien dengan tetanus meliputi:
1. Darah
Glukosa Darah : Hipoglikemia merupakan predisposisi kejang (N < 200 mq/dl)
BUN : Peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan merupakan indikasi nepro toksik akibat dari pemberian obat
Elektrolit : K, Na (Ketidakseimbangan elektrolit merupakan predisposisi kejang )
Kalium ( N 3,80 – 5,00 meq/dl)
Natrium ( N 135 – 144 meq/dl)
2. Skull ray : Untuk mengidentifikasi adanya proses desak ruang dan adanya lesi, Teknik untuk menekan aktivitas listrik otak melalui tengkorak yang utuh untuk mengetahui fokus aktivitas kejang, hasil biasanya normal
H. Komplikasi pada klien Tetanus
a. Spasme otot faring
b. Asfiksia
c. Ateletaksis
d. Fraktur kompresi
e. Jalan nafas : Aspirasi, Laringuspasme/obstruksi, Obstruksi berkaitan dengan sedative
f. Respirasi : Apnea, Hipoksia ,Gagal nafas tipe 1 (atelektasis, aspirasi,pneumonia), Gagal nafas tipe 2 ( spasme laringeal,spasme trunkal berkepanjangan, sedasi berlebihan) ARDSK, komplikasi bantuan ventilasi berkepanjangan (seperti pneumonia), komplikasi traneotomi (seperti stenosistrachea )
g. Kardiovaskuler: Takikardia, hipertensi, iskemiaHipotensi, bradikardia Takiaritma, bradiaritma, Asistol, gagal jantung
h. Ginjal : Gagal ginjal curah tinggi, gagal ginjal oliguria
i. Gastrointestinal : Statis gaster, ileus, pendarahan, diare
j. Ruptur tendon akibat spasme.
BAB V
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
A. Pengkajian keluarga
Puskesmas
:
Kolono
Alamat
:
Desa Puupi
Hari/Tanggal Pengkajian
:
Selasa/09 februari 2021
Nama KK
:
Tn. B
Usia
:
64 tahun
Pendidikan
:
SMP
Pekerjaan
:
Petani
Komposisi Keluarga :
No
Nama Anggota Keluarga
Hub. Keluarga
L/P
Umur (th)
Pendidikan
Agama
Suku
Pekerjaan
Imunisasi (L/TL)
KB
Alat bantu, ptotesa
Keadaan umum (sehat/tidak sehat)
Riwayat penyakit & alergi
1.
Tn. B
Suami
L
64
SI
Islam
Buton
Petani
Lengkap
Tidak
Tidak ada
Sehat
Asma
2.
Ny. S
Istri
P
53
SMP
Islam
Buton
IRT
Lengkap
Tidak
Tidak ada
Sehat
Tidak ada
3.
Nn. R
Anak
P
19
SMA
Islam
Buton
Tidak kerja
Lengkap
Tidak
Tidak ada
Sehat
Tidak ada
Jarak Untuk Mencapai Pelayanan Kesehatan Terdekat
Fasilitas Kesehatan
Jarak
Cara tempuh
Puskesmas
:
900 meter
Motor
roda 2
:
Puskesmas Pembantu
:
200 meter
Motor
roda 2
:
Posyandu
:
100 meter
Motor
roda 2
:
3. Genogram
4. TipeKeluarga
Keluarga inti
B. Pengkajian individu
No
Data
Tn.B
Ny.Y
Nn.N
Keadaan umum :
Baik
Baik
Baik
Penampilan
Baik
Baik
Baik
BB
65 kg
80 kg
57 kg
TB
150 cm
170 cm
162 cm
Status Gizi
Baik
Baik
Baik
Diagnosa medis
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Masalah kesehatan yang pernah dialami
Asma
Tidak ada
Tidak ada
Masalah kesehatan sekarang
Asma
Tidak ada
Tidak ada
Masalah kesehatan yang lalu
Asma
Tidak ada
Tidak ada
Masalah kesehatan keluarga (turunan)
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
TTV :
Tekanan darah
110 MmHg
120 MmHg
110 MmHg
Respirasi
24x/menit
20x/menit
20x/menit
Nadi
80x/menit
72x/menit
74x/menit
3.
