Selasa, 09 Maret 2021

Vidio Terapi rebusan daun pandan wangi

https://youtu.be/Hag94qpQzRU

MAKALAH TERAPI REBUSAN DAUN PANDAN WANGI

MAKALAH  REBUSAN DAUN PANDAN TERHADAP PENURUNAN KADAR  GLUKOSA DARAH



DOSEN MATA KULIAH:
Diah indriastuti,S.kep.ns.,M.kep
SUMIATIN
S.0017.P.036





SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
STIKES KARYA KESEHATAN KENDARI
PRODI S1 KEPERAWTAN
2020/2021




Contents

KATA PENGANTAR 2
BAB l 3
PENDAHULUAN 3
A. Latar Belakang 3
B.Rumusan masalah 4
C.Tujuan 5
BAB II 6
PENDAHULUAN 6
A. Definisi Diabetes melitus (DM) 6
C.Patofisiologi 8
D.Gejala-Gejala Diabetes Melitus 9
F. Komplikasi 12
Komplikasi 12
BAB III 16
PENUTUP 16
A. Kesimpulan 16
B. Saran 16
DAFTAR PUSTAKA 17




KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan karuniaNya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ” MANFAAT REBUSAN DAUN PANDAN TERHADAP PENURUNAN KADAR  GLUKOSA DARAH ” tepat pada waktunya.
Kami juga mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pengerjaan makalah ini.
Kami juga menyadari banyak kekurangan yang terdapat pada makalah ini, oleh karena itu kami mengharapkan kritik yang membangun agar kami dapat berbuat lebih banyak di kemudian hari. Semoga makalah ini berguna bagi penyusun pada khususnya dan pembaca pada umumnya








KENDARI 13 JANUARI 2021



BAB l
PENDAHULUAN
Latar Belakang
          Penyakit Diabetes Melitus (DM) atau kencing manis, yang seringkali juga disapa dengan “Penyakit gula”, merupakan salah satu dari beberapa penyakit kronis yang ada di dunia. Dikatakan penyakit gula karena memang jumlah atau konsentrasi glukosa atau gula didalam darah melebihi keadaan normal. Dikatakan kencing manis, karena didalam urin atau air seni yang dalam keadaan normal tidak ada atau negatif, maka pada penyakit ini akan mengandung glukosa atau gula tersebut. Konsentrasi glukosa darah dikatakan “normal”, apabila pada pemeriksaan laboratorium kimia darah, konsetrasi glukosa dalam keadaan puasa pagihari, lebih atau sama dengan 126 mg/dL atau 2 jam sesudah makan lebih atau sama dengan 200 mg/dL atau bila sewaktu/sesaat diperiksa lebih dari 200 mg/dL. Diabetes merupakan suatu. penyakit atau kelainan yang mempengaruhi kemampuan tubuh untuk mengubah makanan menjadi energy .i(Nazir et al., 2018)

         Penyakit Diabetes Melitus telah menjadi masalah kesehatan di dunia. Insidens dan prevalensi penyakit ini terus meningkat, terutama pada negara yang sedang berkembang dan negara yang telah memasuki budaya industrialisasi. Jumlah orang dewasa yang hidup dengan diabetes hampir empat kali lipat sejak 1980, yaitu 422.000.000 orang dewasa. Kenaikan dramatis ini sebagian besar disebabkan oleh kenaikan diabetes tipe 2 dan penyebab utamanya adalah pola makan dan gaya hidup.(Nazir et al., 2018)

          Diabetes Melitus di Indonesia menunjukkan kecenderungan meningkat, yaitu dari 5,7% pada tahun 2007, menjadi 6,9% pada tahun 2013. Toleransi glukosa terganggu (TGT) sebesar 29,9% dan glukosa darah puasa (GDP) terganggu sebesar 36,6%. Proporsi penduduk di pedesaan yang menderita Diabetes Melitus hampir sama dengan penduduk di perkotaan. Prevalensi diabetes yang terdiagnosis dokter tertinggi terdapat di DI Yogyakarta (2,6%), DKI Jakarta (2,5%), Sulawesi Utara (2,4%) dan Kalimantan Timur (2,3%). Prevalensi diabetes yang terdiagnosis dokter tertinggi terdapat di DI Yogyakarta (2,6%), DKI Jakarta (2,5%), Sulawesi Utara (2,4%) dan Kalimantan Timur (2,3%). Prevalensi diabetes yang terdiagnosis dokter atau gejala, tertinggi terdapat di Sulawesi Tengah (3,7%), Sulawesi Utara (3,6%), Sulawesi Selatan (3,4%) dan Nusa Tenggara Timur 3,3%.6.(Nazir et al., 2018)

       Tanaman Daun Pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) adalah tanaman asli Indonesia yang berasal dari Bangka dan tersebar luas di daerah Asia Tenggara. Tanaman ini adalah tanaman perdu tahunan dengan tingi 1-2 m. Batang berbentuk bulat dengan bekas duduk daun, bercabang, menjalar, serta akar tunggang keluar di sekitar pangkal batang dan cabang. Daun tunggal, duduk dengan pangkal memeluk batang, dan tersusun berbaris tiga dalam garis spiral. Daun berbentuk pita, tipis, licin, ujung runcing, tepi rata, bertulang sejajar, lebar 3-5 cm, panjang 40-80 cm, berduri tempel pada ibu tulang daun permukaan bawah bagian ujung-ujungnya, dan berwarna hijau. Bunga majemuk, berbentuk bongkol, dan berwarna putih. Buah batu, berbentuk bola, tumbuh menggantung, diameter 4-7,5 cm, dinding buah berambut, dan berwarna jingga. Tanaman ini juga belum banyak dimanfaatkan sebagai obat herbal antidiabetes.  Tanaman daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius) mempunyai kandungan kimia antara lain alkaloid, saponin, flavonoid, tanin, polifenol, dan zat warna. Masing-masing senyawa kimia tersebut dapat membantu menurunkan kadar gula darah dalam tubuh.(Nazir et al., 2018)
              B.Rumusan masalah
Apa definisi Diabetes melitus 
Apa faktor Risiko Diabetes Melitus
Bagaimana Patofisiologi 
Apa  Gejala-Gejala Diabetes Melitus
Bagaimana Penatalaksanaan
Apa Komplikasi
Apa Tanaman Daun Pandan Wangi
Bagaimana prosedur pemberian air rebusan daun pandan

C.Tujuan

Mengetahui definisi Diabetes melitus 
Mengetahui faktor Risiko Diabetes Melitus
Mengetahui Patofisiologi 
Mengetahui Gejala-Gejala Diabetes Melitus
 Mengetahui Penatalaksanaan
Mengetahui Komplikasi
Mengetahui Tanaman Daun Pandan Wangi
Mengetahui prosedur pemberian air rebusan daun pandan

























BAB II
PENDAHULUAN

Definisi Diabetes melitus (DM)
Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolic dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-dua nya.14 Diabetes Melitus adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh kekurangan produksi insulin yang diturunkan dan atau didapat dalam produksi insulin oleh pankreas, atau oleh ketidakefektifan insulin yang dihasilkan, kekurangan tersebut menyebabkan peningkatan konsentrasi glukosa dalam darah.(Nazir et al., 2018)

     B  .Faktor Risiko Diabetes Melitus 
Peningkatan jumlah penderita Diabetes Melitus yang sebagian besar Diabetes Melitus tipe 2, berkaitan dengan beberapa faktor yaitu faktor risiko yang tidak dapat diubah dan faktor risiko yang dapat diubah. Menurut American Diabetes Association (ADA) bahwa Diabetes Melitus berkaitan dengan faktor risiko yang tidak dapat diubah meliputi riwayat keluarga dengan Diabetes Melitus (first degree relative), umur ≥45 tahun, etnik, riwayat melahirkan bayi dengan berat badan lahir >4000 gram atau riwayat pernah menderita diabetes gestasional dan riwayat lahir dengan berat badan rendah (<2,5 kg). Faktor risiko yang dapat diubah meliputi obesitas berdasarkan IMT ≥25 kg/m2 atau lingkar perut ≥80cm pada wanita dan ≥90cm pada Faktor risiko Diabetes Melitus dibagi menjadi dua yaitu :

         1.Faktor risiko  yang tidak bisa dimodifikasi

Riwayat keluarga Diabetes Melitus Seseorang yang menderita Diabetes Melitus diduga mempunyai gen diabetes. Diduga bahwa bakat diabetes merupakan gen resesif. Hanya orang yang bersifat homozigot dengan gen resesif tersebut yang menderita Diabetes Melitus. Memiliki riwayat keluarga penderita Diabetes Melitus mempunyai risiko terkena Diabetes Melitus tipe 2 sebesar 42 kali dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki riwayat keluarga menderita Diabetes Melitus.laki-laki, kurangnya aktivitas fisik, hipertensi, dislipidemia dan diet tidak sehat.(Nazir et al., 2018)
 Umur Usia yang terbanyak terkena Diabetes Melitus adalah ≥45 tahun. Usia ≥45 tahun mempunyai risiko 9 kali untuk terjadinya Diabetes Melitus tipe 2 dibandingkan dengan yang berumur kurang dari 45 tahun.(Nazir et al., 2018)

Faktor risiko yang bisa dimodifikasi
Obesitas (kegemukan) Terdapat korealsi bermakna antara obesitas dengan kadar      glukosa darah, pada derajat kegemukan dengan IMT >23 dapat menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah menjadi 200mg%.18.19(Nazir et al., 2018)
Hipertensi Peningkatan tekanan darah pada hipertensi berhubungan erat dengan tidak     tepatnya penyimpanan garam dan air, atau meningkatnya tekanan dari dalam tubuh pada sirkulasi pembuluh darah perifer.(Nazir et al., 2018)
Dislipidemia Keadaan yang ditandai dengan kenaikan kadar lemak darah (Trigliserida >250 mg/dl). Terdapat hubungan antara kenaikan plasma insulin dengan rendahnya HDL (<35 mg/dl) sering didapat pada pasien diabetes. Memiliki riwayat dislipidemia mempunyai risiko 2 kali terjadi Diabetes Melitus tipe 2 dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki riwayat dislipidemia.(Nazir et al., 2018)
Alkohol dan rokok Perubahan-perubahan dalam gaya hidup berhubungan dengan peningkatan frekuensi Diabetes Melitus tipe 2. Walaupun kebanyakan peningkatan ini dihubungkan dengan peningkatan obesitas dan pengurangan ketidakaktifan fisik, faktor-faktor lain yang berhubungan dengan perubahan dari  lingkungan tradisional kelingkungan kebarat-baratan yang meliputi perubahan-perubahan dalam konsumsi alkohol dan rokok, juga berperan dalam peningkatan Diabetes Melitus tipe 2. Alkohol akan mengganggu metabolisme gula darah terutama pada penderita Diabetes Melitus, sehingga akan mempersulit regulasi gula darah dan meningkatkan tekanan darah. Tekanan darah akan meningkat apabila mengkonsumsi etil alkohol lebih dari 60 ml/hari yang setara dengan 100 ml proof wiski, 240 ml wine atau 720 ml.(Nazir et al., 2018)


        
C.Patofisiologi 

  Seperti suatu mesin, badan memerlukan bahan untuk membentuk sel baru dan mengganti sel yang rusak. Di samping itu badan juga memerlukan energi supaya sel badan dapat berfungsi dengan baik. Energi pada mesin berasal dari bahan bakar yaitu bensin. Pada manusia bahan bakar itu berasal dari bahan makanan yang kita makan sehari-hari, yang terdiri dari karbohidrat (gula dan tepung-tepungan), protein (asam amino) dan lemak (asam lemak).(Nazir et al., 2018)
        Pengolahan bahan makanan dimulai di mulut kemudian ke lambung dan selanjutnya ke usus. Di dalam saluran pencernaan itu makanan dipecah menjadibahan dasar makanan itu. Karbohidrat menjadi glukosa, protein menjadi asam amino dan lemak menjadi asam lemak. Ketiga zat makanan itu akan diserap oleh usus kemudian masuk kedalam pembuluh darah dan diedarkan keseluruh tubuh untuk dipergunakan oleh organ-organ di dalam tubuh sebagai bahan bakar. Supaya dapat berfungsi sebagai bahan bakar, zat makanan itu harus masuk dulu ke dalam sel supaya dapat diolah. Di dalam sel, zat makanan terutama glukosa dibakar melalui proses kimia yang rumit, yang hasil akhirnya adalah timbulnya energi. Proses ini disebut metabolisme. Dalam proses metabolisme itu insulin memegang peran yang sangat penting yaitu bertugas memasukkan glukosa kedalam sel, untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan bakar, Insulin ini adalah hormon yang dikeluarkan oleh sel beta di pancreas. Dalam keadaan normal artinya kadar insulin cukup sensitif, insulin akan ditangkap oleh reseptor insulin yang ada pada permuka (Nazir et al., 2018)
    Pada diabetes dimana didapatkan jumlah insulin yang kurang atau pada keadaan kualitas insulinnya tidak baik (resistensi insulin), meskipun insulin ada dan reseptor juga ada, tapi karena ada kelainan di dalam sel itu sendiri pintu masuk tetap tidak dapat terbuka tetap tertutup hingga glukosa tidak dapat masuk sel untuk dibakar (dimetabolisme). Akibatnya glukosa tetap berada di luar sel, hingga kadar glukosa dalam darah meningkatan sel otot, kemudian membuka pintu masuk sel hingga glukosa dapat masuk sel untuk kemudian dibakar menjadi energi/tenaga. Akibatnya kadar glukosa dalam darah normal.(Nazir et al., 2018)


 
 D.Gejala-Gejala Diabetes Melitus

 Perkeni membagi alur diagnosis DM menjadi dua bagian besar berdasarkan ada tidaknya gejala khas DM. Gejala khas terdiri dari poliuria, polidipsia, polifagia dan berat badan menurun tanpa sebab yang jelas, sedangkan gejala tidak khas DM diantaranya lemas, kesemutan, luka yang sulit sembuh, gatal, mata kabur, disfungsi ereksi (pria) dan pruritus vulva (wanita). Apabila ditemukan gejala khas DM, pemeriksaan glukosa darah abnormal satu kali saja sudah cukup untuk menegakkan diagnosis, namun apabila tidak ditemukan gejala khas DM, maka diperlukan dua kali pemeriksaan glukosa darah abnormal.(Nazir et al., 2018)
  Diagnosis Diagonosis Diabetes Melitus ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah. Pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan plasma darah vena. Pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler dengan glukometer. Diagnosis tidak dapat ditegakkan atas dasar adanya glukosuria.(Nazir et al., 2018)
     Berbagi keluhan dapat ditemukan pada penyandang Diabetes Melitus. Kecurigaan adanya Diabetes Melitus perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan seperti:

Keluhan klasik DM: poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
Keluhan lain: lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, dan disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulva pada wanita.