Palpebra
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Fungsi
Baik
Baik
Baik
4.
Telinga :
Bentuk
Normal
Normal
Normal
Keadaan
Bersih
Bersih
Bersih
Fungsi
Baik
Baik
Baik
5.
Hidung :
Bentuk
Normal
Normal
Normal
Keadaan
Bersih
Bersih
Bersih
Fungsi
Baik
Baik
Baik
6.
Mulut :
Gigi
Baik
Baik
Baik
Fungsi menelan
Baik
Baik
Baik
Kelembaban
Baik
Baik
Baik
7.
Leher :
Pembengkakan kelenjar tiroid
Tidakterdapat pembengkakan
Tidak terdapat pembengkakan
Tidak terdapat pembengkakan
8.
Dada :
Bentuk
Normal
Normal
Normal
Suara paru
Resonan
Resonan
Resonan
Respirasi
18X/menit
18X/menit
20X/Menit
Bunyi jantung
S1, S2
S1, S2
S1, S2
9.
Abdomen :
Bentuk
Normal
Normal
Normal
Nyeri tekan
Tidak adanyeri
Tidak ada nyeri
Tidak adanyeri
10.
Ekstremitas :
Oedema
Tidak adaoedema
Tidak ada oedema
Tidak ada oedema
Kontraktur
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
11.
Istirahat dan tidur
Baik
Baik
Baik
12.
Status mental
Baik
Baik
Baik
13.
Kebersihan diri
Bersih
Bersih
Bersih
14.
Sistem respirasi
Tidak adamasalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
15.
Sistem kardiovaskuler
Tidak adamasalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
16.
Sistem pencernaan
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
17.
Sistem urinaria
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
18.
Sistem integument
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
19.
Sistem persyarafan
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
20.
Sistem muskulosketal
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Pemeriksaan penunjang bagi yang sakit (lab, radiologi, EKG, USG)
Tidak adapemeriksaan
Tidakada pemeriksaan
Tidak ada pemeriksaan
C. Kesehatan lingkungan
Karakteristik Rumah
Denah rumah
(A) (F)
(B)
(G)
( C (E) ( F)
(D)
Ket:
A. Kamar anak Nn.
B. Kamar mandi
C. Kamar Tn.B dan Ny.S
D. Ruang Tamu
E. Ruang keluarga
F. Ruang makan
G. Dapur
Tipe Tempat Tinggal
Keluarga sudah memiliki tempat tinggal sendiri
Gambaran kondisi rumah
Luas rumah keluarga 14x10 m ,kebersihan rumah cukup bersih .
Jenis bangunan
Semi permanen
Luas bangunan
14x10 m
Luas pekarangan
60 m
Jumlah jendela
6 jendela
Kondisi ventilasi rumah
Memiliki sirkulasi udara yang baik
Kondisi pencahayaan rumah
Penerangan menggunakan listrik diguhnakan pada siang dan malam hari karena kurang pencahyaan
Jenis lantai
Lantai tempat tinggal menggunakan tehel
Kebersihan rumah secara keseluruhan
Kebersihan cukup bersih
Pengelolaan sampah keluarga
Sampah dibuang digalian dan membakar sampahnya.
Sumber air bersih dalam keluarga
Sumber air bersih keluarga berada disumur dekat rumah.
Jarak sumber air minum dengan septic tank
Sekitar 20 m dari tempat keluarga tinggal
Sumber air minum yang digunakan
Mengunakan air sumber kemasan
Keadaan dapur
Cukup bersih
Pembuangan limbah
Saluran diarahkan menuju kali
Keamanan lingkungan rumah
Keamanan lingkungan Tn.B sangat aman
Perasaan subyektif keluarga terhadap rumah
Perasannya sangat senang, nyaman dan aman berada di tempat tinggalnya
Pengaturan pengaturan rumah dan privaci
Pengaturannya cukup rapi penempatannya
Karakteristik Lingkungan dan Komunitas Tempat Tinggal yang lebih luas.
Karakteristik fisik dari lingkungan
Ditempat tinggal Tn.B jarak antara satu rumah dan lainnya cukup dekat. Keluarga Tn .B sering berinteraksi dan berkomunikasi dengan tetangga sekitar hal ini mendukung karena tetangganya sangat ramah
Karakteristik duemografis dari lingkungan dan komunitas
Keluarga Tn.B tidak pernah pindah didesa atau kekota lain
Bagimana fasilitas-fasilitas mudah diakses atau dijangkau oleh keluarga
Keluarga Tn.B cukup berperan dalam mengikuti kegiatan .
Tersedianya transportasi umum yang dapat digunakan oleh keluarga dalam mengakses fasilitas yang ada.
Keluarga Tn.B menggunakan transportasi pribadi sepeda motor yang digunakan saat berpergian kemana-mana
e. Mobilitas geografis keluarga
menurut klien tidak pernah pindah daerah kota lain .
Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Keluarga Tn.B Mengatakan sering mengikuti majelis.
D. Struktur keluarga
Pola dan komunikasi keluarga
Keluarga Tn. B berkomunikasi degan menggunakan bahasa Buton dan indonesi bahasa Indonesia yang lebih sering digunakan.
Struktur kekuatan keluarga
Hingga saat ini Tn.B sangat berperan penting dalam mencari nafkah sedangkan anak dan istrinya tidak berkerja
Nilai-Nilai Keluarga
Nilai-nilai dan norma yang dianut dua sisih yaitu berdasarkan kebiasaan suku buton dalam agama islam. Nilai dan norma yang dimaksud saling menghargai, menghormati, serta saling menjaga kerkunan dalam keluarga dan masyrakat.
E. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
Tahap perkembangan keluarga saat ini
Keluarga Tn.B memiliki 1 orang putri yang masing-masing sudah memasuki usia dewasa.
.
Riwayat kesehatan keluarga inti
Tn.B mengeluh merasakan kaku diseluruh badan dan tidak bias di gerakkan,kepala terasa berat,pusing,demam.
Latar Belakang Budaya Keluarga
keluarga Tn. B berlatar belakang suku buton,nilai-nilai dalam keluarga pun berdasarkan budaya suku buton.
F. Status sosial ekonomi keluarga
Penghasilan keluarga Tn. B adalah sebesar 1.500.000-2.000.000/bulan.
G. Fungsi keluarga
Fungsi Sosial
Keluarga Tn. B aktif dalam kegiatan social yang berada dimasyarakat, keluarga tersebut juga aktif berinteraksi dengan masyarakat sekitar.
Fungsi Perawatan kesehatan
Jika salah satu dalam keluarga Tn.B, sakit mereka saling merawat dalam anggota keluarga. Biasanya mereka meminum obat-obatan terlebih dahulu sebagai tindakan pertama. Namun jika keadaan tidak membaik maka mereka akan berobat ke fasilitas kesehatan terdekat.
H. Koping keluarga
Stresor jangka pendek dan jangka panjang
Terdapat beberapa stressor jangka pendek dalam keluarga Tn. B, bagi Tn. B pribadi yaitu pada pekerjaannya. Sedangkan stressor yang dialami oleh Ny. S paling sering akibat kelelahan dalam mengurus rumah dan stressor yang bagi Nn.R adalah masalah pendidikan .
Kemampuan keluarganya berespon terhadap situasi/ stressor
Tn.B biasanya berusaha mencegah adanya masalah pada keluarganya. Ny. B biasanya tajin berolahrga dalam rumah . Tn.D biasanyamemilih lingkungan yang baik serta menjalin hubungan yang baik dengan orang sekitar.
Strategi koping yang digunakan
Untuk mengatasi stres yang dialami, keluarga Tn. S biasanya refresing, mendekatkan diri kepada tuhan dan berisitirahat yang cukup.
I. Aktivitas rekreasi keluarga
Keluarga Tn.B biasa melakukan liburan dengan anggota keluarga seperti menonton bersama, minum teh bersama dll.
J. Harapan keluarga
Dengan adanya petugas kesehatan yang datang kerumahnya menurutnya mengharapkan supaya petugas kesehatan bisa memberikan pengetahuan yang dapat membantu dirinya mempersiapkan bagaimana sebenarnya kesehatan dalam rumah tangganya.