E.Penatalaksanaan
         Penatalaksanaan farmakologis terhadap Diabetes Melitus tipe 1 tidak sama dengan Diabetes Melitus tipe 2. Pengobatan Diabetes Melitus tipe 1 berkaitan dengan triad yang terdiri atas insulin, diet, dan gerak badan. Karena sifat Diabetes Melitus tipe 1 adalah insulinopenia, pemberian insulin merupakan tindakan pertama(Nazir et al., 2018).
          Farmakologis insulin mempunyai tiga sifat, yaitu sumbernya,kekuatannya, dan tipe atau kinetiknya. Insulin juga berbeda dilihat dari kecepatan efek (awitan kerja), puncak efeknya, dan lamanya efek itu bertahan (durasi). Insulin juga diklasifikasi sebagai insulin kerja cepat, insulin kerja menengah, dan insulin kerja lama. Makanan seperti karbohidrat dan aktivitas (gerak badan) perlu disesuaikan dengan efek (kerja) insulin agar insulin tetap tersedia untuk metabolisme yang optimal ketika makanan telah diabsorbsi oleh gastrointestinal dan makanan tetap tersedia ketika efek insulin sedang berlangsung untuk menghindari hipoglikemia.(Nazir et al., 2018)

Pada individu tanpa diabetes, insulin dikeluarkan oleh pankreas dalam dua cara, yaitu basal dan prandial. Insulin dikeluarkan secara basal dalam keadaan puasa dan diantara waktu makan untuk mengendalikan haluaran glukosa hepatik. Juga, pada individu tanpa diabetes, kadar counterregulatory hormone sangat minim dengan kadar glukosa darah juga berada pada titik sangat rendah selama diantara tengah malam dan pukul 02.00. Setelah pukul 03.00-04.00, ada peningkatan counterregulatory hormone yang menyebabkan haluaran glukosa hepatik juga meningkat, yang bisa berlangsung sampai pukul 10.00-11.00. Untuk mempertahankan keadaan euglikemia, kadar glukosa darah yang normal, pankreas meningkatkan sekresi insulin sebanyak 50%.(Nazir et al., 2018)
             Secara prandial, insulin dikeluarkan oleh pankreas sebagai respons terhadap asupan karbohidrat. Pankreas menyesuaikan jumlah insulin yang dikeluarkan dengan jumlah asupan karbohidrat.(Nazir et al., 2018)

          Terdapat beberapa macam obat anti hiperglikemik oral:
a.  Golongan insulin sensitizing
     1. Biguanid Saat ini golongan biguanid yang banyak dipakai adalah metformin. Metformin terdapat dalam konsentrasi yang tinggi di dalam usus dan hati, tidak dimetabolisme tetapi secara cepat dikeluarkan melalui ginjal. Proses tersebut berjalan dengan cepat sehingga metformin biasanya diberikan dua sampai tiga kali sehari kecuali dalam bentuk extendend release. Setelah diberikan secara oral, metformin akan akan mencapai kadar tertinggi dalam darah setelah 2 jam dan diekskresi lewat urin dalam keadaan utuh dengan waktu paruh 2,5 jam.(Nazir et al., 2018)
      2. Glitazone diabsorbsi dengan cepat dan mencapai konsentrasi tertinggi terjadi setelah 1-2 jam. Makanan tidak mempengaruhi farmakokinetik obat ini. Waktu paruh berkisar antara 3-4 jam bagi rosiglitazone dan 3-7 jam bagi pioglitazon.(Nazir et al., 2018)
b.  Golongan sekretagok insulin
Sulfonilurea
 Sulfonilurea sering digunakan sebagai terapi kombinasi karena kemampuannya untuk meningkatkan atau mempertahankan sekresi insulin. Obat golongan ini umumnya mempunyai sifat farmakologis yang serupa, demikian juga efek klinis dan mekanisme kerjanya. Efek akut obat golongan sulfonilurea berbeda dengan efek pada pemakaian jangka lama. Glibenklamid misalnya mempunyai masa paruh 4 jam pada pemakaian akut, tetapi pada pemakaian jangka lama > 12 minggu, masa paruhnya memanjang sampai 12 jam. (Bahkansampai > 20 jam pada pemakaian kronik dengan dosis maksimal). Karena itu dianjurkan untuk memakai glibenklamid sehari sekali.(Nazir et al., 2018)
Glinid Mekanisme
              Glinid Mekanisme kerja glinid juga melalui reseptor sulfonilurea (SUR) dan mempunyai struktur yang mirip dengan sulfonilurea, perbedaannya dengan SU adalah masa kerjanya lebih pendek. Mengingat lama kerjanya yang pendek maka glinid digunakan sebagai obat prandial. Repaglinid dan nateglinid kedua-duanya diabsorbsi dengan cepat setelah pemberian secara oral dan cepat dikeluarkan melalui metabolisme dalam hati sehingga diberikan dua sampai tiga kali sehari. Repaglinid dapat menurunkan glukosa darah puasa walaupun mempunyai masa paruh yang singkat karena lama menempel pada kompleks SUR sehingga dapat menurunkan ekuivalen HbA1c.(Nazir et al., 2018)
 Sedang nateglinid mempunyai masa tinggal lebih singkat dan tidak menurunkan kadar glukosa darah puasa. Sehingga keduanya merupakan sekretagok yang khusus menurunkan glukosa postprandial dengan efek hipoglikemik yang minimal. Mengingat efeknya terhadap glukosa puasa tidak begitu baik maka glinid tidak begitu kuat menurunkan HbA1c.(Nazir et al., 2018)
Penghambat alfa glukosidase Acarbose
         Penghambat alfa glukosidase Acarbose hampir tidak diabsorbsi dan bekerja lokal pada saluran pencernaan. Acarbose mengalami metabolisme di dalam saluran pencernaan, metabolisme terutama oleh flora mikrobiologis, hidrolisis intestinal dan aktivitas enzim pencernaan. Waktu paruh eliminasi plasma kira-kira 2 jam pada orang sehat dan sebagian besar diekskresi melalui feses. Obat ini bekerja secara kompetitif menghambat kerja enzim alfa glukosidase di dalam saluran cerna sehingga dengan demikian dapat menurunkan penyerapan glukosa dan menurunkan penyerapan glukosa dan menurunkan hiperglikemia postprandial. Obat ini bekerja di lumen usus dan tidak menyebabkan hipoglikemia dan juga tidak berpengaruh pada kadar insulin.(Nazir et al., 2018)

 F. Komplikasi
Komplikasi akut
            Diabetes ketoasidosis. Ketoasidosis diabetik adalah akibat yang berasal dari defisit insulin yang berat pada jaringan adiposa, otot skletal, dan hepar. Jaringan tersebut termasuk sangat sensitif terhadap kekurangan insulin. DKA dapat dicetuskan oleh infeksi (penyakit).(Nazir et al., 2018).
Komplikasi kronis 
Klasifikasi komplikasi kronis adalah mikrovaskular (menyangkut pembuluhh darah kecil) dan makrovaskular (menyangkut pembuluh darah besar). Komplikasi ini adalah akibat lama dan beratnya hiperglikemia. Perubahan pada pembuluh darah mengakibatkan retinopati diabetik, nefropati diabetik, neuropati perifer dan autonomik, penyakit vaskular perifer, penyakit serebrovaskular (stroke), serta penyakit arteri koroner. Komplikasi mikrovaskular dari DM tipe 1 jarang ditemukan dalam 5-10 tahun setelah penyakit diketahui.(Nazir et al., 2018)
Komplikasi Diabetes Melitus kronis meliputi: Retinopati diabetik, nefropatik diabetik, neuropati diabetik, dislipidemia, kaki diabetik.(Nazir et al., 2018)

G.Tanaman Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.)
Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) 
          Pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) termasuk genus Pandanus dari suku Pandanaceae. Suku Pandanaceae mempunyai marga antara 200 hingga 300 jenis, terbagi dalam tiga marga utama, yaitu Pandanus, Freycinetia, dan Sararanga, yang tersebar di daerah tropika, di tepi-tepi pantai dan sungai-sungai.(Nazir et al., 2018)
Pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) adalah tanaman asli indonesia yang berasal dari Bangka dan tersebar luas di daerah Asia Tenggara. Budidaya tanaman ini umumnya dilakukan di pekarangan rumah, disamping untuk tumbuhnya tidak membutuhkan tanah yang luas juga memudahkan sewaktu pemetikan karena daun pandan wangi sering dimanfaatkan sebagai pewangi dan pemberi zat warna hijau pada makanan dan minuman. Bagi pencinta flavor dan zat warna alami, daun pandan wangi merupakan salah satu alternatif yang aman untuk dikonsumsi(Nazir et al., 2018)
Tanaman ini mempunyai daun yang selalu hijau sepanjang tahun.Batangnya bulat, dapat tunggal atau bercabang-cabang dan mempunyai akar udara atau akar tunjang yang muncul pada pangkal batang. Helaian daun berbentuk pita, memanjang, tepi daun rata, ujung daun meruncing. Daun berwarna hijau dan tersusun secara spiral.(Nazir et al., 2018)

Klasifikasi Klasifikasi
      Klasifikasi Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) adalah sebagai berikut:
 
Kingdom :Plantae
Subkingdom : Tracheobionta 
Superdivisi I : Spermatophyta 
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida 
Ordo : Pandanales
Famil : Pandanaceae
Genus : Pandanus
Spesies : Pandanus amaryllifolius Roxb.



Morfologi 
Pandan wangi adalah jenis tanaman monokotil dari famili Pandanaceae. Daunnya merupakan komponen penting dalam tradisi masakan Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.(Nazir et al., 2018)
           Tanaman ini adalah tanaman perdu tahunan dengan tingi 1-2 m. Batang berbentuk bulat dengan bekas duduk daun, bercabang, menjalar, serta akar tunggang keluar di sekitar pangkal batang dan cabang. Daun tunggal, duduk dengan pangkal memeluk batang, dan tersusun berbaris tiga dalam garis spiral. Daun berbentuk pita, tipis, licin, ujung runcing, tepi rata, bertulang sejajar, lebar 3-5 cm, panjang 40-80 cm, berduri tempel pada ibu tulang daun permukaan bawah bagian ujung-ujungnya, dan berwarna hijau. Bunga majemuk, berbentuk bongkol, dan berwarna putih. Buah batu, berbentuk bola, tumbuh menggantung, diameter 4-7,5 cm, dinding buah berambut, dan berwarna jingga.(Nazir et al., 2018)
Kandungan
       Daun pandan wangi memiliki berbagai kandungan kimia dengan aktivitas farmakologi yang beragam. Bagian daun dari tanaman pandan wangi memiliki aroma khas, yang diketahui berasal dari kandungan senyawa 2-acetyl-1-pyrroline (ACPY). Senyawa ini juga terdapat pada tanaman melati, hanya saja memiliki konsentrasi yang lebih rendah dibandingkan pada tanaman pandan wangi.(Nazir et al., 2018)
Daun pandan wangi mengandung senyawa kimia seperti alkaloid saponin,polifenol, flavonoid, kumarin, terpen dan terpenoid, essential oils, karotenoids, kuercetin. Beberapa golongan alkaloid yang ditemukan pada ekstrak daun pandan wangi yaitu norpandamarilactonineA,-B, pandamarilactam, pandamarilacton-1, pandamarine, pandanamine, pandamarilactonine, serta piperidin.Daun pandan wangi juga memiliki kandungan flavonoid yang cukup tinggi dimana hasil maserasi daun pandan wangi dengan etanol 96% mengandung kadar fenolik total sebesar 478,762 mg/g dan kadar flavonoid total 99,408 mg/g.(Nazir et al., 2018)
Manfaat
 Daun pandan wangi juga merupakan komponen cukup penting dalam tradisi boga Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya sebagai pewangi makanan karena aroma yang dihasilkannya. Ada yang suka mencampur lembaran daunnya bersama beras yang dimasak agar nasi yang dihasilkan lebih beraroma. Daun pandan juga dipakai untuk pengharum kue atau makanan basah tradisional. Selain sebagai pengharum kue, daun pandan juga dipakai sebagai sumber warna hijau bagi makanan, sebagai komponen hiasan penyajian makanan, dan juga sebagai bagian dalam rangkaian bunga di pesta perkawinan untuk mengharumkan ruangan. Pandan wangi selain sebagai rempah-rempah juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan minyak wangi. Irisan daun pandan muda dicampur bunga mawar, melati, cempaka dan kenanga, sering diselipkan di sanggul supaya rambut menjadi harum, atau diletakkan di antara pakaian dalam lemari. Daun pandan yang diiris kecil juga digunakan untuk campuran bunga rampai atau bunga tujuh rupa.(Nazir et al., 2018)
Daun pandan wangi juga memiliki kandungan alkaloid, saponin, flavonoid, tanin, polifenol, dan zat warna. Masing-masing senyawa kimia tersebut dapat membantu menurunkan kadar gula darah dalam tubuh pada saat 4 jam setelah pemberian pandan wangi. Tanin memacu metabolisme glukosa dan lemak, digunakan untuk mencegah timbunan glukosa dan lemak di darah. Alkaloid meningkatkan sekresi hormon pertumbuhan, menurunkan glukoneogenesis, meningkatkan kebutuhan insulin dan kadar glukosa darah turun. Flavonoid akan menghambat GLUT 2 mukosa usus yang menyebabkan kadar glukosa darah akan turun.(Nazir et al., 2018)

H. prosedur pemberian air rebusan daun pandan
1. Alat dan Bahan
 a. Glucometer 
 b. Gelas ukur
 c. Gelas Plastik 
 d. Akuades
 e. Daun pandan wangi
 f. Air putih

2. Cara Kerja.
          Persiapan air rebusan dengan menyediakan daun pandan wangi 162 mg lalu di cuci sampai bersih. Masukkan daun pandan wangi ke dalam gelas ukur dengan mencampurkan air sebanyak 400 mL. Rebus hingga hingga mencapai 200 mL. Perebusan dilakukan dengan suhu 100oC.(Nazir et al., 2018)









BAB III
PENUTUP


Kesimpulan
 Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa air rebusan daun pandan wangi berpengaruh dalam penurunan kadar gula darah penderita Diabetes Melitus. 5.2

Saran
Diharapkan tulisan ini dapat menambah pengetahuan masyarakat mengenai Diabetes Melitus dan manfaat air rebusan daun pandan wangi dalam menurunkan kadar gula darah.




















DAFTAR PUSTAKA


Nazir, M. S., Wahjoedi, B. A., Yussof, A. W., Abdullah, M. A., Singh, A., da Cunha, S., … Access, O. (2018). No Title膠原病 ・ 血管炎にともなう皮膚潰瘍診療ガイドライン. Spectrochimica Acta - Part A: Molecular and Biomolecular Spectroscopy, 192(4), 121–130. Retrieved from http://ec.europa.eu/energy/res/legislation/doc/biofuels/2006_05_05_consultation_en.pdf%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.saa.2017.10.076%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.biortech.2018.07.087%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.fuel.2017.11.042%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.
Nazir, M. S., Wahjoedi, B. A., Yussof, A. W., Abdullah, M. A., Singh, A., da Cunha, S., … Access, O. (2018). No Title膠原病 ・ 血管炎にともなう皮膚潰瘍診療ガイドライン. Spectrochimica Acta - Part A: Molecular and Biomolecular Spectroscopy, 192(4), 121–130. Retrieved from http://ec.europa.eu/energy/res/legislation/doc/biofuels/2006_05_05_consultation_en.pdf%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.saa.2017.10.076%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.biortech.2018.07.087%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.fuel.2017.11.042%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.

ASKEP KELUARGA LAUNCING CENTER

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TN.S
PADA TAHAP PERKEMBANGAN
LAUNCING CENTER



DOSEN MATA KULIAH
Diah Indriastuti, S,Kep., Ns., M.Kep


SUMIATIN
 S.0017.P.036





SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
KARYA KESEHATAN KENDARI
PRODI S1 KEPERAWATAN
KENDARI
2021




KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT,Karena berkat  rahmat-Nya  kami dapat menyelesaikan penyusunan Asuhan Keperawatan ini tepat pada waktunya. Terlantun solawat serta salam buat untuk imam besar  kita semua Nabi Muhammad SAW.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan Asuhan Keperawatan ini masih banyak kekurangan, baik dari segi isi maupun redaksinya. Asuhan Keperawatan ini masih jauh dari kesempurnaan karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dapat menyusun Asuhan Keperawatan yang lebih baik di masa yang akan datang. Semoga Asuhan keperawatan ini bermanfaat untuk memberikan kontribusi  bagi kita dalam memajukan ilmu keperawatan.




Kendari, 18  February 2021



Penyusun












DAFTAR  ISI


Contents
    
KATA PENGANTAR 2
DAFTAR  ISI 3
BAB 1 4
PENDAHULUAN 4
A. Latar belakang 4
B. Tujuan 5
C. Manfaat 5
BAB II 6
TINJAUAN  TEORI 6
A. Definisi 6
B. Tipe Keluarga 6
D. Tugas Kesehatan Keluarga 11
E. Tahap-tahap Perkembangan Keluarga 12
F. Definisi Tahap Perkembangan L unching Center 12
G. Tugas Keluarga pada Tahap Perkembangan L aunching C enter 13
H. Mayoritas Masalah Kesehatan pada Tahap Perkembangan Launching center 13
I.  Peran Perawat pada Keluarga 13
BAB III 16
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA 16
A. PENGKAJIAN KELUARGA 16
B. PENGKAJIAN INDIVIDU 17
D.  Struktur keluarga 23
E. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga 23
F. Status sosial ekonomi keluarga 24
G. Fungsi keluarga 24
H. Koping keluarga 24
I.   Aktivitas rekreasi keluarga 25
J.  Harapan keluarga 25
K. Tingkat kemandirian keluarga 25
L.  Analisa data 27
M.  Rumusan masalah 28
N. Intervensi kesehatan 28
O. Evaluasi 31
PENUTUP 33
A. Kesimpulan 33
B. Saran 33
DAFTAR PUSTAKA 34













BAB 1
PENDAHULUAN

Latar belakang

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga
dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal disuatu tempat dibawah satu atap dan keadaan saling ketergantungan (Departemen Kesehatan). Keluarga adalah dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan-ikatan kebersamaan, ikatan emosional dan yang mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian dari keluarga . Keluarga adalah dua orang atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan.
Asuhan keperawatan keluarga digunakan untuk membantu menyelesaikan
masalah kesehatan keluarga dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan. Agar pelayanan kesehatan yang diberikan dapat diterima oleh keluarga, maka perawat harus mengerti, memahami tipe dan struktur keluarga, mengetahui tingkat pencapaian keluarga dalam melakukan fungsinya dan perlu paham setiap tahap perkembangan keluarga dan tugas perkembangannya.(Keluarga, 2019) 
Status sehat atau sakit dalam keluarga saling mempengaruhi satu sama lain.
Suatu penyakit dalam keluarga mempengaruhi seluruh keluarga dan sebaliknya mempengaruhi jalanya suatu penyakit dan status kesehatan anggota keluarga. Keluarga cenderung dalam pembuatan keputusan dan proses terapeutik pada setiap tahap sehat dan sakit pada para anggota keluarga. Keluarga merupakan para anggota sebuah keluarga baiasanya hidup bersama-sama dalam satu rumah tangga, atau jika mereka hidup secara terpisah, mereka tetap menganggap rumah tangga tersebut sebagai rumah tangga mereka(Keluarga, 2019)
Pada keluarga dewasa merupakan tahap dimana semua anak akan pergi atau
keluar meninggalkan rumah atau orang tuanya. Didalam kehidupan keluarga dewasa dimana orang tuanya akan merasa banyak kehilangan karena perginya anak-anak dari rumah. Pada keluarga ini juga terdapat berbagai masalah yang dialami oleh keluarga itu sendiri. Dan perawat sangat berperan penting dalam memenuhi kebutuhan yang berkaitan dengan kesehatan kepada keluarga.
Fase kehidupan keluarga ini ditandai oleh puncak tahun-tahun persiapan bagi anak
yang telah siap untuk kehidupan dewasa yang mandiri. Orang tua, pada saat mereka melepaskan anak-anaknya pergi, melepaskan peran mereka sebagai orang tua yang telah dijalankan selama 20 tahun atau lebih dan mereka kembali ke pasangan hikdup mereka. Tugas perkembangan keluarga sangat penting jika keluarga berpindah dari rumah tangga dengan anak ke rumah tangga dengan pasangan suami-istri. Tujuan utama keluarga adalah menata ulang keluarga ke dalam unit berkelanjutan ketika melepaskan dewasa muda yang telah dewasa ke dalam kehidupan mereka sendiri (Duvall & Miller, 1985). Selama tahap ini, pasangan baru dapat memikul peran sebagai kakek/nenek-perubahan lain dalam peran dan citra diri mereka.(Jhonson L, 2010)
Keluarga mempunyai tahap perkembangan sebagaimana layaknya individu, perkembangan itu terutama dalam hal besarnya keluarga dan kemampuannya, mulai dari pasangan yang baru menikah, baru memiliki anak, memiliki anak remaja, memiliki anak remaja, memiliki anak dewasa, sampai salah satu anggota keluarganya meninggal dunia 


Tujuan
Untuk mengetahui dan memahami bagaimana asuhan keperawatan pada keluarga pada tahap perkembangan launching center family.

Manfaat

 Bagi mahasiswa, makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan reverensi untuk materi Tahap perkembangan launching center family 
Bagi masyarakat, makalah ini dapat memberikan edukasi tentang Tahap perkembangan launching center family




BAB II
TINJAUAN  TEORI

Konsep keluaga
Definisi 
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga
dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap           dalam keadaan saling ketergantungan.
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga
dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. (Effendy, 1998). Dapat disimpulkan bahwa karakteristik keluarga adalah (Salafudin,2005) :
1. Terdiri dari dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan atau adopsi.
2. Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka tetap memperhatikan satu sama lain.
3. Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai peran sosial : suami, istri, anak, kakak dan adik.
4. Mempunyai tujuan : menciptakan dan mempertahankan budaya, meningkatkan perkembangan fisik, psikologis, dan sosial anggota.

Tipe Keluarga
Dalam (Murwani, 2007)  di sebutkan beberapa tipe keluarga yaitu  :
1)   Tipe Keluarga Tradisional
1.  Keluarga Inti (Nuclear Family), adalah keluarga yang  terdiri  dari ayah,  ibu dan anak-anak.
2.  Keluarga Besar (Exstended Family), adalah keluarga inti  di  tambah dengan sanak saudara, misalnya nenek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi  dan sebagainya.
3.  Keluarga “Dyad” yaitu  suatu  rumah tangga yang  terdiri  dari  suami  d an  istri tanpa  anak.
4.  “Single   Parent” yaitu   suatu   rumah tangga yang   terdiri   dari  satu  orang   tua (ayah/ibu) dengan anak  (kandung/angkat). Kondisi ini  dapat  disebabkan oleh perceraian atau kematian.
5.  “Single   Adult”  yaitu  suatu  rumah tangga yang  hanya   terdirise orang   dewasa (misalnya seorang yang  telah  dewasa kemudian tinggal kost untuk  bekerja atau kuliah)
       
2.) Tipe Keluarga Non Tradisional
1.   The Unmarriedteenege mather
Keluarga yang  terdiri  dari  orang  tua  (terutama ibu)  dengan anak  dari hubungan tanpa  nikah
2.   The Stepparent Family
Keluarga dengan orang  tua tiri.
3.   Commune Family
Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada hubungan saudara hidup   bersama dalam   satu  rumah, sumber dan  fasilitas yang  sama, pengalaman yang  sama  : sosialisasi anak  dengan melelui aktivitas kelompok atau membesarkan anak  bersama.
4.   The Non Marital Heterosexual Conhibitang Family
Keluarga yang   hidup   bersama dan  berganti  –  ganti   pasangan tanpa melelui pernikahan.
5.   Gay And Lesbian Family
Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup  bersama sebagaimana suami  – istri (marital partners).
6.   Cohibiting Couple
Orang   dewasa yang  hidup   bersama diluar   ikatan   perkawinan karena beberapa alasan  tertentu.
7.   Group-Marriage Family
Beberapa orang  dewasa menggunakan alat – alat rumah tangga bersama yang   saling   merasa sudah   menikah, berbagi sesuatu termasuk seksual dan membesarkan anaknya.
8.   Group Network Family
Keluarga inti yang  dibatasi aturan  atau nilai  – nilai,  hidup  bersama atau berdekatan satu sama  lainnya dan sali ng menggunakan barang – barang rumah tangga bersama, pelayanan dan tanggung jawab  membesarkan anaknya.
9.   Foster Family
Keluarga  menerima  anak   yang   tidak   ada   hubungan  keluarga  atau saudara didalam waktu   sementara, pada  saat  orang   tua  anak  tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk  menyatukan kembali keluarga yang aslin ya.
   10. Homeless Family
Keluarga  yang   terbentuk  dan   tidak   mempunyai  perlindungan    yang permanent karena kris is personal yang  dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental.
11. Gang
Sebuah bentuk keluarga yang  destruktif dari  orang- orang  muda  yang mencari ikatan  emosional dan keluarga yang  mempunyai perhatian tetapi berkembang dalam  kekerasan dan criminal dalam  kehidupannya.

C . Fungsi Keluarga
Friedman, (2010) mengidentifikasi 5 fungsi  dasar  keluarga, yaitu:
1) Fungsi Afektif
Fungsi  afektif  berhubungan  erat   dengan  fungsi    internal  keluarga,  yang merupakan basis  kekuatan keluarga. Fungsi afektif berguna untuk  pemenuhan kebutuhan psikososial. Keberhasilan melaksanakan fungsi  afektif tampak pada kebahagiaan dan kegembiraan dari seluruh anggota keluarga. Tiap anggota keluarga saling  mempertahankan iklim  yang  positif. Hal tersebut dapat  dipelajari dan dikembangkan melalui interaksi dan  hubungan dalam  keluarga. Dengan demikian, keluarga yang berhasil melaksanakan fungsi  afektif, s eluruh anggota keluarga dapat mengembangkan konsep diri positif. Komponen yang  perlu  dipenuhi oleh  keluarga dalam  melaksanakan fungsi  afektif adalah :
1.  Saling mengasuh : cinta kasih,  kehangatan, saling  menerima, saling  mendukung antar  anggota keluarga, mendapatkan kasih  sayang dan dukungan dari anggota yang  lain akan  meningkatkan kemampuannya untuk  memberikan kasih  sayang yang pada akhirnya akan tercipta hubungan yang hangat dan saling  mendukung. Hubungan intim  didalam keluarga merupakan modal  dasar dalam  memeberikan hubungan dengan orang  lain diluar  keluarga/ masyarakat.
2.  Saling menghargai. Anggota keluarga yang  saling  menghargai dan  mengakui keberadaan dan hak setiap  anggota keluarga serta selalu  mempertahankan iklim
yang  positif, maka  fungsi  afektif akan  tercapai.
3.  Ikatan  dan identifikasi ikatan  keluarga dimulai seja k pasangan sepakat memulai hidup   baru.   Ikatan   antar   anggota  keluarga  dikembangkan  melalui  proses identifikasi dan penyesuaian pada  berbagai aspek  kehidupan anggota keluarga. Orang   tua  harus   mengembangkan  proses identifikasi  yang   positif sehingga anakanak dapat  meniru tingkah laku yang  positif dari kedua  orang  tuanya.Fungsi  afektif  merupakan  “sumber  energi”  yang   menentukan  kebahagiaan
keluarga.  Keretakan  keluarga,  kenakalan  anak   atau   masalah  keluarga,  timbul karena fungsi  afektif di dalam  keluarga tidak  dapat  t erpenuhi.
2) Fungsi Sosialisasi
Sosialisasi adalah proses perkembangan dan  perubahan yang  dilalui individu, yang  menghasilkan interaksi sosial  dan  belajar berperan dalam  lingkungan sosial. Sosialisasi dimulai sejak  manusia lahir.  Keluarga merupakan tempat individu untuk belajar bersosialisasi, misaln ya anak  yang  baru  lahir dia akan  menatap ayah,  ibu, dan orang-orang yang   ada  di  sekitarnya Kemudian beranjak balita   dia  mulai   belajar

bersosialisasi  dengan lingkungan sekitar meskipun demikian keluarga tetap  berperan penting dalam   bersosialisasi.  Keberhasilan  perkembangan  individu  dan   keluarga dicapai melalui interaksi atau  hubungan antar  anggota keluarga yang  diwujudkan dalam  sosialisasi.
3) Fungsi Reproduksi
Keluarga berfungsi untuk  meneruskan keturunan dan  menambah sumber daya manusia. Maka  dengan ikatan  suatu  perkawinan yang  sah,  selain  untuk  memenuhi kebutuhan biologis pada  pasangan tujuan  untuk  membentuk keluarga adalah untuk meneruskan keturunan.
4) Fungsi Ekonomi
Fungsi  ekonomi  merupakan  fungsi   keluarga  untuk   memenuhi  kebutuhan seluruh anggota keluarga seperti memenuhi kebutuhan akan  makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Banyak pasangan sekarang kita  lihat  dengan penghasilan yang  tidak seimbang antara  suami  dan ist ri, hal ini menjadikan permasalahan yang berujung pada perceraian.
5) Fungsi Perawatan Kesehatan
Keluarga juga  berperan atau  berfungsi untuk   melaksanakan praktek asuhan kesehatan, yaitu  untuk  mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan  atau  merawat anggota  keluarga  yang   sakit.   Kemampuan keluarga dalam memberikan  asuhan kesehatan   mempengaruhi status  kesehatan   keluarga.   Kesanggupan   keluarga
melaksanakan pemeliharaan kesehatan dapat  dilihat dari  tugas  kesehatan keluarga yang   dilaksanakan.  Keluarga  yang   dapat   melaksanakana  tugas   kesehatan  berarti sanggup menyelesaikan masalah kesehatan   
Tugas Kesehatan Keluarga
Menurut Freeman (1981) terdapat lima tugas  kesehatan keluarga, diantaranya:
Mengenal masalah kesehatan setiap  anggotanya
Orangtua  perlu   mengenal keadaan kesehatan dan  perubahan-perubahan yang  dialami anggota keluarga. Perubahan sekecil apapun yang  dialami anggota keluarga secara  tidak  langsung menjadi perhatian dan  tanggung jawab  keluarga, maka  apabila menyadari adanya perubahan perlu  segera dicatat kapan  terjadinya, perubahan apa yang  terjadi dan seberapa besar  perubahannya (Setiadi, 2006).
2.   Mengambil  keputusan  untuk   melakukan  tindakan  kesehatan  yang   tepat   bagi keluarga
Tindakan kesehatan yang  dilakukan oleh  keluarga diharapkan tepat  agar masalah kesehatan dapat  dikurangi atau bahkan teratasi. Jika keluarga mempunyai keterbatasan dapat  meminta bantuan kepada orang  di lingkungan sekitar keluarga (Setiadi, 2006).
3.   Memberikan  perawatan  anggota  keluarga  yang   sakit   atau   yang   tidak   dapat membantu dirinya sendiri karena cacat  atau usianya yang  terlalu muda
Perawatan ini dapat  dilakukan di rumah apabila keluarga memiliki kemampuan  melakukan  tindakan  untuk   memperoleh  tindakan  lanjutan  agar masalah yang  lebih  parah  tidak  terjadi (Setiadi, 2006).
4.   Mempertahankan    suasana    rumah    yang     menguntungkan    kesehatan    dan perkembangan kepribadian anggota keluarga
Keluarga memainkan peran  yang  bersifat mendukung anggota keluarga yang  sakit.  Dengan kata  lain  perlu  adanya sesuatu kecocokan yang  baik  antara kebutuhan keluarga dan  asupan sumber lingkungan bagi  pemeliharaan kesehatan anggota keluarga (Friedman, 1998).
5.   Mempertahankan hubungan timbal balik  antara  keluarga dan  lembaga kesehatan (pemanfaatan fasilitas kesehatan yang  ada) Hubungan yang  sifatnya positif akan  memberi pengaruh yang  baik  pada keluarga mengenai fasilitas kesehatan. Diharapkan dengan hubungan yang  positif terhadap pelayanan kesehatan akan   merubah setiap   perilaku  anggota  keluarga mengenai sehat  sakit (Friedman, 1998).

Tahap-tahap Perkembangan Keluarga
Perkembangan keluarga adalah proses perubahan yang  terjadi pada sistem keluarga yang meliputi perubahan pola interaksi dan hubungan antara  anggotanya disepanjang waktu.

 1.   Tahap  I pasangan baru atau keluarga baru (beginning family).
2.   Tahap  II keluarga dengan kelahiran anak  pertama (child  bearing family).
 3.   Tahap  III keluarga dengan anak  prasekolah (families with preschool).
4.   Tahap  IV keluarga dengan anak  usia sekolah (families with children).
5.   Tahap  V keluarga dengan anak  remaja (families with teenagers).
6.   Tahap  VI keluarga dengan anak  dewasa atau pelepasan (launching center family).
7.   Tahap  VII keluarga usia pertengahan (middle age families).
8.   Tahap  VIII keluarga usia lanjut

Definisi Tahap Perkembangan L unching Center 
Tahap  launching center family yaitu  tahap  ketika  keluarga melepas anak  usia dewasa muda  yang  ditandai oleh  anak  pertama meninggalkan rumah orang  tua  dan berakhir dengan “rumah kosong”, ketika  anak  terakhir meninggalkan rumah. Tahap  ini dapat  singkat atau  agak  panjang, tergantung pada  berapa banyak anak  yang  belum menikah yang  masih   tinggal di  rumah. Fase  ini  ditandai oleh  tahun-tahun puncak persiapan dari  dan  oleh   anak-anak untuk   kehidupan dewasa  yang  mandiri. Tugas pengembangan keluarga yang  dihadapi adalah mempersiapkan diri  untuk   ditinggal anak-anak, mempersiapkan diri untuk  berkomunikasi dengan anak-anak sebagai orang dewasa, lebih   meningkatkan  hubungan  suami   istri  dan  mempersiapkan diri  untuk menjadi mertua, kakek, nenek  yang baik
Tugas Keluarga pada Tahap Perkembangan L aunching C enter 
Ada beberapa tugas  perkembangan pada fase ke IV atau pada launching center  family, yaitu  :
1.  Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar;
2.  Mempertahankan keintiman pasangan;
3.  Membantu orang  tua memasuki masa  tuanya;
4.  Membantu anak  untuk  mandiri di masyarakat;
5.  Penataan kembali peran  dan kegiatan rumah tangga.

Mayoritas Masalah Kesehatan pada Tahap Perkembangan Launching center 
Masalah-masalah yang  sering  muncul pada anak-anak usia dewasa, pada t ahap  ini adalah :
1.   Masalah medis  :  Akne,  dysmenorrhea dan masalah yang  berhubungan dengan seks seperti penyakit kelamin dan kehamilan yang  tak diinginkan.
2.   Masalah emosional Psikosomatis yang berhubungan dengan pekerjaan baru, depresi karena penyesuaian  terhadap  lingkungan  baru  dan  ekspektasi dari  orang-orang terdekat.
3.   Masalah sosial  Tekanan dari  teman-teman dalam  penggunaan alkohol, merokok, tekanan dari pacar  untuk  menikah.
Pada  saat anak-anak beranjak dewasa, pasangan tersebut mulai  memasuki usia pertengahan dan  orang   tua  mereka memasuki usia  lanjut. Masalah-masalah terkait tanda-tanda  premenopause pada  orang  tua.  Dan  juga  masalah sosial  dan  emosional, terkait krisis  usia  pertengahan pada orang  tua
I.  Peran Perawat pada Keluarga
1.   Pendidik
Perawat perlu  memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga agar :
a) Keluarga  dapat   melakukan  program  asuhan  kesehatan  keluarga  secara mandiri
b)   Bertanggung jawab  terhadap masalah kesehatan keluarga
2.   Koordinator
Diperlukan pada  perawatan berkelanjutan agar  pelayanan yang  komprehensif dapat tercapai. Koordinasi juga sangat diperlukan untuk mengatur program kegiatan atau   terapi   dari   berbagai  disiplin  ilmu   agar   tidak   terjadi  tumpang  tindih   dan pengulangan
3.   Pelaksana
Perawat yang  bekerja dengan klien  dan keluar ga baik di rumah, klinik  maupun di rumah sakit  bertanggung jawab  dalam  memberikan perawatan langsung.Kontak pertama perawat kepada keluarga melalui anggota keluarga yang  sakit.  Perawat dapat  mendemonstrasikan  kepada keluarga asuhan keperawatan yang  diberikan dengan harapan keluarga nanti  dapat  melakukan asuhan langsung kepada anggota keluarga yang  sakit
4.   Pengawas kesehatan
Sebagai  pengawas  kesehatan,  perawat  harus   melakukan  home   visite atau kunjungan rumah yang  teratur untuk mengidentifikasi atau  melakukan pengkajian tentang kesehatan keluarga.
5.   Konsultan
Perawat  sebagai  narasumber  bagi   keluarga  di   dalam   mengatasi  masalah kesehatan. Agar  keluarga mau  meminta nasehat kepada perawat, maka  hubungan perawat-keluarga harus  dibina  dengan baik,  perawat harus  bersikap terbuka dan dapat  dipercaya.
6.   Kolaborasi
Perawat juga  harus  bekerja dama  dengan pelayanan rumah sakit  atau  anggota tim kesehatan yang  lain untuk  mencapai tahap  kesehatan keluarga yang  optimal
7.   Fasilitator
Membantu keluarga dalam  menghadapi kendala untuk  meningkatkan derajat kesehatannya.  Agar   dapat   melaksanakan  peran   fasilitator  dengan  baik,   maka perawat komunitas harus  mengetahui sistem pela yanan  kesehatan (sistem rujukan, dana  sehat,  dll)
8.   Penemu kasus
Mengidentifikasi masalah kesehatan secara  dini,  sehingga tidak  terjadi ledakan atau wabah.
9.   Modifikasi lingkungan
Perawat juga harus dapat  mamodifikasi lingkungan, baik lingkungan rumah maupun lingkungan masyarakat, agar dapat  tercipt a lingkungan yang  sehat.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

PENGKAJIAN KELUARGA
DATA UMUM & KONDISI KESEHATAN KELUARGA
Puskesmas
:
Kolono
Alamat 
:
Desa Puupi
Hari/Tanggal Pengkajian
:
Selasa/09 februari 2021

Nama KK 
:
Tn.S
Usia
:  
56tahun




Pendidikan
:
SMA
Pekerjaan
:
Petani





Komposisi Keluarga : 
No
Nama                                                                                                      Anggota Keluarga
Hub. Keluarga
L/P
Umur (th)
Pendidikan
Agama
Suku
Pekerjaan
Imunisasi (L/TL)
KB
Alat bantu, ptotesa
Keadaan umum (sehat/tidak sehat)
Riwayat penyakit & alergi

1.
Tn. S
Suami
L
56
SMA
Islam
Bugis
Petani
Lengkap
Tidak
Tidak ada
Sehat
Asma

2.
Ny. Y
Istri
P
53
SMP
Islam
Bugis
IRT
Lengkap
Tidak
Tidak ada
Sehat
Tidak ada

3.
Nn. N
Anak
P
20
SMA
Islam
Bugis
Tidak kerja
Lengkap
Tidak
Tidak ada
Sehat
Tidak ada



Jarak Untuk Mencapai Pelayanan Kesehatan Terdekat
Fasilitas Kesehatan

Jarak

Cara tempuh

Puskesmas
:
900 meter

Motor 
roda 2
:


Puskesmas Pembantu
:
200 meter

Motor
 roda 2
:


Posyandu
:
100 meter

Motor
 roda 2
:



3. Genogram

     4. TipeKeluarga
Keluarga inti

PENGKAJIAN INDIVIDU

No
Data
Tn.S
Ny.Y
Nn.N


Keadaan  umum :
Baik
Baik
Baik


Penampilan
Baik
Baik
Baik


BB
60 kg
65 kg
55 kg


TB
150 cm
170 cm
155 cm


Status Gizi
      Baik
Baik
Baik


Diagnosa medis
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada


Masalah kesehatan yang pernah dialami
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada


Masalah  kesehatan sekarang
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada


Masalah kesehatan yang lalu
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada


Masalah kesehatan keluarga (turunan) 
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada


TTV :





Tekanan darah
110 MmHg
120 MmHg
110 MmHg


Respirasi
24x/menit
20x/menit
20x/menit


Nadi
80x/menit
72x/menit
74x/menit


  3.
Palpebra
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada


Fungsi
Baik 
Baik 
Baik


 4.
Telinga :





Bentuk
Normal 
Normal 
Normal 


Keadaan
Bersih 
Bersih 
Bersih 


Fungsi
Baik 
Baik 
Baik 

 5.
Hidung :





Bentuk
Normal 
Normal 
Normal 


Keadaan
Bersih 
Bersih 
Bersih 


Fungsi
Baik 
Baik 
Baik 

 6.
Mulut :





Gigi
Baik
Baik
Baik


Fungsi menelan
Baik
Baik
Baik


Kelembaban
Baik
Baik
Baik

 7.
Leher :





Pembengkakan kelenjar tiroid
Tidakterdapat pembengkakan
Tidak terdapat pembengkakan
Tidak terdapat pembengkakan

 8.
Dada :





Bentuk
Normal 
Normal 
Normal 


Suara paru
Resonan
Resonan 
Resonan


Respirasi
18X/menit
18X/menit
20X/Menit


Bunyi jantung
S1, S2
S1, S2
S1, S2

9.
Abdomen :





Bentuk
Normal 
Normal
Normal 


Nyeri tekan
Tidak adanyeri
Tidak ada nyeri
Tidak adanyeri

10.
Ekstremitas :





Oedema
Tidak adaoedema
Tidak ada oedema
Tidak ada oedema


Kontraktur
Tidak ada 
Tidak ada 
Tidak ada 

11.
Istirahat dan tidur
Baik
Baik
Baik

12.
Status mental
Baik
Baik
Baik

13.
Kebersihan diri
Bersih
Bersih
Bersih

14.
Sistem respirasi
Tidak adamasalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah

15.
Sistem kardiovaskuler
Tidak adamasalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah

16.
Sistem pencernaan
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah

17.
Sistem urinaria
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah

18.
Sistem integument
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah

19.
Sistem persyarafan
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah

20.
Sistem muskulosketal
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah


Pemeriksaan penunjang bagi yang sakit (lab, radiologi, EKG, USG)
Tidak adapemeriksaan
Tidakada pemeriksaan
Tidak ada pemeriksaan



C.  KESEHATAN  LINGKUNGAN
Karakteristik Rumah

  A)
                                                                                                           E)


B)

                                                                                                           F)
C)


Ket:
     A.  Kamar anak Nn.N
     B.  Kamar mandi
     C.  Kamar Tn.B dan Ny.S
     D.  Ruang keluarga
     E.  Ruang tv
     G. Ruang makan

Tipe Tempat Tinggal
Keluarga sudah memiliki tempat tinggal sendiri

Gambaran kondisi rumah 

Luas ruma keluarga 14x5 m ,kebersihan rumah cukup bersih .

Jenis bangunan

Semi permanen 

Luas bangunan

15x5 m 

Luas pekarangan

 60 m 

Jumlah jendela

4  jendela 

Kondisi ventilasi rumah

Memiliki sirkulasi udara yang baik

Kondisi pencahayaan rumah

Penerangan menggunakan listrik digunakan pada siang dan malam hari karena kurang pencahyaan

Jenis lantai

Lantai tempat tinggal menggunakan tehel

Kebersihan rumah secara keseluruhan 

Kebersihan cukup bersih 

Pengelolaan sampah keluarga

Sampah dibuang digalian dan membakar sampahnya.

Kondisi jamban keluarga

Terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa .

Sumber air bersih dalam keluarga 

Sumber air bersih  keluarga berada disumur dekat rumah.

Jarak sumber air minum dengan septic tank 

 Sekitar 20 m dari tempat keluarga tinggal 

Sumber air minum yang digunakan 

Mengunakan air sumber  kemasan 

Keadaan dapur

Cukup bersih

Pembuangan limbah

Saluran diarahkan menuju kali 

Keamanan lingkungan rumah

Keamanan lingkungan Tn.S  sangat aman 

Perasaan subyektif keluarga terhadap rumah

Perasannya sangat senang, nyaman dan aman berada di tempat tinggalnya 

Pengaturan pengaturan rumah dan privaci

Pengaturannya cukup rapi penempatannya 


Karakteristik Lingkungan dan Komunitas Tempat Tinggal yang lebih luas.
Karakteristik fisik dari lingkungan
    Ditempat tinggal Tn.S jarak antara satu rumah dan lainnya cukup dekat. Keluarga Tn .S sering berinteraksi dan berkomunikasi dengan tetangga sekitar hal ini mendukung karena tetangganya sangat ramah

Karakteristik duemografis dari lingkungan dan komunitas
                     Keluarga Tn.S tidak pernah pandah didesa atau kekota lain 

Bagimana fasilitas-fasilitas mudah diakses atau dijangkau oleh keluarga
     Keluarga Tn.S cukup berperan dalam mengikuti kegiatan .

Tersedianya transportasi umum yang dapat digunakan oleh keluarga dalam mengakses fasilitas yang ada.
       Keluarga Tn.S menggunakan transportasi pribadi  sepeda motor   yang digunakan saat berpergian kemana-mana 

        e.  Mobilitas geografis keluarga
                     
                     menurut klien tidak pernah pindah daerah kota lain .
                    
Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
        Keluarga Tn.S  Mengatakan sering mengikuti majelis.


D.  Struktur keluarga

Pola dan komunikasi keluarga 
    Keluarga Tn. S berkomunikasi degan menggunakan bahasa Bugis dan indonesi tapil bahasa Indonesia  yang lebih sering digunakan.  

Struktur kekuatan keluarga
  Hingga saat ini Tn.S sangat berperan penting dalam mencari nafkah sedangkan anak dan istrinya tidak berkerj
Nilai-Nilai Keluarga
    Nilai-nilai  dan norma yang dianut dua sisih yaitu berdasarkan kebiasaan suku Bugis dalam agama islam. Nilai dan norma yang dimaksud saling menghargai, menghormati, serta saling menjaga kerkunan dalam keluarga dan masyrakat.
 
E. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga

Tahap perkembangan keluarga saat ini
Keluarga Tn.S  memiliki 1 orang putri yang masing-masing sudah memasuki usia dewasa.
Riwayat kesehatan keluarga inti
          Tn.S mengeluh merasakan kaku diseluruh badan dan tidak bias di gerakkan,kepala terasa berat,pusing,demam.

Latar Belakang Budaya Keluarga
     keluarga Tn.S berlatar belakang suku buton,nilai-nilai dalam keluarga pun berdasarkan budaya suku buton.      
F. Status sosial ekonomi keluarga 
  Penghasilan keluarga Tn. S adalah sebesar 1.500.000-2.000.000/bulan ada perubahan penghasilan sejak awal menikah sangat meningkat.
  G. Fungsi keluarga

Fungsi Sosial
Keluarga Tn. S  aktif dalam kegiatan social yang berada dimasyarakat, keluarga tersebut juga aktif berinteraksi dengan masyarakat sekitar. 
Fungsi Perawatan kesehatan
Jika salah satu dalam keluarga Tn.S sakit mereka saling merawat dalam anggota keluarga. Biasanya mereka meminum obat-obatan terlebih dahulu sebagai tindakan pertama. Namun jika keadaan tidak membaik maka mereka akan berobat ke fasilitas kesehatan terdekat.
H. Koping keluarga 

Stresor jangka pendek dan jangka panjang
Terdapat beberapa stressor jangka pendek dalam keluarga Tn. S  bagi Tn. S  pada pekerjaannya. Sedangkan stressor yang dialami oleh Ny. Y paling sering akibat kelelahan dalam mengurus rumah dan stressor yang bagi Nn.N adalah masalah pendidikan .
Kemampuan keluarganya berespon terhadap situasi/ stressor
 Tn.S biasanya berusaha mencegah adanya masalah pada keluarganya. Ny. Y biasanya tajin berolahrga dalam rumah . Tn.S biasanya memilih lingkungan yang baik serta menjalin hubungan yang baik dengan orang sekitar.
Strategi koping yang digunakan
Untuk mengatasi stres yang dialami, keluarga Tn. S biasanya refresing, mendekatkan diri kepada tuhan dan berisitirahat yang cukup.
        I.   Aktivitas rekreasi keluarga
Keluarga Tn.S biasa melakukan liburan dengan anggota keluarga seperti menonton bersama, minum teh bersama dll.
     J.  Harapan keluarga
Dengan adanya petugas kesehatan yang datang kerumahnya menurutnya mengharapkan supaya petugas kesehatan bisa memberikan pengetahuan yang dapat membantu dirinya mempersiapkan bagaimana sebenarnya kesehatan dalam rumah tangganya.
        K. Tingkat kemandirian keluarga
Tingkat kemandirian keluarga terdiri dari tujuh kriteria kemampuan keluarga yang telah dicapai.

Kriteria 1 
:
keluarga menerima perawat

Kriteria 2 
:
keluarga menerima pelayanan kesehatan sesuai rencana rencana keperawatan keluarga

Kriteria 3 
:
keluarga tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara benar

Kriteria 4 
:
keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan pelayanan kesehatan sesuai anjuran

Kriteria 5 
:
keluarga melakukan tindakan keperawatan sederhana yang sesuai anjuran

Kriteria 6 
:
keluarga melakukan tidakan pencegahan secara aktif

Kriteria 7 
:
keluarga melakukan tidakan promotif secara aktif



Tingkat Kemandirian
Kriteria 1
Kriteria 2
Kriteria 3
Kriteria 4
Kriteria 5
Kriteria 6
Kriteria 7

Tingkat I
V
v
-
-
-
-
-

Tingkat II
V
v
V
V
v
-
-

Tingkat III
V
v
V
V
v
v


Tingkat IV
V
v
V
V
v
v
V




  
L.  Analisa data


Analisa data
Etiologi
Masalah


DS: Ny.Y mengatakan tidak mengetahui secara pasti mengenai kegiatan Nn.N

DO: Nn.N merupakan anak pertama dalam keluarga






Perkembangan remaja

Defisit pengetahuan


  DS: Nn.N merasa di abaikan dalam keluarganya dan tidak pernah menceritakan masalahnya 


 DO:Tn.S dan Ny.Y tampak  cemas 















Ketidak mampuan mengenal gangguan perkembangan 

Ketidak mampuan koping keluarga 



M.  Rumusan masalah
Data yang terkumpul dan dianalisis, kemudian didapatkan diagnosa keperawatan sebagai berikut :.
(D.0111 )  Defisit pengetahuan
(D.0093)  Ketidak mampuan koping keluarga

N. Intervensi kesehatan


No

Diagnosa

Tujuan & kriteria hasil (NOC)

Intervensi (NIC)


     
  Kode :  D.0111
  Kategori: perilaku
  Subkategori :  Penyuluhan dan pembelajaran

Defisit Pengetahuan b.d Kurang terpapar informasi

Ditandai dengan :


DS: Ny.Y mengatakan tidak mengetahui secara pasti mengenai kegiatan Nn.N

DO: Nn.N merupakan anak pertama dalam keluarga

 Seteleh dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan

Tingkat Pengetahuan (L.12111)

skala :
Menurunt
cukup Menurun
sedang,
cukup Meningkat
Meningkat 
dengan kriteria:
Perilaku sesuai dengan pengetahuan (skala 3 menjadi 4)
Pertanyaan tentang masalah yang di hadapi (skala 3 menjadi 4)
Intervensi keperawat

Edukasi kesehatan (1.12383)

Aktivitas Keperawatan 
Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
Berikan kesempatan untuk bertanya
Jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan

2.

Kode :  D.0093
Kategori: Fisiologis
Subkategori : Respirasi

Ketidak mampuan Koping Keluarga b/d Ketidak mampuan orang terdekat mengungkapkan perasaan

Ditandai dengan :

 DS: Nn.N merasa di abaikan dalam keluarganya dan tidak pernah menceritakan masalahnya 


 DO:Tn.S dan Ny.Y tampak  cemas 


       

Status Koping Keluarga (L.09088)

meningkat,
cukup meningkat,
sedang,
cukup menurun,
menurun, 
dengan kriteria:
Perasaan diabaikan (skala 3 menjadi 4)
Komunikasi antara anggota keluarga (skala 2 memjadi 4)



Promosi Koping (1.09312)

Aktivitas Keperawatan 
Identifikasi kegiatan jangka pendek dan panjang sesuai tujuan
Diskusikan konsekuensi tidsk menggunakan rasa beersalah dan rasa malu
Ajarkan cara memecahkan masalah secara konstruktif








Puskesmas : kolono
Nama KK : Tn. S
No. Register : -
TANGGAL/JAM
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TINDAKAN
EVALUASI
TANDA TANGAN


20/01/2020 
Kode : D.0111

Defisit Pengetahuan
Mengidentifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
Memberikan kesempatan untuk bertanya
Menjelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan
 S : Ny.Y mengatakan sudah mampu mengidentifikasi  dan  biasa menerima informasi
O : Tn.S dan Ny.Y tampak  cemas 


O: keluarga Tn.S Nampak sudah bias menerima  informasi dengan tenang



21/01/2020
Kode : D.0093


Ketidak mampuan Koping Keluarga
Mengidentifikasi kegiatan jangka pendek dan panjang sesuai tujuan
Mendiskusikan konsekuensi tidak menggunakan rasa bersalah dan rasa malu
Mengajarkan cara memecahkan masalah secara konstruktif

S: Nn.N mengatakan mampu meningkatkan koping keluarganya

O: Nn.N Nampak meningkatkan koping keluarga




O. Evaluasi

TANGGAL/JAM
DIAGNOSA KEPERAWATAN
EVALUASI
TANDA TANGAN


25/01/2021

Kode : D.0111

Defisit Pengetahuan
S : Tn.S mengatakan sudah mampu mengidentifikasi  dan  biasa menerima informasi

O: keluarga Tn.S Nampak sudah bias menerima  informasi dengan tenang.

A: Masalah belum teratasi

P : Intervensi di lanjutkan oleh petugas puskesmas


     26/01/2001
 Kode : D.0093


Ketidak mampuan Koping Keluarga

 S: Nn.N mengatakan mampu meningkatkan koping keluarganya

O: Nn.N Nampak meningkatkan koping keluarga

A: Masalah belum teratasi

    P : Intervensi di lanjutkan oleh petugas          puskesmas






PENUTUP


Kesimpulan

Keluarga adalah dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan-ikatan kebersamaan, ikatan emosional dan yang mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian dari keluarga . Keluarga adalah dua orang atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan.
Asuhan keperawatan keluarga digunakan untuk membantu menyelesaikan
masalah kesehatan keluarga dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan. Agar pelayanan kesehatan yang diberikan dapat diterima oleh keluarga, maka perawat harus mengerti, memahami tipe dan struktur keluarga, mengetahui tingkat pencapaian keluarga dalam melakukan fungsinya dan perlu paham setiap tahap perkembangan keluarga dan tugas perkembangannya. 

Saran

Diharapkan untuk mahasiswa keperawatan lebih memahami tentang hubungan terapeutik dalam tahap-tahap asuhan keperawatan keluarga









DAFTAR PUSTAKA


Jhonson L. (2010). Keperawatan Keluarga. 177.
Keluarga, K. (2019). HI NG CENTER C ENTER F AMILY.
Rahma, S. A., & Hipertensi, P. P. (2019). FAMILY NURSING CARE IN THE STAGE OF DEVELOPMENT FAMILY WITH MIDDLE-AGED ADULTS. 1–7.




ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TN. B DENGAN
MASALAH KESEHATAN TETANUS PADA TN.B







OLEH:
SUMIATIN
S.0017.P.036





SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
KARYA KESEHATAN
KENDARI
2021



KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT,Karena berkat  rahmat-Nya  saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini tepat pada waktunya. Terlantun solawat serta salam buat untuk imam besar  kita semua Nabi Muhammad SAW.

Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan, baik dari segi isi maupun redaksinya. Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dapat menyusun makalah yang lebih baik di masa yang akan datang. Semoga makalah ini bermanfaat untuk memberikan kontribusi  bagi kita dalam memajukan ilmu keperawatan.






                                                                                              Kendari,5 Februari 2020

                                                
                                                      Penulis
                              









DAFTAR ISI
Contents
KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB 1 4
PENDAHULUAN 4
A.Latar belakang 4
B. Tujuan 5
C. Manfaat 5
BAB II 6
TINJAUAN TEORI 6
A.Definisi Tetanus 6
B. Klasifikasi 7
C. Etiologi 8
D. Patofisiologi 9
F. Penatalaksanaan Tetanus 11
H. Komplikasi pada klien Tetanus 12
BAB V 13
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA 13
A. Pengkajian keluarga 13
B . Pengkajian individu 14
C. Kesehatan lingkungan 20
D. Struktur keluarga 22
E. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga 22
F. Status sosial ekonomi keluarga 23
G. Fungsi keluarga 23
H. Koping keluarga 23
I. Aktivitas rekreasi keluarga 24
J. Harapan keluarga 24
K. Tingkat kemandirian keluarga 24
L. Analisa data 27
M. Rumusan masalah 29
N. Intervensi keperawatan 29
O. Evaluasi 32
BAB IV 35
PENUTUP 35
A. KESIMPULAN 35
B. SARAN 35
DAFTAR PUSTAKA 36















BAB 1
PENDAHULUAN

   A. Latar belakang

Tetanus berasal dari kata Yunani “tetanus” yang artinya “berkontraksi”, merupakan penyakit bersifat akut yang ditandai dengan kekakuan otot dan spasme, akibat toksin yang dihasilkan Clostiridium Tetani mengakibatkan nyeri biasanya pada rahang bawah dan leher.
Tetanus merupakan hal yang dapat dicegah. Tetanus lebih umum didapatkan pada masyarakat dengan pemasukan ekonomi rendah, terutama negara berkembang, tapi tidak menutup kemungkinan tetanus ada di negara maju. 
Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa disertai gangguan kesadaran. Gejala ini bukan disebabkan oleh kuman clostridium tetani, tetapi akibat toksin (tetanospasmin) yang dihasilkan kuman.Tetanus adalah penyakit infeksi yang ditandai oleh kekakuan dan kejang otot, tanpa disertai gangguan kesadaran, sebagai akibat dari toksin kuman closteridium tetani.Penyakit ini tersebar di seluruh dunia, terutama pada daerah resiko tinggi dengan cakupan imunisasi DPT yang rendah. Reservoir utama kuman ini adalah tanah yang mengandung kotoran ternak sehingga resiko penyakit ini di daerah peternakan sangat tinggi. Spora kuman Clostridium tetani yang tahan kering dapat bertebaran di mana-mana.Penyakit tetanus masih sering ditemui di seluruh dunia dan merupakan penyakit endemik di 90 negara berkembang.
WHO mengatakan pada tahun 2015, terdapat 10301 kasus tetanus termasuk 3551 kasus neonatal yang dilaporkan melalui WHO/Unicef. Laporan tersebut juga masih belum bisa menjelaskan angka kejadian sebenarnya dikarenakan banyaknya insiden yang tidak dilaporkan. Kelompok masyarakat yang tidak mendapatkan vaksinasi, usia lebih dari 65 tahun, penderita diabetes merupakan masyrakat yang memiliki faktor resiko tinggi terhadap tetanus. Kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap resiko infeksi tetanus yang disebabkan oleh luka juga menjadi salah satu faktor risiko masih maraknya terjadi tetanus Tetanus yang terjadi pada non neonatal paling banyak didapatkan dikarenakan pekerjaan terutama pekerjaan yang memiliki potensial bahaya tinggi seperti pekerja agrikultural, pekerja industry, dan pekerja kesehatan, pekerja konstruksi dan pekerja besi. Dapat juga didapatkan pada luka-luka yang tidak ditangani dengan benar. Luka yang dimaksud seperti luka akibat terpotong gelas ataupun luka tersayat metal Infeksi tetanus juga bisa disebabkan oleh sebab lain. Seperti dikatakan Novi, pada penelitian yang dilakukannya kepada 40 orang anak, didapatkan bahwa infeksi tetanus disebabkan karena otitis media sebanyak 52.5% dan sisanya dikarenakan luka tusuk dan laserasi di ekstremitas dan kepala.Tetanus neonatal terjadi pada bayi berusia kurang dari 28 hari. 
        Indonesia sebagai negara berkembang masih menjadi salah satu negara yang kasus tetanus neonatal nya banyak. Pada tahun 1979 Indonesia malukan upaya untuk mencapai target Eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatal dimulai dengan pemberian vaksin tetanus toxoid kepada ibu hamil, calon pengantin dan bayi (Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI. 2012).
Imunitas yang didapatkan dari vaksin tetanus dapat mencegah kejadian tetanus, tetapi imunitas ini tidak berlangsung seumur hidup. Maka dari itu dibutuhkan injeksi booster pada pasien yang mengalami luka rentan tetanus.dilakukan studi literature ini adalah mengedukasi dan memberikan informasi kepada pembaca mengenai pencegahan tetanus terutama dengan penggunaan vaksin tetanus.
       B. Tujuan

Mahasiswa mengetahui proses terjadinya penyakit Tetanus
Mahasiswa mengetahui cara mencegah Tetanus
Mahasiswa mampu merumuskan rencana asuhan keperawatan pada penyakit Tetanus
         C. Manfaat

Bagi mahasiswa, makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan reverensi untuk materi kasus Tetanus
Bagi masyarakat, makalah ini dapat memberikan edukasi tentang penyebab serta pencegahan Tetanus
Bagi Ilmu pengetahuan keperawatan, makalah ini dapat dijadikan sebagai update referensimengenai kasus Tetanus

BAB II
TINJAUAN TEORI
A.Definisi Tetanus
Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa disertai gangguan kesadaran. Gejala ini bukan disebabkan oleh kuman clostridium tetani, tetapi akibat toksin (tetanospasmin) yang dihasilkan kuman. Tetanus adalah penyakit infeksi yang diakibatkan toksin kuman Clostridium tetani, bermanifestasi sebagai kejang otot paroksismal, diikuti kekakuan otot seluruh badan. Kekakuan tonus otot ini selalu tampak pada otot masseter dan otot-otot rangka.Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa tetanus adalah penyakit infeksi yang diakibatkan oleh toksin kuman Clostridium tetani,yang ditandai dengan gejala kekakuan dan kejang otot.                                                  
Tetanus adalah penyakit infeksi yang ditandai oleh kekakuan dan kejang otot, tanpa disertai gangguan kesadaran, sebagai akibat dari toksin kuman closteridium tetani .Penyakit ini mengenai sistem saraf yang disebabkan oleh tetanospasmin yaitu neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani.Clostridium tetani merupakan organisme obligat anaerob, batang gram positif, bergerak, ukurannya kurang lebih 0,4 x 6 μm. Mikroorganisme ini menghasilkan spora pada salah satu ujungnya sehingga membentuk gambaran tongkat penabuh drum atau raket tenis. Spora Clostridium tetani sangat tahan terhadap desinfektan kimia, pemanasan dan pengeringan. Kuman ini terdapat dimana-mana, dalam tanah, debu jalan dan pada kotoran hewan terutama kuda. Spora tumbuh menjadi bentuk vegetatif dalam suasana anaerobik. Bentuk vegetatif ini menghasilkan dua jenis toksin, yaitu tetanolisin dan tetanospasmin. Tetanolisin belum diketahui kepentingannya dalam patogenesis tetanus dan menyebabkan hemolisis in vitro, sedangkan tetanospasmin bekerja pada ujung saraf otot dan sistem saraf pusat yang menyebabkan spasme otot dan kejang.
Derajat keparahan : 
1.      Derajat I (ringan) : Trismus ringan sampai sedang, spastisitasgeneralisata, tanpa gangguan pernafasan, tanpaspasme, sedikit atau tanpa disfagia.
2.      Derajat II (sedang) : Trismus sedang, rigiditas yang nampak jelas,spasme singkat ringan sampai sedang, gangguanpernafasan sedang dengan frekuensi pernafasanlebihd dari 30 disfagia ringan.
3.      Derajat III (berat) : Trismus berat, spastisitas generalsata, spasmerefleks berkepanjangan, frekuensi pernafasan lebihdari 40, serangan apnea, disfalgia berat dantakikardia lebih dari 120.
4.      Derajat IV (sangat berat) : Derajat tiga dengan gangguan otonomik berat melibatkan sistem kardiovaskuler. Hipertensi berat dan takikardi terjadi berselingan dengan hipotensi dan bradikardia, salah satunya dapat menetap.
B. Klasifikasi
Tetanus berdasarkan bentuk klinis dibagi menjadi 3 yaitu:
Tetanus local: biasanya ditandai dengan otot terasa sakit, lalu timbul rebiditas dan spasme pada bagian paroksimal luar. Gejala itu dapat menetap dalam beberapa minggu dan menghilang.
Tetanus general: yang merupakan bentuk paling sering, biasanya timbul mendadak dengan kaku kuduk, trismus, gelisah, mudah tersinggung daan sakit kepala merupakan manifestasi awal. Dalam waktu singkat kontraksi otot somatic meluas. Timbul kejang tetanik bermacam grup otot, menimbulkan aduksi lengan dan ekstensi ekstremitas bagian bawah. Pada mulanya, spasme berlangsung beberapa detik sampai beberapa menit dan terpisah oleh periode relaksasi.
Tetanus segal: varian tetanus local yang jarang terjadi. Masa inkubasi 1-2 hari terjadi sesudah otitis media atau luka kepala dan muka. Paling menonjol adalah disfungsi saraf III, IV, VII, IX, dan XI tersering saraf otak VII diikuti tetanus umum.
Berdasarkan berat gejala dapat dibedakan menjadi 3 stadium, yaitu:
Trismus (3 cm) tanpa kejang torik umum meskipun dirangsang.
Trismus (3 cm atau lebih kecil) dengan kejang torik umum bila dirangsang.
Trismus (1 cm) dengan kejang torik umum spontan.

C. Etiologi
Penyakit tetanus disebabkan oleh toksin kuman Clostridium tetani yang dapat masuk melalui luka tusuk, gigitan binatang, luka bakar, luka operasi yang tidak dirawat dan tidak dibersihkan dengan baik, caries gigi, pemotongan tali pusat yang tidak steril, dan penjahitan luka robek yang tidak steril. Penginfeksian kuman Clostridium tetani lebih mudah bila klien belum terimunisasi.
Sering kali tempat masuk kuman sukar diketahui tetepi suasana anaerob seperti pada luka tusuk, lukakotor, adanya benda asing dalam luka yang menyembuh , otitis media, dan cairies gigi, menunjang berkembang biaknya kuman yang menghasilkan endotoksin.
Penyakit ini tersebar di seluruh dunia, terutama pada daerah resiko tinggi dengan cakupan imunisasi DPT yang rendah. Reservoir utama kuman ini adalah tanah yang mengandung kotoran ternak sehingga resiko penyakit ini di daerah peternakan sangat tinggi. Spora kuman Clostridium tetani yang tahan kering dapat bertebaran di mana-mana.
Port of entry tak selalu dapat diketahui dengan pasti, namun dapat diduga melalui:
Luka tusuk, gigitan binatang, luka bakar
Luka operasi yang tidak dirawat dan dibersihkan dengan baik
  OMP, caries gigi
Pemotongan tali pusat yang tidak steril.
Penjahitan luka robek yang tidak steril
Clostridium tetani termasuk dalam bakteri Gram positif, anaerob obligat, dapat membentuk spora, dan berbentuk drumstick. Spora yang dibentuk oleh C. tetani ini sangat resisten terhadap panas dan antiseptik. Ia dapat tahan walaupun telah diautoklaf (1210C, 10-15 menit) dan juga resisten terhadap fenol dan agen kimia lainnya. BakteriClostridium tetani ini banyak ditemukan di tanah, kotoran manusia dan hewan peliharaan dan di daerah pertanian. Umumnya, spora bakteri ini terdistribusi pada tanah dan saluran penceranaan serta feses dari kuda, domba, anjing, kucing, tikus, babi, dan ayam. Ketika bakteri tersebut berada di dalam tubuh, ia akan menghasilkan neurotoksin (sejenis protein yang bertindak sebagai racun yang menyerang bagian sistem saraf). C. tetanimenghasilkan dua buah eksotoksin, yaitu tetanolysin dan tetanospasmin.Fungsi dari tetanoysin tidak diketahui dengan pasti, namun juga dapat memengaruhi tetanus. Tetanospasmin merupakan toksin yang cukup kuat.
D. Patofisiologi
Tetanus disebabkan oleh toksin kuman Clostridium tetani yang masuk melalui luka tusuk, gigitan binatang, luka bakar, luka operasi yang tida dirawat dan tidak dibersihkan dengan baik, caries gigi, pemotongan tali pusat yang tidak steril, dan penjahitan luka robek yang tidak steril yang lebih beresiko bagi orang-orang yang belum terimunisasi.                        
Toksin kuman C. tetani berbentuk spora.  Bentuk spora dalam suasana anaerob dapat berubah menjadi kuman vegetatif yang menghasilkan eksotoksin. Toksin ini menjalar intrakasonal sampai ganglin/simpul saraf dan menyebabkan hilangnya keseimbanngan tonus otot sehingga terjadi kekakuan otot baik lokal maupun mnyeluruh. Bila toksin banyak, selain otot bergaris, otot polos dan saraf otak juga terpengaruh. Biasanya penyakit ini terjdi setelah luka tusuk yang dalam misalya luka yang disebabkan tertusuk paku, pecahan kaca, kaleng atau luka tembak, karena luka tersebut menimbulkan keadaan anaerob yang ideal. Selain itu luka laserasi yang kotor dan pada bayi dapat melalui tali pusat luka bakar dan patah tulang yang terbuka juga akan mengakibatkan keadaan anaerob yang ideal untuk pertumbuhan clostridium tetani.
Tetanus terjadi sesudah pemasukan spora yang sedang tumbuh, memperbanyak diri dan mneghasilkan toksin tetanus pada potensial oksidasi-reduksi rendah (Eh) tempat jejas yang terinfeksi. Plasmid membawa gena toksin. Toksin yang dilepas bersama sel bakteri sel vegetative yang mati dan selanjutnya lisis. Toksin tetanus (dan toksin batolinium) di gabung oleh ikatan disulfit. Toksin tetanus melekat pada sambungan neuromuscular dan kemudian diendositosis oleh saraf motoris, sesudah ia mengalami ia mengalami pengangkutan akson retrograt kesitoplasminmotoneuron-alfa. Toksin keluar motoneuron dalam medulla spinalis dan selanjutnya masuk interneuron penghambat spinal. Dimanatoksin ini menghalangi pelepasan neurotransmitter . Toksin tetanus dengan demikian meblokade hambatan normal otot antagonis yang merupakan dasar gerakan yang disengaja yang di koordinasi, akibatnya otot yang terkena mempertahankan kontraksi maksimalnya, system saraf otonom juga dibuat tidak stabil pada tetanus.
E. Manifestasi Klinis
Penyakit ini biasanya terjadi mendadak dengan ketegangan otot yang makin bertambah terutama pada rahang dan leher. Dalam waktu 48 jam penyakit ini menjadi nyata dengan gejala umum:
Trismus (kesukaran membuka mulut) karena spasme otot-otot mastikatoris
Kaku kuduk sampai epistotonus karena ketegangan otot-otot erector trunki
Ketegangan otot dinding perut
Kejang tonik terutama bila dirangsang karena toksin terdapat di kornu anterior
Risus sardonikus karena spasme otot muka (alias tertarik ke atas), sudut mulut tertarik ke luar dan ke bawah, bibir tertekan kuat pada gigi
Kesukaran menelan, gelisah, mudah terangsang, nyeri anggota badan (sering merupakan gejala dini)
Spasme yang khas, yaitu badan kaku dengan epistotonus, ekstremitas inferior dala keadaan ekstensi, lengan kaku dan tangan mengepal kuat. Keadaan tetap sadar, spasme mula-mula intermitten diselingi periode relaksasi, kemudian tidak jelas lagi dan serangan tersebut disertai rasa nyeri. Kadang-kadang terjadi perdarahan intramuscular karena kontraksi yang kuat.
Asfiksia dan sianosis terjadi akibat serangan pada otot pernapasan dan laring. Retensi urine dapat terjadi karena spasme otot uretral. Fraktur kolumna vertebralis dapat pula terjadi karena kontraksi otot yang sangat kuat.
Panas biasanya tidak tinggi dan terdapat pada stadium akhir.
 Biasanya terdapat leukositosis ringan dan kadang-kadang peninggian tekanan cairan otak.


F. Penatalaksanaan Tetanus
           Penatalaksanaan pada klien dengan tetanus ada 2 macam yaitu farmakologi dan non-farmakologi.
Farmakologi
Antitoksin: antitoksin 20.000 1u/ 1.M/5 hari. pemberian baru diberikan setelah dipastikan tidak ada reaksi hipersensitivitas.
Anti kejang (antikonvulsan)
Fenobarbital (luminal): 3 x 100 mg/1.M. Untuk anak diberikan mula-mula 60-100 mg/1.M lalu dilanjutkan 6x30 mg/hari (max. 200mg/hari).
Klorpromasin: 3x25 mg/1.M/hari. Untuk anak-anak mula-mula 4-6 mg/kg BB.
Diazepam: 0,5-10 mg/kg BB/1.M/4 jam, dll.
Antibiotic: penizilin procain 1juta 1u/hari atau tetrasifilin 1gr/hari/1.V. Dapat memusnahkan tetani tetapi tidak mempengaruhi proses neurologiknya.
Non-farmakologi
Merawat dan membersihkan luka sebaik-baiknya,
Diet TKTP. Pemberian tergantung kemampuan menelan. Bila trismus, diberikan lewat sonde parenteral.
Isolasi pada ruang yang tenang, bebas dari rangsangan luar.
Menjaga jalan nafas agar tetap efisien.
Mengatur cairan dan elektrolit.
G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada klien dengan tetanus meliputi:
1.      Darah 
Glukosa Darah       :   Hipoglikemia merupakan predisposisi kejang  (N < 200 mq/dl)
BUN                        : Peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan merupakan indikasi nepro toksik akibat dari pemberian obat
Elektrolit                  :   K, Na (Ketidakseimbangan elektrolit merupakan predisposisi kejang )
Kalium ( N 3,80 – 5,00 meq/dl)
Natrium ( N 135 – 144 meq/dl)
2.      Skull ray : Untuk mengidentifikasi adanya proses desak ruang dan adanya lesi, Teknik untuk menekan aktivitas listrik otak melalui tengkorak yang utuh untuk mengetahui fokus aktivitas kejang, hasil biasanya normal
H. Komplikasi pada klien Tetanus

a.       Spasme otot faring
b.      Asfiksia 
c.       Ateletaksis
d.      Fraktur kompresi
e.       Jalan nafas  : Aspirasi, Laringuspasme/obstruksi, Obstruksi berkaitan dengan sedative
f.       Respirasi : Apnea, Hipoksia ,Gagal nafas tipe 1 (atelektasis, aspirasi,pneumonia), Gagal nafas tipe 2 ( spasme laringeal,spasme trunkal berkepanjangan, sedasi berlebihan) ARDSK, komplikasi bantuan ventilasi berkepanjangan (seperti pneumonia), komplikasi traneotomi (seperti stenosistrachea )
g.      Kardiovaskuler: Takikardia, hipertensi, iskemiaHipotensi, bradikardia Takiaritma, bradiaritma, Asistol, gagal jantung
h.      Ginjal : Gagal ginjal curah tinggi, gagal ginjal oliguria
i.        Gastrointestinal : Statis gaster, ileus, pendarahan, diare
j.        Ruptur tendon akibat spasme.




BAB V
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

A. Pengkajian keluarga

Puskesmas
:
Kolono
Alamat 
:
Desa Puupi
Hari/Tanggal Pengkajian
:
Selasa/09 februari 2021

Nama KK 
:
Tn. B
Usia
:  
64 tahun




Pendidikan
:
SMP
Pekerjaan
:
Petani





Komposisi Keluarga : 
No
Nama Anggota Keluarga
Hub. Keluarga
L/P
Umur (th)
Pendidikan
Agama
Suku
Pekerjaan
Imunisasi (L/TL)
KB
Alat bantu, ptotesa
Keadaan umum (sehat/tidak sehat)
Riwayat penyakit & alergi

1.
Tn. B
Suami
L
64
SI
Islam
Buton
Petani
Lengkap
Tidak
Tidak ada
Sehat
Asma

2.
Ny. S
Istri
P
53
SMP
Islam
Buton
IRT
Lengkap
Tidak
Tidak ada
Sehat
Tidak ada

3.
Nn. R
Anak
P
19
SMA
Islam
Buton
Tidak kerja
Lengkap
Tidak
Tidak ada
Sehat
Tidak ada



Jarak Untuk Mencapai Pelayanan Kesehatan Terdekat
Fasilitas Kesehatan

Jarak

Cara tempuh

Puskesmas
:
900 meter

Motor 
roda 2
:


Puskesmas Pembantu
:
200 meter

Motor
 roda 2
:


Posyandu
:
100 meter

Motor
 roda 2
:



3. Genogram

     4. TipeKeluarga
  Keluarga inti
B. Pengkajian individu
No
Data
Tn.B
Ny.Y
Nn.N


Keadaan umum :
Baik
Baik
Baik


Penampilan
Baik
Baik
Baik


BB
65 kg
80 kg
57 kg


TB
150 cm
170 cm
162 cm


Status Gizi
      Baik
Baik
Baik


Diagnosa medis
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada


Masalah kesehatan yang pernah dialami
Asma
Tidak ada
Tidak ada


Masalah kesehatan sekarang 
Asma
Tidak ada
Tidak ada


Masalah kesehatan yang lalu 
Asma
Tidak ada
Tidak ada


Masalah kesehatan keluarga (turunan) 
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada


TTV :





Tekanan darah
110 MmHg
120 MmHg
110 MmHg


Respirasi
24x/menit
20x/menit
20x/menit


Nadi
80x/menit
72x/menit
74x/menit


  3.
Palpebra
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada


Fungsi
Baik 
Baik 
Baik


 4.
Telinga :





Bentuk
Normal 
Normal 
Normal 


Keadaan
Bersih 
Bersih 
Bersih 


Fungsi
Baik 
Baik 
Baik 

 5.
Hidung :





Bentuk
Normal 
Normal 
Normal 


Keadaan
Bersih 
Bersih 
Bersih 


Fungsi
Baik 
Baik 
Baik 

 6.
Mulut :





Gigi
Baik
Baik
Baik


Fungsi menelan
Baik
Baik
Baik


Kelembaban
Baik
Baik
Baik

 7.
Leher :





Pembengkakan kelenjar tiroid
Tidakterdapat pembengkakan
Tidak terdapat pembengkakan
Tidak terdapat pembengkakan

 8.
Dada :





Bentuk
Normal 
Normal 
Normal 


Suara paru
Resonan
Resonan 
Resonan


Respirasi
18X/menit
18X/menit
20X/Menit


Bunyi jantung
S1, S2
S1, S2
S1, S2

9.
Abdomen :





Bentuk
Normal 
Normal
Normal 


Nyeri tekan
Tidak adanyeri
Tidak ada nyeri
Tidak adanyeri

10.
Ekstremitas :





Oedema
Tidak adaoedema
Tidak ada oedema
Tidak ada oedema


Kontraktur
Tidak ada 
Tidak ada 
Tidak ada 

11.
Istirahat dan tidur
Baik
Baik
Baik

12.
Status mental
Baik
Baik
Baik

13.
Kebersihan diri
Bersih
Bersih
Bersih

14.
Sistem respirasi
Tidak adamasalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah

15.
Sistem kardiovaskuler 
Tidak adamasalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah

16.
Sistem pencernaan 
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah

17.
Sistem urinaria  
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah

18.
Sistem integument 
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah

19.
Sistem persyarafan 
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah

20.
Sistem muskulosketal
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah


Pemeriksaan penunjang bagi yang sakit (lab, radiologi, EKG, USG)
Tidak adapemeriksaan
Tidakada pemeriksaan
Tidak ada pemeriksaan




C. Kesehatan lingkungan
Karakteristik Rumah


Denah rumah

                                                                                                       
                                                                                                          

     (A) (F)



     
     (B)




                                                                                                                    (G)
     ( C (E) ( F)                     
                                     

                                                 (D)

Ket:
A. Kamar anak Nn.
B. Kamar mandi
C. Kamar Tn.B dan Ny.S
D. Ruang Tamu
E. Ruang keluarga
F. Ruang makan
G. Dapur
     

Tipe Tempat Tinggal
Keluarga sudah memiliki tempat tinggal sendiri 




                                         

Gambaran kondisi rumah 

Luas rumah keluarga 14x10 m ,kebersihan rumah cukup bersih .

Jenis bangunan 

Semi permanen 

Luas bangunan 

14x10 m 

Luas pekarangan 

 60 m 

Jumlah jendela 

6 jendela 

Kondisi ventilasi rumah 

Memiliki sirkulasi udara yang baik

Kondisi pencahayaan rumah 

Penerangan menggunakan listrik diguhnakan pada siang dan malam hari karena kurang pencahyaan

Jenis lantai 

Lantai tempat tinggal menggunakan tehel

Kebersihan rumah secara keseluruhan 

Kebersihan cukup bersih 

Pengelolaan sampah keluarga

Sampah dibuang digalian dan membakar sampahnya.

Sumber air bersih dalam keluarga 

Sumber air bersih keluarga berada disumur dekat rumah.

Jarak sumber air minum dengan septic tank 

 Sekitar 20 m dari tempat keluarga tinggal 

Sumber air minum yang digunakan 

Mengunakan air sumber kemasan 

Keadaan dapur 

Cukup bersih

Pembuangan limbah 

Saluran diarahkan menuju kali 

Keamanan lingkungan rumah 

Keamanan lingkungan Tn.B sangat aman 

Perasaan subyektif keluarga terhadap rumah 

Perasannya sangat senang, nyaman dan aman berada di tempat tinggalnya 

Pengaturan pengaturan rumah dan privaci  

Pengaturannya cukup rapi penempatannya 


Karakteristik Lingkungan dan Komunitas Tempat Tinggal yang lebih luas.
Karakteristik fisik dari lingkungan
    Ditempat tinggal Tn.B jarak antara satu rumah dan lainnya cukup dekat. Keluarga Tn .B sering berinteraksi dan berkomunikasi dengan tetangga sekitar hal ini mendukung karena tetangganya sangat ramah 
Karakteristik duemografis dari lingkungan dan komunitas
                            Keluarga Tn.B tidak pernah pindah didesa atau kekota lain 
Bagimana fasilitas-fasilitas mudah diakses atau dijangkau oleh keluarga
     Keluarga Tn.B cukup berperan dalam mengikuti kegiatan .

Tersedianya transportasi umum yang dapat digunakan oleh keluarga dalam mengakses fasilitas yang ada.
       Keluarga Tn.B menggunakan transportasi pribadi sepeda motor yang digunakan saat berpergian kemana-mana 

        e. Mobilitas geografis keluarga
                   menurut klien tidak pernah pindah daerah kota lain .
                    
Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
        Keluarga Tn.B Mengatakan sering mengikuti majelis.

D. Struktur keluarga

Pola dan komunikasi keluarga 
    Keluarga Tn. B berkomunikasi degan menggunakan bahasa Buton dan indonesi bahasa Indonesia yang lebih sering digunakan.  
Struktur kekuatan keluarga
  Hingga saat ini Tn.B sangat berperan penting dalam mencari nafkah sedangkan anak dan istrinya tidak berkerja
Nilai-Nilai Keluarga
    Nilai-nilai dan norma yang dianut dua sisih yaitu berdasarkan kebiasaan suku buton dalam agama islam. Nilai dan norma yang dimaksud saling menghargai, menghormati, serta saling menjaga kerkunan dalam keluarga dan masyrakat.
      E. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga

Tahap perkembangan keluarga saat ini
Keluarga Tn.B memiliki 1 orang putri yang masing-masing sudah memasuki usia dewasa.
                 .
Riwayat kesehatan keluarga inti
          Tn.B mengeluh merasakan kaku diseluruh badan dan tidak bias di gerakkan,kepala terasa berat,pusing,demam.

Latar Belakang Budaya Keluarga
     keluarga Tn. B berlatar belakang suku buton,nilai-nilai dalam keluarga pun berdasarkan budaya suku buton.      

F. Status sosial ekonomi keluarga 
  Penghasilan keluarga Tn. B adalah sebesar 1.500.000-2.000.000/bulan. 

  G. Fungsi keluarga

Fungsi Sosial
Keluarga Tn. B aktif dalam kegiatan social yang berada dimasyarakat, keluarga tersebut juga aktif berinteraksi dengan masyarakat sekitar. 
Fungsi Perawatan kesehatan
Jika salah satu dalam keluarga Tn.B, sakit mereka saling merawat dalam anggota keluarga. Biasanya mereka meminum obat-obatan terlebih dahulu sebagai tindakan pertama. Namun jika keadaan tidak membaik maka mereka akan berobat ke fasilitas kesehatan terdekat.
H. Koping keluarga 

Stresor jangka pendek dan jangka panjang
Terdapat beberapa stressor jangka pendek dalam keluarga Tn. B, bagi Tn. B pribadi yaitu pada pekerjaannya. Sedangkan stressor yang dialami oleh Ny. S paling sering akibat kelelahan dalam mengurus rumah dan stressor yang bagi Nn.R adalah masalah pendidikan .
Kemampuan keluarganya berespon terhadap situasi/ stressor
 Tn.B biasanya berusaha mencegah adanya masalah pada keluarganya. Ny. B biasanya tajin berolahrga dalam rumah . Tn.D biasanyamemilih lingkungan yang baik serta menjalin hubungan yang baik dengan orang sekitar.
Strategi koping yang digunakan
Untuk mengatasi stres yang dialami, keluarga Tn. S biasanya refresing, mendekatkan diri kepada tuhan dan berisitirahat yang cukup.
        I. Aktivitas rekreasi keluarga
Keluarga Tn.B biasa melakukan liburan dengan anggota keluarga seperti menonton bersama, minum teh bersama dll.
J. Harapan keluarga
Dengan adanya petugas kesehatan yang datang kerumahnya menurutnya mengharapkan supaya petugas kesehatan bisa memberikan pengetahuan yang dapat membantu dirinya mempersiapkan bagaimana sebenarnya kesehatan dalam rumah tangganya.
K. Tingkat kemandirian keluarga
Tingkat kemandirian keluarga terdiri dari tujuh kriteria kemampuan keluarga yang telah dicapai.

Kriteria 1 
:
keluarga menerima perawat

Kriteria 2 
:
keluarga menerima pelayanan kesehatan sesuai rencana rencana keperawatan keluarga

Kriteria 3 
:
keluarga tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara benar

Kriteria 4 
:
keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan pelayanan kesehatan sesuai anjuran

Kriteria 5 
:
keluarga melakukan tindakan keperawatan sederhana yang sesuai anjuran

Kriteria 6 
:
keluarga melakukan tidakan pencegahan secara aktif

Kriteria 7 
:
keluarga melakukan tidakan promotif secara aktif



Tingkat Kemandirian
Kriteria 1
Kriteria 2
Kriteria 3
Kriteria 4
Kriteria 5
Kriteria 6
Kriteria 7

Tingkat I
V
v
-
-
-
-
-

Tingkat II
V
v
V
V
v
-
-

Tingkat III
V
v
V
V
v
v


Tingkat IV
V
v
V
V
v
v
V





             
              L. Analisa data
Analisis Data
Kode  
Etiologi
Masalah


DS : Klien mengatakan nyeri dan
           kaku diseluruh badan dan tidak bias di gerakkan   

DO : Klien Nampak gelisah  
  Kode: D.0077
Kategori : Psikologis
Sub Kategori : Nyeri dan kenyamanan


Agen injury
(biologi)



Nyeri akut

DS :klien mengatkan demam dan pusing

 DO : klien Nampak pucat dan lemas
     Td:130/70
      N:120X/menit 
      S:39 ,60C
      R:26x/menit
Kode:
  D.0131
Kategori: lingkungan 
Sub Kategori : keamanan dan proteksi 




Penyakit tetanus


Hipertermi








M. Rumusan masalah
Data yang terkumpul dan dianalisis, kemudian didapatkan diagnosa keperawatan sebagai berikut :.
(0077 ) Nyeri akut berhubungan dengan cedera fisik
(0130 ) Hipetermia berhubungan dengan proses penyakit

N. Intervensi kesehatan


No

Diagnosa

Tujuan & kriteria hasil (NOC)

Intervensi (NIC)


  
Kode: D.0077
Kategori : Psikologis
Sub Kategori : Nyeri dan kenyamanan
DS : Klien mengatakan nyeri dan kaku diseluruh badan dan tidak bias di gerakkan   

DO : - Klien Nampak gelisah  
        
     
 Seteleh dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan

Tingkat nyeri ( L. 08066)
Skala 
           1.meningkat
           2. cukup meningkat
           3.sedang 
           4. cukup menurun
            5. menurun
Dengan kriteria : 
    1.Keluhan nyeri (skala 2 menjadi 4)
    2. Meringis (skala 2 menjadi 2)

Intervensi keperawat
Menajemen nyeri (1.08238)
Identifikasi lokasi,karakteristik,durasi,frekuensi,kualitas,intensitas nyeri
 Identifikasi skala nyeri
Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan

2.
Kode:D.0131
Kategori : lingkungan 
Sub Kategori : keamanan dan proteksi 

DS :klien mengatkan demam dan pusing

 DO : klien Nampak pucat dan lemas
     Td:130/70
      N:120X/menit 
      S:39 ,60C
      R:26x/menit

Status kenyamanan ( L. 08064)
Skala
           1.meningkat
           2. cukup meningkat
           3.sedang 
           4. cukup menurun
            5. menurun

Dengan kriteria : 
          1. Keluhan tidak nyaman
            (skala 2 menjadi 4)
         2. Gelisah (skala 3 menjadi 5 )




Menajemen hipertermia (1.14507)
Monitor suhu tubuh 
Identifikasi penyebab hipetermia 
Monitor tanda dan gejala akibat hipertermia




Puskesmas : kolono
Nama KK : Tn. B
No. Register : -
TANGGAL/JAM
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TINDAKAN
EVALUASI
TANDA TANGAN


20/01/2020 
Kode: (0077 )
  Nyeri akut berhubungan dengan cedera fisik
 1. mengidentifikasi lokasi,karakteristik,durasi,frekuensi,kualitas,intensitas nyeri
2. Mengidentifikasi skala nyeri
3. Mengidentifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
4. Memonitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan
S : klien mengatakan nyeri yang dirasakan sedikit berkurang 

O: Pasien tidak Nampak meringis 




21/01/2020
Kode:(0130) Hipetermia berhubungan dengan proses penyakit
1. Memonitor suhu tubuh 
2. mengidentifikasi penyebab hipetermia 
3.Memonitor tanda dan gejala akibat hipertermia

S: klien mengatkan demam demamnya berkurang


    O: Td:130/70
          N:120X/menit 
          S:36 ,50C
        R:26x/menit





O. Evaluasi

TANGGAL/JAM
DIAGNOSA KEPERAWATAN
EVALUASI
TANDA TANGAN


25/01/2021

Kode: (0077 )
  Nyeri akut
S : klien mengatakan nyeri yang dirasakan sedikit berkurang 
O : Pasien tidak Nampak meringis 
\A : masalah hampir teratasi 
 P :intervensi dipertankan


     26/01/2001
Kode:(0130)
   Hipetermia  
 S: klien mengatkan demam demamnya berkurang
 O: Td:130/70
          N:120X/menit 
          S:36 ,50C
        R:26x/menit
 A : masalah hampir teratasi 
P :intervensi dipertankan 















BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Tetanus berasal dari kata Yunani “tetanus” yang artinya “berkontraksi”, merupakan penyakit bersifat akut yang ditandai dengan kekakuan otot dan spasme, akibat toksin yang dihasilkan Clostiridium Tetani mengakibatkan nyeri biasanya pada rahang bawah dan leher.Tetanus merupakan hal yang dapat dicegah. Tetanus lebih umum didapatkan pada masyarakat dengan pemasukan ekonomi rendah, terutama negara berkembang, tapi tidak menutup kemungkinan tetanus ada di negara maju. 
        WHO mengatakan pada tahun 2015, terdapat 10301 kasus tetanus termasuk 3551 kasus neonatal yang dilaporkan melalui WHO/Unicef. Laporan tersebut juga masih belum bisa menjelaskan angka kejadian sebenarnya dikarenakan banyaknya insiden yang tidak dilaporkan. Kelompok masyarakat yang tidak mendapatkan vaksinasi, usia lebih dari 65 tahun, penderita diabetes merupakan masyrakat yang memiliki faktor resiko tinggi terhadap tetanus. Kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap resiko infeksi tetanus yang disebabkan oleh luka juga menjadi salah satu faktor risiko masih maraknya terjadi tetanus Tetanus yang terjadi pada non neonatal paling banyak didapatkan dikarenakan pekerjaan terutama pekerjaan yang memiliki potensial bahaya tinggi seperti pekerja agrikultural, pekerja industry, dan pekerja kesehatan, pekerja konstruksi dan pekerja besi. Dapat juga didapatkan pada luka-luka yang tidak ditangani dengan benar.
B. SARAN 

Untuk mahasiswa diharapkan agar memahami segelah penjelasan dalam makalah ini dan menjadi salah sau referensi pembelajaran
Untuk dosen diharapkan segalah kritik dan saran agar kedepanya bisa membua makalah asuhan keperawatan bisa lebih baik lagi.



DAFTAR PUSTAKA


Haq, N. Z., Keperawatan, F., & Airlangga, U. (n.d.). ASUHAN KEPERAWATAN ( ASKEP ) TETANUS.
Nomor, V. (2020). Jurnal Penelitian Perawat Profesional. 2(November), 443–450.
Haq, N. Z., Keperawatan, F., & Airlangga, U. (n.d.). ASUHAN KEPERAWATAN ( ASKEP ) TETANUS.
Nomor, V. (2020). Jurnal Penelitian Perawat Profesional. 2(November), 443–450.
Haq, N. Z., Keperawatan, F., & Airlangga, U. (n.d.). ASUHAN KEPERAWATAN ( ASKEP ) TETANUS.
Nomor, V. (2020). Jurnal Penelitian Perawat Profesional. 2(November), 443–450.
Haq, N. Z., Keperawatan, F., & Airlangga, U. (n.d.). ASUHAN KEPERAWATAN ( ASKEP ) TETANUS.
Nomor, V. (2020). Jurnal Penelitian Perawat Profesional. 2(November), 443–450.
(Haq et al., n.d.)