K. Tingkat kemandirian keluarga
Tingkat kemandirian keluarga terdiri dari tujuh kriteria kemampuan keluarga yang telah dicapai.
Kriteria 1
:
keluarga menerima perawat
Kriteria 2
:
keluarga menerima pelayanan kesehatan sesuai rencana rencana keperawatan keluarga
Kriteria 3
:
keluarga tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara benar
Kriteria 4
:
keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan pelayanan kesehatan sesuai anjuran
Kriteria 5
:
keluarga melakukan tindakan keperawatan sederhana yang sesuai anjuran
Kriteria 6
:
keluarga melakukan tidakan pencegahan secara aktif
Kriteria 7
:
keluarga melakukan tidakan promotif secara aktif
Tingkat Kemandirian
Kriteria 1
Kriteria 2
Kriteria 3
Kriteria 4
Kriteria 5
Kriteria 6
Kriteria 7
Tingkat I
V
v
-
-
-
-
-
Tingkat II
V
v
V
V
v
-
-
Tingkat III
V
v
V
V
v
v
Tingkat IV
V
v
V
V
v
v
V
L. Analisa data
Analisis Data
Kode
Etiologi
Masalah
DS : Klien mengatakan nyeri dan
kaku diseluruh badan dan tidak bias di gerakkan
DO : Klien Nampak gelisah
Kode: D.0077
Kategori : Psikologis
Sub Kategori : Nyeri dan kenyamanan
Agen injury
(biologi)
Nyeri akut
DS :klien mengatkan demam dan pusing
DO : klien Nampak pucat dan lemas
Td:130/70
N:120X/menit
S:39 ,60C
R:26x/menit
Kode:
D.0131
Kategori: lingkungan
Sub Kategori : keamanan dan proteksi
Penyakit tetanus
Hipertermi
M. Rumusan masalah
Data yang terkumpul dan dianalisis, kemudian didapatkan diagnosa keperawatan sebagai berikut :.
(0077 ) Nyeri akut berhubungan dengan cedera fisik
(0130 ) Hipetermia berhubungan dengan proses penyakit
N. Intervensi kesehatan
No
Diagnosa
Tujuan & kriteria hasil (NOC)
Intervensi (NIC)
Kode: D.0077
Kategori : Psikologis
Sub Kategori : Nyeri dan kenyamanan
DS : Klien mengatakan nyeri dan kaku diseluruh badan dan tidak bias di gerakkan
DO : - Klien Nampak gelisah
Seteleh dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan
Tingkat nyeri ( L. 08066)
Skala
1.meningkat
2. cukup meningkat
3.sedang
4. cukup menurun
5. menurun
Dengan kriteria :
1.Keluhan nyeri (skala 2 menjadi 4)
2. Meringis (skala 2 menjadi 2)
Intervensi keperawat
Menajemen nyeri (1.08238)
Identifikasi lokasi,karakteristik,durasi,frekuensi,kualitas,intensitas nyeri
Identifikasi skala nyeri
Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan
2.
Kode:D.0131
Kategori : lingkungan
Sub Kategori : keamanan dan proteksi
DS :klien mengatkan demam dan pusing
DO : klien Nampak pucat dan lemas
Td:130/70
N:120X/menit
S:39 ,60C
R:26x/menit
Status kenyamanan ( L. 08064)
Skala
1.meningkat
2. cukup meningkat
3.sedang
4. cukup menurun
5. menurun
Dengan kriteria :
1. Keluhan tidak nyaman
(skala 2 menjadi 4)
2. Gelisah (skala 3 menjadi 5 )
Menajemen hipertermia (1.14507)
Monitor suhu tubuh
Identifikasi penyebab hipetermia
Monitor tanda dan gejala akibat hipertermia
Puskesmas : kolono
Nama KK : Tn. B
No. Register : -
TANGGAL/JAM
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TINDAKAN
EVALUASI
TANDA TANGAN
20/01/2020
Kode: (0077 )
Nyeri akut berhubungan dengan cedera fisik
1. mengidentifikasi lokasi,karakteristik,durasi,frekuensi,kualitas,intensitas nyeri
2. Mengidentifikasi skala nyeri
3. Mengidentifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
4. Memonitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan
S : klien mengatakan nyeri yang dirasakan sedikit berkurang
O: Pasien tidak Nampak meringis
21/01/2020
Kode:(0130) Hipetermia berhubungan dengan proses penyakit
1. Memonitor suhu tubuh
2. mengidentifikasi penyebab hipetermia
3.Memonitor tanda dan gejala akibat hipertermia
S: klien mengatkan demam demamnya berkurang
O: Td:130/70
N:120X/menit
S:36 ,50C
R:26x/menit
O. Evaluasi
TANGGAL/JAM
DIAGNOSA KEPERAWATAN
EVALUASI
TANDA TANGAN
25/01/2021
Kode: (0077 )
Nyeri akut
S : klien mengatakan nyeri yang dirasakan sedikit berkurang
O : Pasien tidak Nampak meringis
\A : masalah hampir teratasi
P :intervensi dipertankan
26/01/2001
Kode:(0130)
Hipetermia
S: klien mengatkan demam demamnya berkurang
O: Td:130/70
N:120X/menit
S:36 ,50C
R:26x/menit
A : masalah hampir teratasi
P :intervensi dipertankan
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Tetanus berasal dari kata Yunani “tetanus” yang artinya “berkontraksi”, merupakan penyakit bersifat akut yang ditandai dengan kekakuan otot dan spasme, akibat toksin yang dihasilkan Clostiridium Tetani mengakibatkan nyeri biasanya pada rahang bawah dan leher.Tetanus merupakan hal yang dapat dicegah. Tetanus lebih umum didapatkan pada masyarakat dengan pemasukan ekonomi rendah, terutama negara berkembang, tapi tidak menutup kemungkinan tetanus ada di negara maju.
WHO mengatakan pada tahun 2015, terdapat 10301 kasus tetanus termasuk 3551 kasus neonatal yang dilaporkan melalui WHO/Unicef. Laporan tersebut juga masih belum bisa menjelaskan angka kejadian sebenarnya dikarenakan banyaknya insiden yang tidak dilaporkan. Kelompok masyarakat yang tidak mendapatkan vaksinasi, usia lebih dari 65 tahun, penderita diabetes merupakan masyrakat yang memiliki faktor resiko tinggi terhadap tetanus. Kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap resiko infeksi tetanus yang disebabkan oleh luka juga menjadi salah satu faktor risiko masih maraknya terjadi tetanus Tetanus yang terjadi pada non neonatal paling banyak didapatkan dikarenakan pekerjaan terutama pekerjaan yang memiliki potensial bahaya tinggi seperti pekerja agrikultural, pekerja industry, dan pekerja kesehatan, pekerja konstruksi dan pekerja besi. Dapat juga didapatkan pada luka-luka yang tidak ditangani dengan benar.
B. SARAN
Untuk mahasiswa diharapkan agar memahami segelah penjelasan dalam makalah ini dan menjadi salah sau referensi pembelajaran
Untuk dosen diharapkan segalah kritik dan saran agar kedepanya bisa membua makalah asuhan keperawatan bisa lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Haq, N. Z., Keperawatan, F., & Airlangga, U. (n.d.). ASUHAN KEPERAWATAN ( ASKEP ) TETANUS.
Nomor, V. (2020). Jurnal Penelitian Perawat Profesional. 2(November), 443–450.
Haq, N. Z., Keperawatan, F., & Airlangga, U. (n.d.). ASUHAN KEPERAWATAN ( ASKEP ) TETANUS.
Nomor, V. (2020). Jurnal Penelitian Perawat Profesional. 2(November), 443–450.
Haq, N. Z., Keperawatan, F., & Airlangga, U. (n.d.). ASUHAN KEPERAWATAN ( ASKEP ) TETANUS.
Nomor, V. (2020). Jurnal Penelitian Perawat Profesional. 2(November), 443–450.
Haq, N. Z., Keperawatan, F., & Airlangga, U. (n.d.). ASUHAN KEPERAWATAN ( ASKEP ) TETANUS.
Nomor, V. (2020). Jurnal Penelitian Perawat Profesional. 2(November), 443–450.
(Haq et al., n.d.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar