Tugas
Selasa, 09 Maret 2021
MAKALAH TERAPI REBUSAN DAUN PANDAN WANGI
MAKALAH REBUSAN DAUN PANDAN TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH
DOSEN MATA KULIAH:
Diah indriastuti,S.kep.ns.,M.kep
SUMIATIN
S.0017.P.036
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
STIKES KARYA KESEHATAN KENDARI
PRODI S1 KEPERAWTAN
2020/2021
Contents
KATA PENGANTAR 2
BAB l 3
PENDAHULUAN 3
A. Latar Belakang 3
B.Rumusan masalah 4
C.Tujuan 5
BAB II 6
PENDAHULUAN 6
A. Definisi Diabetes melitus (DM) 6
C.Patofisiologi 8
D.Gejala-Gejala Diabetes Melitus 9
F. Komplikasi 12
Komplikasi 12
BAB III 16
PENUTUP 16
A. Kesimpulan 16
B. Saran 16
DAFTAR PUSTAKA 17
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan karuniaNya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ” MANFAAT REBUSAN DAUN PANDAN TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH ” tepat pada waktunya.
Kami juga mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pengerjaan makalah ini.
Kami juga menyadari banyak kekurangan yang terdapat pada makalah ini, oleh karena itu kami mengharapkan kritik yang membangun agar kami dapat berbuat lebih banyak di kemudian hari. Semoga makalah ini berguna bagi penyusun pada khususnya dan pembaca pada umumnya
KENDARI 13 JANUARI 2021
BAB l
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Penyakit Diabetes Melitus (DM) atau kencing manis, yang seringkali juga disapa dengan “Penyakit gula”, merupakan salah satu dari beberapa penyakit kronis yang ada di dunia. Dikatakan penyakit gula karena memang jumlah atau konsentrasi glukosa atau gula didalam darah melebihi keadaan normal. Dikatakan kencing manis, karena didalam urin atau air seni yang dalam keadaan normal tidak ada atau negatif, maka pada penyakit ini akan mengandung glukosa atau gula tersebut. Konsentrasi glukosa darah dikatakan “normal”, apabila pada pemeriksaan laboratorium kimia darah, konsetrasi glukosa dalam keadaan puasa pagihari, lebih atau sama dengan 126 mg/dL atau 2 jam sesudah makan lebih atau sama dengan 200 mg/dL atau bila sewaktu/sesaat diperiksa lebih dari 200 mg/dL. Diabetes merupakan suatu. penyakit atau kelainan yang mempengaruhi kemampuan tubuh untuk mengubah makanan menjadi energy .i(Nazir et al., 2018)
Penyakit Diabetes Melitus telah menjadi masalah kesehatan di dunia. Insidens dan prevalensi penyakit ini terus meningkat, terutama pada negara yang sedang berkembang dan negara yang telah memasuki budaya industrialisasi. Jumlah orang dewasa yang hidup dengan diabetes hampir empat kali lipat sejak 1980, yaitu 422.000.000 orang dewasa. Kenaikan dramatis ini sebagian besar disebabkan oleh kenaikan diabetes tipe 2 dan penyebab utamanya adalah pola makan dan gaya hidup.(Nazir et al., 2018)
Diabetes Melitus di Indonesia menunjukkan kecenderungan meningkat, yaitu dari 5,7% pada tahun 2007, menjadi 6,9% pada tahun 2013. Toleransi glukosa terganggu (TGT) sebesar 29,9% dan glukosa darah puasa (GDP) terganggu sebesar 36,6%. Proporsi penduduk di pedesaan yang menderita Diabetes Melitus hampir sama dengan penduduk di perkotaan. Prevalensi diabetes yang terdiagnosis dokter tertinggi terdapat di DI Yogyakarta (2,6%), DKI Jakarta (2,5%), Sulawesi Utara (2,4%) dan Kalimantan Timur (2,3%). Prevalensi diabetes yang terdiagnosis dokter tertinggi terdapat di DI Yogyakarta (2,6%), DKI Jakarta (2,5%), Sulawesi Utara (2,4%) dan Kalimantan Timur (2,3%). Prevalensi diabetes yang terdiagnosis dokter atau gejala, tertinggi terdapat di Sulawesi Tengah (3,7%), Sulawesi Utara (3,6%), Sulawesi Selatan (3,4%) dan Nusa Tenggara Timur 3,3%.6.(Nazir et al., 2018)
Tanaman Daun Pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) adalah tanaman asli Indonesia yang berasal dari Bangka dan tersebar luas di daerah Asia Tenggara. Tanaman ini adalah tanaman perdu tahunan dengan tingi 1-2 m. Batang berbentuk bulat dengan bekas duduk daun, bercabang, menjalar, serta akar tunggang keluar di sekitar pangkal batang dan cabang. Daun tunggal, duduk dengan pangkal memeluk batang, dan tersusun berbaris tiga dalam garis spiral. Daun berbentuk pita, tipis, licin, ujung runcing, tepi rata, bertulang sejajar, lebar 3-5 cm, panjang 40-80 cm, berduri tempel pada ibu tulang daun permukaan bawah bagian ujung-ujungnya, dan berwarna hijau. Bunga majemuk, berbentuk bongkol, dan berwarna putih. Buah batu, berbentuk bola, tumbuh menggantung, diameter 4-7,5 cm, dinding buah berambut, dan berwarna jingga. Tanaman ini juga belum banyak dimanfaatkan sebagai obat herbal antidiabetes. Tanaman daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius) mempunyai kandungan kimia antara lain alkaloid, saponin, flavonoid, tanin, polifenol, dan zat warna. Masing-masing senyawa kimia tersebut dapat membantu menurunkan kadar gula darah dalam tubuh.(Nazir et al., 2018)
B.Rumusan masalah
Apa definisi Diabetes melitus
Apa faktor Risiko Diabetes Melitus
Bagaimana Patofisiologi
Apa Gejala-Gejala Diabetes Melitus
Bagaimana Penatalaksanaan
Apa Komplikasi
Apa Tanaman Daun Pandan Wangi
Bagaimana prosedur pemberian air rebusan daun pandan
C.Tujuan
Mengetahui definisi Diabetes melitus
Mengetahui faktor Risiko Diabetes Melitus
Mengetahui Patofisiologi
Mengetahui Gejala-Gejala Diabetes Melitus
Mengetahui Penatalaksanaan
Mengetahui Komplikasi
Mengetahui Tanaman Daun Pandan Wangi
Mengetahui prosedur pemberian air rebusan daun pandan
BAB II
PENDAHULUAN
Definisi Diabetes melitus (DM)
Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolic dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-dua nya.14 Diabetes Melitus adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh kekurangan produksi insulin yang diturunkan dan atau didapat dalam produksi insulin oleh pankreas, atau oleh ketidakefektifan insulin yang dihasilkan, kekurangan tersebut menyebabkan peningkatan konsentrasi glukosa dalam darah.(Nazir et al., 2018)
B .Faktor Risiko Diabetes Melitus
Peningkatan jumlah penderita Diabetes Melitus yang sebagian besar Diabetes Melitus tipe 2, berkaitan dengan beberapa faktor yaitu faktor risiko yang tidak dapat diubah dan faktor risiko yang dapat diubah. Menurut American Diabetes Association (ADA) bahwa Diabetes Melitus berkaitan dengan faktor risiko yang tidak dapat diubah meliputi riwayat keluarga dengan Diabetes Melitus (first degree relative), umur ≥45 tahun, etnik, riwayat melahirkan bayi dengan berat badan lahir >4000 gram atau riwayat pernah menderita diabetes gestasional dan riwayat lahir dengan berat badan rendah (<2,5 kg). Faktor risiko yang dapat diubah meliputi obesitas berdasarkan IMT ≥25 kg/m2 atau lingkar perut ≥80cm pada wanita dan ≥90cm pada Faktor risiko Diabetes Melitus dibagi menjadi dua yaitu :
1.Faktor risiko yang tidak bisa dimodifikasi
Riwayat keluarga Diabetes Melitus Seseorang yang menderita Diabetes Melitus diduga mempunyai gen diabetes. Diduga bahwa bakat diabetes merupakan gen resesif. Hanya orang yang bersifat homozigot dengan gen resesif tersebut yang menderita Diabetes Melitus. Memiliki riwayat keluarga penderita Diabetes Melitus mempunyai risiko terkena Diabetes Melitus tipe 2 sebesar 42 kali dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki riwayat keluarga menderita Diabetes Melitus.laki-laki, kurangnya aktivitas fisik, hipertensi, dislipidemia dan diet tidak sehat.(Nazir et al., 2018)
Umur Usia yang terbanyak terkena Diabetes Melitus adalah ≥45 tahun. Usia ≥45 tahun mempunyai risiko 9 kali untuk terjadinya Diabetes Melitus tipe 2 dibandingkan dengan yang berumur kurang dari 45 tahun.(Nazir et al., 2018)
Faktor risiko yang bisa dimodifikasi
Obesitas (kegemukan) Terdapat korealsi bermakna antara obesitas dengan kadar glukosa darah, pada derajat kegemukan dengan IMT >23 dapat menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah menjadi 200mg%.18.19(Nazir et al., 2018)
Hipertensi Peningkatan tekanan darah pada hipertensi berhubungan erat dengan tidak tepatnya penyimpanan garam dan air, atau meningkatnya tekanan dari dalam tubuh pada sirkulasi pembuluh darah perifer.(Nazir et al., 2018)
Dislipidemia Keadaan yang ditandai dengan kenaikan kadar lemak darah (Trigliserida >250 mg/dl). Terdapat hubungan antara kenaikan plasma insulin dengan rendahnya HDL (<35 mg/dl) sering didapat pada pasien diabetes. Memiliki riwayat dislipidemia mempunyai risiko 2 kali terjadi Diabetes Melitus tipe 2 dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki riwayat dislipidemia.(Nazir et al., 2018)
Alkohol dan rokok Perubahan-perubahan dalam gaya hidup berhubungan dengan peningkatan frekuensi Diabetes Melitus tipe 2. Walaupun kebanyakan peningkatan ini dihubungkan dengan peningkatan obesitas dan pengurangan ketidakaktifan fisik, faktor-faktor lain yang berhubungan dengan perubahan dari lingkungan tradisional kelingkungan kebarat-baratan yang meliputi perubahan-perubahan dalam konsumsi alkohol dan rokok, juga berperan dalam peningkatan Diabetes Melitus tipe 2. Alkohol akan mengganggu metabolisme gula darah terutama pada penderita Diabetes Melitus, sehingga akan mempersulit regulasi gula darah dan meningkatkan tekanan darah. Tekanan darah akan meningkat apabila mengkonsumsi etil alkohol lebih dari 60 ml/hari yang setara dengan 100 ml proof wiski, 240 ml wine atau 720 ml.(Nazir et al., 2018)
C.Patofisiologi
Seperti suatu mesin, badan memerlukan bahan untuk membentuk sel baru dan mengganti sel yang rusak. Di samping itu badan juga memerlukan energi supaya sel badan dapat berfungsi dengan baik. Energi pada mesin berasal dari bahan bakar yaitu bensin. Pada manusia bahan bakar itu berasal dari bahan makanan yang kita makan sehari-hari, yang terdiri dari karbohidrat (gula dan tepung-tepungan), protein (asam amino) dan lemak (asam lemak).(Nazir et al., 2018)
Pengolahan bahan makanan dimulai di mulut kemudian ke lambung dan selanjutnya ke usus. Di dalam saluran pencernaan itu makanan dipecah menjadibahan dasar makanan itu. Karbohidrat menjadi glukosa, protein menjadi asam amino dan lemak menjadi asam lemak. Ketiga zat makanan itu akan diserap oleh usus kemudian masuk kedalam pembuluh darah dan diedarkan keseluruh tubuh untuk dipergunakan oleh organ-organ di dalam tubuh sebagai bahan bakar. Supaya dapat berfungsi sebagai bahan bakar, zat makanan itu harus masuk dulu ke dalam sel supaya dapat diolah. Di dalam sel, zat makanan terutama glukosa dibakar melalui proses kimia yang rumit, yang hasil akhirnya adalah timbulnya energi. Proses ini disebut metabolisme. Dalam proses metabolisme itu insulin memegang peran yang sangat penting yaitu bertugas memasukkan glukosa kedalam sel, untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan bakar, Insulin ini adalah hormon yang dikeluarkan oleh sel beta di pancreas. Dalam keadaan normal artinya kadar insulin cukup sensitif, insulin akan ditangkap oleh reseptor insulin yang ada pada permuka (Nazir et al., 2018)
Pada diabetes dimana didapatkan jumlah insulin yang kurang atau pada keadaan kualitas insulinnya tidak baik (resistensi insulin), meskipun insulin ada dan reseptor juga ada, tapi karena ada kelainan di dalam sel itu sendiri pintu masuk tetap tidak dapat terbuka tetap tertutup hingga glukosa tidak dapat masuk sel untuk dibakar (dimetabolisme). Akibatnya glukosa tetap berada di luar sel, hingga kadar glukosa dalam darah meningkatan sel otot, kemudian membuka pintu masuk sel hingga glukosa dapat masuk sel untuk kemudian dibakar menjadi energi/tenaga. Akibatnya kadar glukosa dalam darah normal.(Nazir et al., 2018)
D.Gejala-Gejala Diabetes Melitus
Perkeni membagi alur diagnosis DM menjadi dua bagian besar berdasarkan ada tidaknya gejala khas DM. Gejala khas terdiri dari poliuria, polidipsia, polifagia dan berat badan menurun tanpa sebab yang jelas, sedangkan gejala tidak khas DM diantaranya lemas, kesemutan, luka yang sulit sembuh, gatal, mata kabur, disfungsi ereksi (pria) dan pruritus vulva (wanita). Apabila ditemukan gejala khas DM, pemeriksaan glukosa darah abnormal satu kali saja sudah cukup untuk menegakkan diagnosis, namun apabila tidak ditemukan gejala khas DM, maka diperlukan dua kali pemeriksaan glukosa darah abnormal.(Nazir et al., 2018)
Diagnosis Diagonosis Diabetes Melitus ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah. Pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan plasma darah vena. Pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler dengan glukometer. Diagnosis tidak dapat ditegakkan atas dasar adanya glukosuria.(Nazir et al., 2018)
Berbagi keluhan dapat ditemukan pada penyandang Diabetes Melitus. Kecurigaan adanya Diabetes Melitus perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan seperti:
Keluhan klasik DM: poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
Keluhan lain: lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, dan disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulva pada wanita.
E.Penatalaksanaan
Penatalaksanaan farmakologis terhadap Diabetes Melitus tipe 1 tidak sama dengan Diabetes Melitus tipe 2. Pengobatan Diabetes Melitus tipe 1 berkaitan dengan triad yang terdiri atas insulin, diet, dan gerak badan. Karena sifat Diabetes Melitus tipe 1 adalah insulinopenia, pemberian insulin merupakan tindakan pertama(Nazir et al., 2018).
Farmakologis insulin mempunyai tiga sifat, yaitu sumbernya,kekuatannya, dan tipe atau kinetiknya. Insulin juga berbeda dilihat dari kecepatan efek (awitan kerja), puncak efeknya, dan lamanya efek itu bertahan (durasi). Insulin juga diklasifikasi sebagai insulin kerja cepat, insulin kerja menengah, dan insulin kerja lama. Makanan seperti karbohidrat dan aktivitas (gerak badan) perlu disesuaikan dengan efek (kerja) insulin agar insulin tetap tersedia untuk metabolisme yang optimal ketika makanan telah diabsorbsi oleh gastrointestinal dan makanan tetap tersedia ketika efek insulin sedang berlangsung untuk menghindari hipoglikemia.(Nazir et al., 2018)
Pada individu tanpa diabetes, insulin dikeluarkan oleh pankreas dalam dua cara, yaitu basal dan prandial. Insulin dikeluarkan secara basal dalam keadaan puasa dan diantara waktu makan untuk mengendalikan haluaran glukosa hepatik. Juga, pada individu tanpa diabetes, kadar counterregulatory hormone sangat minim dengan kadar glukosa darah juga berada pada titik sangat rendah selama diantara tengah malam dan pukul 02.00. Setelah pukul 03.00-04.00, ada peningkatan counterregulatory hormone yang menyebabkan haluaran glukosa hepatik juga meningkat, yang bisa berlangsung sampai pukul 10.00-11.00. Untuk mempertahankan keadaan euglikemia, kadar glukosa darah yang normal, pankreas meningkatkan sekresi insulin sebanyak 50%.(Nazir et al., 2018)
Secara prandial, insulin dikeluarkan oleh pankreas sebagai respons terhadap asupan karbohidrat. Pankreas menyesuaikan jumlah insulin yang dikeluarkan dengan jumlah asupan karbohidrat.(Nazir et al., 2018)
Terdapat beberapa macam obat anti hiperglikemik oral:
a. Golongan insulin sensitizing
1. Biguanid Saat ini golongan biguanid yang banyak dipakai adalah metformin. Metformin terdapat dalam konsentrasi yang tinggi di dalam usus dan hati, tidak dimetabolisme tetapi secara cepat dikeluarkan melalui ginjal. Proses tersebut berjalan dengan cepat sehingga metformin biasanya diberikan dua sampai tiga kali sehari kecuali dalam bentuk extendend release. Setelah diberikan secara oral, metformin akan akan mencapai kadar tertinggi dalam darah setelah 2 jam dan diekskresi lewat urin dalam keadaan utuh dengan waktu paruh 2,5 jam.(Nazir et al., 2018)
2. Glitazone diabsorbsi dengan cepat dan mencapai konsentrasi tertinggi terjadi setelah 1-2 jam. Makanan tidak mempengaruhi farmakokinetik obat ini. Waktu paruh berkisar antara 3-4 jam bagi rosiglitazone dan 3-7 jam bagi pioglitazon.(Nazir et al., 2018)
b. Golongan sekretagok insulin
Sulfonilurea
Sulfonilurea sering digunakan sebagai terapi kombinasi karena kemampuannya untuk meningkatkan atau mempertahankan sekresi insulin. Obat golongan ini umumnya mempunyai sifat farmakologis yang serupa, demikian juga efek klinis dan mekanisme kerjanya. Efek akut obat golongan sulfonilurea berbeda dengan efek pada pemakaian jangka lama. Glibenklamid misalnya mempunyai masa paruh 4 jam pada pemakaian akut, tetapi pada pemakaian jangka lama > 12 minggu, masa paruhnya memanjang sampai 12 jam. (Bahkansampai > 20 jam pada pemakaian kronik dengan dosis maksimal). Karena itu dianjurkan untuk memakai glibenklamid sehari sekali.(Nazir et al., 2018)
Glinid Mekanisme
Glinid Mekanisme kerja glinid juga melalui reseptor sulfonilurea (SUR) dan mempunyai struktur yang mirip dengan sulfonilurea, perbedaannya dengan SU adalah masa kerjanya lebih pendek. Mengingat lama kerjanya yang pendek maka glinid digunakan sebagai obat prandial. Repaglinid dan nateglinid kedua-duanya diabsorbsi dengan cepat setelah pemberian secara oral dan cepat dikeluarkan melalui metabolisme dalam hati sehingga diberikan dua sampai tiga kali sehari. Repaglinid dapat menurunkan glukosa darah puasa walaupun mempunyai masa paruh yang singkat karena lama menempel pada kompleks SUR sehingga dapat menurunkan ekuivalen HbA1c.(Nazir et al., 2018)
Sedang nateglinid mempunyai masa tinggal lebih singkat dan tidak menurunkan kadar glukosa darah puasa. Sehingga keduanya merupakan sekretagok yang khusus menurunkan glukosa postprandial dengan efek hipoglikemik yang minimal. Mengingat efeknya terhadap glukosa puasa tidak begitu baik maka glinid tidak begitu kuat menurunkan HbA1c.(Nazir et al., 2018)
Penghambat alfa glukosidase Acarbose
Penghambat alfa glukosidase Acarbose hampir tidak diabsorbsi dan bekerja lokal pada saluran pencernaan. Acarbose mengalami metabolisme di dalam saluran pencernaan, metabolisme terutama oleh flora mikrobiologis, hidrolisis intestinal dan aktivitas enzim pencernaan. Waktu paruh eliminasi plasma kira-kira 2 jam pada orang sehat dan sebagian besar diekskresi melalui feses. Obat ini bekerja secara kompetitif menghambat kerja enzim alfa glukosidase di dalam saluran cerna sehingga dengan demikian dapat menurunkan penyerapan glukosa dan menurunkan penyerapan glukosa dan menurunkan hiperglikemia postprandial. Obat ini bekerja di lumen usus dan tidak menyebabkan hipoglikemia dan juga tidak berpengaruh pada kadar insulin.(Nazir et al., 2018)
F. Komplikasi
Komplikasi akut
Diabetes ketoasidosis. Ketoasidosis diabetik adalah akibat yang berasal dari defisit insulin yang berat pada jaringan adiposa, otot skletal, dan hepar. Jaringan tersebut termasuk sangat sensitif terhadap kekurangan insulin. DKA dapat dicetuskan oleh infeksi (penyakit).(Nazir et al., 2018).
Komplikasi kronis
Klasifikasi komplikasi kronis adalah mikrovaskular (menyangkut pembuluhh darah kecil) dan makrovaskular (menyangkut pembuluh darah besar). Komplikasi ini adalah akibat lama dan beratnya hiperglikemia. Perubahan pada pembuluh darah mengakibatkan retinopati diabetik, nefropati diabetik, neuropati perifer dan autonomik, penyakit vaskular perifer, penyakit serebrovaskular (stroke), serta penyakit arteri koroner. Komplikasi mikrovaskular dari DM tipe 1 jarang ditemukan dalam 5-10 tahun setelah penyakit diketahui.(Nazir et al., 2018)
Komplikasi Diabetes Melitus kronis meliputi: Retinopati diabetik, nefropatik diabetik, neuropati diabetik, dislipidemia, kaki diabetik.(Nazir et al., 2018)
G.Tanaman Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.)
Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.)
Pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) termasuk genus Pandanus dari suku Pandanaceae. Suku Pandanaceae mempunyai marga antara 200 hingga 300 jenis, terbagi dalam tiga marga utama, yaitu Pandanus, Freycinetia, dan Sararanga, yang tersebar di daerah tropika, di tepi-tepi pantai dan sungai-sungai.(Nazir et al., 2018)
Pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) adalah tanaman asli indonesia yang berasal dari Bangka dan tersebar luas di daerah Asia Tenggara. Budidaya tanaman ini umumnya dilakukan di pekarangan rumah, disamping untuk tumbuhnya tidak membutuhkan tanah yang luas juga memudahkan sewaktu pemetikan karena daun pandan wangi sering dimanfaatkan sebagai pewangi dan pemberi zat warna hijau pada makanan dan minuman. Bagi pencinta flavor dan zat warna alami, daun pandan wangi merupakan salah satu alternatif yang aman untuk dikonsumsi(Nazir et al., 2018)
Tanaman ini mempunyai daun yang selalu hijau sepanjang tahun.Batangnya bulat, dapat tunggal atau bercabang-cabang dan mempunyai akar udara atau akar tunjang yang muncul pada pangkal batang. Helaian daun berbentuk pita, memanjang, tepi daun rata, ujung daun meruncing. Daun berwarna hijau dan tersusun secara spiral.(Nazir et al., 2018)
Klasifikasi Klasifikasi
Klasifikasi Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) adalah sebagai berikut:
Kingdom :Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisi I : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Pandanales
Famil : Pandanaceae
Genus : Pandanus
Spesies : Pandanus amaryllifolius Roxb.
Morfologi
Pandan wangi adalah jenis tanaman monokotil dari famili Pandanaceae. Daunnya merupakan komponen penting dalam tradisi masakan Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.(Nazir et al., 2018)
Tanaman ini adalah tanaman perdu tahunan dengan tingi 1-2 m. Batang berbentuk bulat dengan bekas duduk daun, bercabang, menjalar, serta akar tunggang keluar di sekitar pangkal batang dan cabang. Daun tunggal, duduk dengan pangkal memeluk batang, dan tersusun berbaris tiga dalam garis spiral. Daun berbentuk pita, tipis, licin, ujung runcing, tepi rata, bertulang sejajar, lebar 3-5 cm, panjang 40-80 cm, berduri tempel pada ibu tulang daun permukaan bawah bagian ujung-ujungnya, dan berwarna hijau. Bunga majemuk, berbentuk bongkol, dan berwarna putih. Buah batu, berbentuk bola, tumbuh menggantung, diameter 4-7,5 cm, dinding buah berambut, dan berwarna jingga.(Nazir et al., 2018)
Kandungan
Daun pandan wangi memiliki berbagai kandungan kimia dengan aktivitas farmakologi yang beragam. Bagian daun dari tanaman pandan wangi memiliki aroma khas, yang diketahui berasal dari kandungan senyawa 2-acetyl-1-pyrroline (ACPY). Senyawa ini juga terdapat pada tanaman melati, hanya saja memiliki konsentrasi yang lebih rendah dibandingkan pada tanaman pandan wangi.(Nazir et al., 2018)
Daun pandan wangi mengandung senyawa kimia seperti alkaloid saponin,polifenol, flavonoid, kumarin, terpen dan terpenoid, essential oils, karotenoids, kuercetin. Beberapa golongan alkaloid yang ditemukan pada ekstrak daun pandan wangi yaitu norpandamarilactonineA,-B, pandamarilactam, pandamarilacton-1, pandamarine, pandanamine, pandamarilactonine, serta piperidin.Daun pandan wangi juga memiliki kandungan flavonoid yang cukup tinggi dimana hasil maserasi daun pandan wangi dengan etanol 96% mengandung kadar fenolik total sebesar 478,762 mg/g dan kadar flavonoid total 99,408 mg/g.(Nazir et al., 2018)
Manfaat
Daun pandan wangi juga merupakan komponen cukup penting dalam tradisi boga Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya sebagai pewangi makanan karena aroma yang dihasilkannya. Ada yang suka mencampur lembaran daunnya bersama beras yang dimasak agar nasi yang dihasilkan lebih beraroma. Daun pandan juga dipakai untuk pengharum kue atau makanan basah tradisional. Selain sebagai pengharum kue, daun pandan juga dipakai sebagai sumber warna hijau bagi makanan, sebagai komponen hiasan penyajian makanan, dan juga sebagai bagian dalam rangkaian bunga di pesta perkawinan untuk mengharumkan ruangan. Pandan wangi selain sebagai rempah-rempah juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan minyak wangi. Irisan daun pandan muda dicampur bunga mawar, melati, cempaka dan kenanga, sering diselipkan di sanggul supaya rambut menjadi harum, atau diletakkan di antara pakaian dalam lemari. Daun pandan yang diiris kecil juga digunakan untuk campuran bunga rampai atau bunga tujuh rupa.(Nazir et al., 2018)
Daun pandan wangi juga memiliki kandungan alkaloid, saponin, flavonoid, tanin, polifenol, dan zat warna. Masing-masing senyawa kimia tersebut dapat membantu menurunkan kadar gula darah dalam tubuh pada saat 4 jam setelah pemberian pandan wangi. Tanin memacu metabolisme glukosa dan lemak, digunakan untuk mencegah timbunan glukosa dan lemak di darah. Alkaloid meningkatkan sekresi hormon pertumbuhan, menurunkan glukoneogenesis, meningkatkan kebutuhan insulin dan kadar glukosa darah turun. Flavonoid akan menghambat GLUT 2 mukosa usus yang menyebabkan kadar glukosa darah akan turun.(Nazir et al., 2018)
H. prosedur pemberian air rebusan daun pandan
1. Alat dan Bahan
a. Glucometer
b. Gelas ukur
c. Gelas Plastik
d. Akuades
e. Daun pandan wangi
f. Air putih
2. Cara Kerja.
Persiapan air rebusan dengan menyediakan daun pandan wangi 162 mg lalu di cuci sampai bersih. Masukkan daun pandan wangi ke dalam gelas ukur dengan mencampurkan air sebanyak 400 mL. Rebus hingga hingga mencapai 200 mL. Perebusan dilakukan dengan suhu 100oC.(Nazir et al., 2018)
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa air rebusan daun pandan wangi berpengaruh dalam penurunan kadar gula darah penderita Diabetes Melitus. 5.2
Saran
Diharapkan tulisan ini dapat menambah pengetahuan masyarakat mengenai Diabetes Melitus dan manfaat air rebusan daun pandan wangi dalam menurunkan kadar gula darah.
DAFTAR PUSTAKA
Nazir, M. S., Wahjoedi, B. A., Yussof, A. W., Abdullah, M. A., Singh, A., da Cunha, S., … Access, O. (2018). No Title膠原病 ・ 血管炎にともなう皮膚潰瘍診療ガイドライン. Spectrochimica Acta - Part A: Molecular and Biomolecular Spectroscopy, 192(4), 121–130. Retrieved from http://ec.europa.eu/energy/res/legislation/doc/biofuels/2006_05_05_consultation_en.pdf%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.saa.2017.10.076%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.biortech.2018.07.087%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.fuel.2017.11.042%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.
Nazir, M. S., Wahjoedi, B. A., Yussof, A. W., Abdullah, M. A., Singh, A., da Cunha, S., … Access, O. (2018). No Title膠原病 ・ 血管炎にともなう皮膚潰瘍診療ガイドライン. Spectrochimica Acta - Part A: Molecular and Biomolecular Spectroscopy, 192(4), 121–130. Retrieved from http://ec.europa.eu/energy/res/legislation/doc/biofuels/2006_05_05_consultation_en.pdf%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.saa.2017.10.076%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.biortech.2018.07.087%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.fuel.2017.11.042%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.
ASKEP KELUARGA LAUNCING CENTER
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TN.S
PADA TAHAP PERKEMBANGAN
LAUNCING CENTER
DOSEN MATA KULIAH
Diah Indriastuti, S,Kep., Ns., M.Kep
SUMIATIN
S.0017.P.036
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
KARYA KESEHATAN KENDARI
PRODI S1 KEPERAWATAN
KENDARI
2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT,Karena berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan penyusunan Asuhan Keperawatan ini tepat pada waktunya. Terlantun solawat serta salam buat untuk imam besar kita semua Nabi Muhammad SAW.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan Asuhan Keperawatan ini masih banyak kekurangan, baik dari segi isi maupun redaksinya. Asuhan Keperawatan ini masih jauh dari kesempurnaan karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dapat menyusun Asuhan Keperawatan yang lebih baik di masa yang akan datang. Semoga Asuhan keperawatan ini bermanfaat untuk memberikan kontribusi bagi kita dalam memajukan ilmu keperawatan.
Kendari, 18 February 2021
Penyusun
DAFTAR ISI
Contents
KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB 1 4
PENDAHULUAN 4
A. Latar belakang 4
B. Tujuan 5
C. Manfaat 5
BAB II 6
TINJAUAN TEORI 6
A. Definisi 6
B. Tipe Keluarga 6
D. Tugas Kesehatan Keluarga 11
E. Tahap-tahap Perkembangan Keluarga 12
F. Definisi Tahap Perkembangan L unching Center 12
G. Tugas Keluarga pada Tahap Perkembangan L aunching C enter 13
H. Mayoritas Masalah Kesehatan pada Tahap Perkembangan Launching center 13
I. Peran Perawat pada Keluarga 13
BAB III 16
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA 16
A. PENGKAJIAN KELUARGA 16
B. PENGKAJIAN INDIVIDU 17
D. Struktur keluarga 23
E. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga 23
F. Status sosial ekonomi keluarga 24
G. Fungsi keluarga 24
H. Koping keluarga 24
I. Aktivitas rekreasi keluarga 25
J. Harapan keluarga 25
K. Tingkat kemandirian keluarga 25
L. Analisa data 27
M. Rumusan masalah 28
N. Intervensi kesehatan 28
O. Evaluasi 31
PENUTUP 33
A. Kesimpulan 33
B. Saran 33
DAFTAR PUSTAKA 34
BAB 1
PENDAHULUAN
Latar belakang
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga
dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal disuatu tempat dibawah satu atap dan keadaan saling ketergantungan (Departemen Kesehatan). Keluarga adalah dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan-ikatan kebersamaan, ikatan emosional dan yang mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian dari keluarga . Keluarga adalah dua orang atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan.
Asuhan keperawatan keluarga digunakan untuk membantu menyelesaikan
masalah kesehatan keluarga dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan. Agar pelayanan kesehatan yang diberikan dapat diterima oleh keluarga, maka perawat harus mengerti, memahami tipe dan struktur keluarga, mengetahui tingkat pencapaian keluarga dalam melakukan fungsinya dan perlu paham setiap tahap perkembangan keluarga dan tugas perkembangannya.(Keluarga, 2019)
Status sehat atau sakit dalam keluarga saling mempengaruhi satu sama lain.
Suatu penyakit dalam keluarga mempengaruhi seluruh keluarga dan sebaliknya mempengaruhi jalanya suatu penyakit dan status kesehatan anggota keluarga. Keluarga cenderung dalam pembuatan keputusan dan proses terapeutik pada setiap tahap sehat dan sakit pada para anggota keluarga. Keluarga merupakan para anggota sebuah keluarga baiasanya hidup bersama-sama dalam satu rumah tangga, atau jika mereka hidup secara terpisah, mereka tetap menganggap rumah tangga tersebut sebagai rumah tangga mereka(Keluarga, 2019)
Pada keluarga dewasa merupakan tahap dimana semua anak akan pergi atau
keluar meninggalkan rumah atau orang tuanya. Didalam kehidupan keluarga dewasa dimana orang tuanya akan merasa banyak kehilangan karena perginya anak-anak dari rumah. Pada keluarga ini juga terdapat berbagai masalah yang dialami oleh keluarga itu sendiri. Dan perawat sangat berperan penting dalam memenuhi kebutuhan yang berkaitan dengan kesehatan kepada keluarga.
Fase kehidupan keluarga ini ditandai oleh puncak tahun-tahun persiapan bagi anak
yang telah siap untuk kehidupan dewasa yang mandiri. Orang tua, pada saat mereka melepaskan anak-anaknya pergi, melepaskan peran mereka sebagai orang tua yang telah dijalankan selama 20 tahun atau lebih dan mereka kembali ke pasangan hikdup mereka. Tugas perkembangan keluarga sangat penting jika keluarga berpindah dari rumah tangga dengan anak ke rumah tangga dengan pasangan suami-istri. Tujuan utama keluarga adalah menata ulang keluarga ke dalam unit berkelanjutan ketika melepaskan dewasa muda yang telah dewasa ke dalam kehidupan mereka sendiri (Duvall & Miller, 1985). Selama tahap ini, pasangan baru dapat memikul peran sebagai kakek/nenek-perubahan lain dalam peran dan citra diri mereka.(Jhonson L, 2010)
Keluarga mempunyai tahap perkembangan sebagaimana layaknya individu, perkembangan itu terutama dalam hal besarnya keluarga dan kemampuannya, mulai dari pasangan yang baru menikah, baru memiliki anak, memiliki anak remaja, memiliki anak remaja, memiliki anak dewasa, sampai salah satu anggota keluarganya meninggal dunia
Tujuan
Untuk mengetahui dan memahami bagaimana asuhan keperawatan pada keluarga pada tahap perkembangan launching center family.
Manfaat
Bagi mahasiswa, makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan reverensi untuk materi Tahap perkembangan launching center family
Bagi masyarakat, makalah ini dapat memberikan edukasi tentang Tahap perkembangan launching center family
BAB II
TINJAUAN TEORI
Konsep keluaga
Definisi
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga
dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga
dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. (Effendy, 1998). Dapat disimpulkan bahwa karakteristik keluarga adalah (Salafudin,2005) :
1. Terdiri dari dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan atau adopsi.
2. Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka tetap memperhatikan satu sama lain.
3. Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai peran sosial : suami, istri, anak, kakak dan adik.
4. Mempunyai tujuan : menciptakan dan mempertahankan budaya, meningkatkan perkembangan fisik, psikologis, dan sosial anggota.
Tipe Keluarga
Dalam (Murwani, 2007) di sebutkan beberapa tipe keluarga yaitu :
1) Tipe Keluarga Tradisional
1. Keluarga Inti (Nuclear Family), adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak.
2. Keluarga Besar (Exstended Family), adalah keluarga inti di tambah dengan sanak saudara, misalnya nenek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan sebagainya.
3. Keluarga “Dyad” yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari suami d an istri tanpa anak.
4. “Single Parent” yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari satu orang tua (ayah/ibu) dengan anak (kandung/angkat). Kondisi ini dapat disebabkan oleh perceraian atau kematian.
5. “Single Adult” yaitu suatu rumah tangga yang hanya terdirise orang dewasa (misalnya seorang yang telah dewasa kemudian tinggal kost untuk bekerja atau kuliah)
2.) Tipe Keluarga Non Tradisional
1. The Unmarriedteenege mather
Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa nikah
2. The Stepparent Family
Keluarga dengan orang tua tiri.
3. Commune Family
Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada hubungan saudara hidup bersama dalam satu rumah, sumber dan fasilitas yang sama, pengalaman yang sama : sosialisasi anak dengan melelui aktivitas kelompok atau membesarkan anak bersama.
4. The Non Marital Heterosexual Conhibitang Family
Keluarga yang hidup bersama dan berganti – ganti pasangan tanpa melelui pernikahan.
5. Gay And Lesbian Family
Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama sebagaimana suami – istri (marital partners).
6. Cohibiting Couple
Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan karena beberapa alasan tertentu.
7. Group-Marriage Family
Beberapa orang dewasa menggunakan alat – alat rumah tangga bersama yang saling merasa sudah menikah, berbagi sesuatu termasuk seksual dan membesarkan anaknya.
8. Group Network Family
Keluarga inti yang dibatasi aturan atau nilai – nilai, hidup bersama atau berdekatan satu sama lainnya dan sali ng menggunakan barang – barang rumah tangga bersama, pelayanan dan tanggung jawab membesarkan anaknya.
9. Foster Family
Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga atau saudara didalam waktu sementara, pada saat orang tua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali keluarga yang aslin ya.
10. Homeless Family
Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang permanent karena kris is personal yang dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental.
11. Gang
Sebuah bentuk keluarga yang destruktif dari orang- orang muda yang mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian tetapi berkembang dalam kekerasan dan criminal dalam kehidupannya.
C . Fungsi Keluarga
Friedman, (2010) mengidentifikasi 5 fungsi dasar keluarga, yaitu:
1) Fungsi Afektif
Fungsi afektif berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga, yang merupakan basis kekuatan keluarga. Fungsi afektif berguna untuk pemenuhan kebutuhan psikososial. Keberhasilan melaksanakan fungsi afektif tampak pada kebahagiaan dan kegembiraan dari seluruh anggota keluarga. Tiap anggota keluarga saling mempertahankan iklim yang positif. Hal tersebut dapat dipelajari dan dikembangkan melalui interaksi dan hubungan dalam keluarga. Dengan demikian, keluarga yang berhasil melaksanakan fungsi afektif, s eluruh anggota keluarga dapat mengembangkan konsep diri positif. Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga dalam melaksanakan fungsi afektif adalah :
1. Saling mengasuh : cinta kasih, kehangatan, saling menerima, saling mendukung antar anggota keluarga, mendapatkan kasih sayang dan dukungan dari anggota yang lain akan meningkatkan kemampuannya untuk memberikan kasih sayang yang pada akhirnya akan tercipta hubungan yang hangat dan saling mendukung. Hubungan intim didalam keluarga merupakan modal dasar dalam memeberikan hubungan dengan orang lain diluar keluarga/ masyarakat.
2. Saling menghargai. Anggota keluarga yang saling menghargai dan mengakui keberadaan dan hak setiap anggota keluarga serta selalu mempertahankan iklim
yang positif, maka fungsi afektif akan tercapai.
3. Ikatan dan identifikasi ikatan keluarga dimulai seja k pasangan sepakat memulai hidup baru. Ikatan antar anggota keluarga dikembangkan melalui proses identifikasi dan penyesuaian pada berbagai aspek kehidupan anggota keluarga. Orang tua harus mengembangkan proses identifikasi yang positif sehingga anakanak dapat meniru tingkah laku yang positif dari kedua orang tuanya.Fungsi afektif merupakan “sumber energi” yang menentukan kebahagiaan
keluarga. Keretakan keluarga, kenakalan anak atau masalah keluarga, timbul karena fungsi afektif di dalam keluarga tidak dapat t erpenuhi.
2) Fungsi Sosialisasi
Sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan yang dilalui individu, yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam lingkungan sosial. Sosialisasi dimulai sejak manusia lahir. Keluarga merupakan tempat individu untuk belajar bersosialisasi, misaln ya anak yang baru lahir dia akan menatap ayah, ibu, dan orang-orang yang ada di sekitarnya Kemudian beranjak balita dia mulai belajar
bersosialisasi dengan lingkungan sekitar meskipun demikian keluarga tetap berperan penting dalam bersosialisasi. Keberhasilan perkembangan individu dan keluarga dicapai melalui interaksi atau hubungan antar anggota keluarga yang diwujudkan dalam sosialisasi.
3) Fungsi Reproduksi
Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dan menambah sumber daya manusia. Maka dengan ikatan suatu perkawinan yang sah, selain untuk memenuhi kebutuhan biologis pada pasangan tujuan untuk membentuk keluarga adalah untuk meneruskan keturunan.
4) Fungsi Ekonomi
Fungsi ekonomi merupakan fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga seperti memenuhi kebutuhan akan makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Banyak pasangan sekarang kita lihat dengan penghasilan yang tidak seimbang antara suami dan ist ri, hal ini menjadikan permasalahan yang berujung pada perceraian.
5) Fungsi Perawatan Kesehatan
Keluarga juga berperan atau berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan kesehatan, yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan atau merawat anggota keluarga yang sakit. Kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan kesehatan mempengaruhi status kesehatan keluarga. Kesanggupan keluarga
melaksanakan pemeliharaan kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga yang dilaksanakan. Keluarga yang dapat melaksanakana tugas kesehatan berarti sanggup menyelesaikan masalah kesehatan
Tugas Kesehatan Keluarga
Menurut Freeman (1981) terdapat lima tugas kesehatan keluarga, diantaranya:
Mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya
Orangtua perlu mengenal keadaan kesehatan dan perubahan-perubahan yang dialami anggota keluarga. Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian dan tanggung jawab keluarga, maka apabila menyadari adanya perubahan perlu segera dicatat kapan terjadinya, perubahan apa yang terjadi dan seberapa besar perubahannya (Setiadi, 2006).
2. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga
Tindakan kesehatan yang dilakukan oleh keluarga diharapkan tepat agar masalah kesehatan dapat dikurangi atau bahkan teratasi. Jika keluarga mempunyai keterbatasan dapat meminta bantuan kepada orang di lingkungan sekitar keluarga (Setiadi, 2006).
3. Memberikan perawatan anggota keluarga yang sakit atau yang tidak dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya yang terlalu muda
Perawatan ini dapat dilakukan di rumah apabila keluarga memiliki kemampuan melakukan tindakan untuk memperoleh tindakan lanjutan agar masalah yang lebih parah tidak terjadi (Setiadi, 2006).
4. Mempertahankan suasana rumah yang menguntungkan kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga
Keluarga memainkan peran yang bersifat mendukung anggota keluarga yang sakit. Dengan kata lain perlu adanya sesuatu kecocokan yang baik antara kebutuhan keluarga dan asupan sumber lingkungan bagi pemeliharaan kesehatan anggota keluarga (Friedman, 1998).
5. Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembaga kesehatan (pemanfaatan fasilitas kesehatan yang ada) Hubungan yang sifatnya positif akan memberi pengaruh yang baik pada keluarga mengenai fasilitas kesehatan. Diharapkan dengan hubungan yang positif terhadap pelayanan kesehatan akan merubah setiap perilaku anggota keluarga mengenai sehat sakit (Friedman, 1998).
Tahap-tahap Perkembangan Keluarga
Perkembangan keluarga adalah proses perubahan yang terjadi pada sistem keluarga yang meliputi perubahan pola interaksi dan hubungan antara anggotanya disepanjang waktu.
1. Tahap I pasangan baru atau keluarga baru (beginning family).
2. Tahap II keluarga dengan kelahiran anak pertama (child bearing family).
3. Tahap III keluarga dengan anak prasekolah (families with preschool).
4. Tahap IV keluarga dengan anak usia sekolah (families with children).
5. Tahap V keluarga dengan anak remaja (families with teenagers).
6. Tahap VI keluarga dengan anak dewasa atau pelepasan (launching center family).
7. Tahap VII keluarga usia pertengahan (middle age families).
8. Tahap VIII keluarga usia lanjut
Definisi Tahap Perkembangan L unching Center
Tahap launching center family yaitu tahap ketika keluarga melepas anak usia dewasa muda yang ditandai oleh anak pertama meninggalkan rumah orang tua dan berakhir dengan “rumah kosong”, ketika anak terakhir meninggalkan rumah. Tahap ini dapat singkat atau agak panjang, tergantung pada berapa banyak anak yang belum menikah yang masih tinggal di rumah. Fase ini ditandai oleh tahun-tahun puncak persiapan dari dan oleh anak-anak untuk kehidupan dewasa yang mandiri. Tugas pengembangan keluarga yang dihadapi adalah mempersiapkan diri untuk ditinggal anak-anak, mempersiapkan diri untuk berkomunikasi dengan anak-anak sebagai orang dewasa, lebih meningkatkan hubungan suami istri dan mempersiapkan diri untuk menjadi mertua, kakek, nenek yang baik
Tugas Keluarga pada Tahap Perkembangan L aunching C enter
Ada beberapa tugas perkembangan pada fase ke IV atau pada launching center family, yaitu :
1. Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar;
2. Mempertahankan keintiman pasangan;
3. Membantu orang tua memasuki masa tuanya;
4. Membantu anak untuk mandiri di masyarakat;
5. Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga.
Mayoritas Masalah Kesehatan pada Tahap Perkembangan Launching center
Masalah-masalah yang sering muncul pada anak-anak usia dewasa, pada t ahap ini adalah :
1. Masalah medis : Akne, dysmenorrhea dan masalah yang berhubungan dengan seks seperti penyakit kelamin dan kehamilan yang tak diinginkan.
2. Masalah emosional Psikosomatis yang berhubungan dengan pekerjaan baru, depresi karena penyesuaian terhadap lingkungan baru dan ekspektasi dari orang-orang terdekat.
3. Masalah sosial Tekanan dari teman-teman dalam penggunaan alkohol, merokok, tekanan dari pacar untuk menikah.
Pada saat anak-anak beranjak dewasa, pasangan tersebut mulai memasuki usia pertengahan dan orang tua mereka memasuki usia lanjut. Masalah-masalah terkait tanda-tanda premenopause pada orang tua. Dan juga masalah sosial dan emosional, terkait krisis usia pertengahan pada orang tua
I. Peran Perawat pada Keluarga
1. Pendidik
Perawat perlu memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga agar :
a) Keluarga dapat melakukan program asuhan kesehatan keluarga secara mandiri
b) Bertanggung jawab terhadap masalah kesehatan keluarga
2. Koordinator
Diperlukan pada perawatan berkelanjutan agar pelayanan yang komprehensif dapat tercapai. Koordinasi juga sangat diperlukan untuk mengatur program kegiatan atau terapi dari berbagai disiplin ilmu agar tidak terjadi tumpang tindih dan pengulangan
3. Pelaksana
Perawat yang bekerja dengan klien dan keluar ga baik di rumah, klinik maupun di rumah sakit bertanggung jawab dalam memberikan perawatan langsung.Kontak pertama perawat kepada keluarga melalui anggota keluarga yang sakit. Perawat dapat mendemonstrasikan kepada keluarga asuhan keperawatan yang diberikan dengan harapan keluarga nanti dapat melakukan asuhan langsung kepada anggota keluarga yang sakit
4. Pengawas kesehatan
Sebagai pengawas kesehatan, perawat harus melakukan home visite atau kunjungan rumah yang teratur untuk mengidentifikasi atau melakukan pengkajian tentang kesehatan keluarga.
5. Konsultan
Perawat sebagai narasumber bagi keluarga di dalam mengatasi masalah kesehatan. Agar keluarga mau meminta nasehat kepada perawat, maka hubungan perawat-keluarga harus dibina dengan baik, perawat harus bersikap terbuka dan dapat dipercaya.
6. Kolaborasi
Perawat juga harus bekerja dama dengan pelayanan rumah sakit atau anggota tim kesehatan yang lain untuk mencapai tahap kesehatan keluarga yang optimal
7. Fasilitator
Membantu keluarga dalam menghadapi kendala untuk meningkatkan derajat kesehatannya. Agar dapat melaksanakan peran fasilitator dengan baik, maka perawat komunitas harus mengetahui sistem pela yanan kesehatan (sistem rujukan, dana sehat, dll)
8. Penemu kasus
Mengidentifikasi masalah kesehatan secara dini, sehingga tidak terjadi ledakan atau wabah.
9. Modifikasi lingkungan
Perawat juga harus dapat mamodifikasi lingkungan, baik lingkungan rumah maupun lingkungan masyarakat, agar dapat tercipt a lingkungan yang sehat.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
PENGKAJIAN KELUARGA
DATA UMUM & KONDISI KESEHATAN KELUARGA
Puskesmas
:
Kolono
Alamat
:
Desa Puupi
Hari/Tanggal Pengkajian
:
Selasa/09 februari 2021
Nama KK
:
Tn.S
Usia
:
56tahun
Pendidikan
:
SMA
Pekerjaan
:
Petani
Komposisi Keluarga :
No
Nama Anggota Keluarga
Hub. Keluarga
L/P
Umur (th)
Pendidikan
Agama
Suku
Pekerjaan
Imunisasi (L/TL)
KB
Alat bantu, ptotesa
Keadaan umum (sehat/tidak sehat)
Riwayat penyakit & alergi
1.
Tn. S
Suami
L
56
SMA
Islam
Bugis
Petani
Lengkap
Tidak
Tidak ada
Sehat
Asma
2.
Ny. Y
Istri
P
53
SMP
Islam
Bugis
IRT
Lengkap
Tidak
Tidak ada
Sehat
Tidak ada
3.
Nn. N
Anak
P
20
SMA
Islam
Bugis
Tidak kerja
Lengkap
Tidak
Tidak ada
Sehat
Tidak ada
Jarak Untuk Mencapai Pelayanan Kesehatan Terdekat
Fasilitas Kesehatan
Jarak
Cara tempuh
Puskesmas
:
900 meter
Motor
roda 2
:
Puskesmas Pembantu
:
200 meter
Motor
roda 2
:
Posyandu
:
100 meter
Motor
roda 2
:
3. Genogram
4. TipeKeluarga
Keluarga inti
PENGKAJIAN INDIVIDU
No
Data
Tn.S
Ny.Y
Nn.N
Keadaan umum :
Baik
Baik
Baik
Penampilan
Baik
Baik
Baik
BB
60 kg
65 kg
55 kg
TB
150 cm
170 cm
155 cm
Status Gizi
Baik
Baik
Baik
Diagnosa medis
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Masalah kesehatan yang pernah dialami
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Masalah kesehatan sekarang
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Masalah kesehatan yang lalu
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Masalah kesehatan keluarga (turunan)
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
TTV :
Tekanan darah
110 MmHg
120 MmHg
110 MmHg
Respirasi
24x/menit
20x/menit
20x/menit
Nadi
80x/menit
72x/menit
74x/menit
3.
Palpebra
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Fungsi
Baik
Baik
Baik
4.
Telinga :
Bentuk
Normal
Normal
Normal
Keadaan
Bersih
Bersih
Bersih
Fungsi
Baik
Baik
Baik
5.
Hidung :
Bentuk
Normal
Normal
Normal
Keadaan
Bersih
Bersih
Bersih
Fungsi
Baik
Baik
Baik
6.
Mulut :
Gigi
Baik
Baik
Baik
Fungsi menelan
Baik
Baik
Baik
Kelembaban
Baik
Baik
Baik
7.
Leher :
Pembengkakan kelenjar tiroid
Tidakterdapat pembengkakan
Tidak terdapat pembengkakan
Tidak terdapat pembengkakan
8.
Dada :
Bentuk
Normal
Normal
Normal
Suara paru
Resonan
Resonan
Resonan
Respirasi
18X/menit
18X/menit
20X/Menit
Bunyi jantung
S1, S2
S1, S2
S1, S2
9.
Abdomen :
Bentuk
Normal
Normal
Normal
Nyeri tekan
Tidak adanyeri
Tidak ada nyeri
Tidak adanyeri
10.
Ekstremitas :
Oedema
Tidak adaoedema
Tidak ada oedema
Tidak ada oedema
Kontraktur
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
11.
Istirahat dan tidur
Baik
Baik
Baik
12.
Status mental
Baik
Baik
Baik
13.
Kebersihan diri
Bersih
Bersih
Bersih
14.
Sistem respirasi
Tidak adamasalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
15.
Sistem kardiovaskuler
Tidak adamasalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
16.
Sistem pencernaan
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
17.
Sistem urinaria
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
18.
Sistem integument
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
19.
Sistem persyarafan
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
20.
Sistem muskulosketal
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Pemeriksaan penunjang bagi yang sakit (lab, radiologi, EKG, USG)
Tidak adapemeriksaan
Tidakada pemeriksaan
Tidak ada pemeriksaan
C. KESEHATAN LINGKUNGAN
Karakteristik Rumah
A)
E)
B)
F)
C)
Ket:
A. Kamar anak Nn.N
B. Kamar mandi
C. Kamar Tn.B dan Ny.S
D. Ruang keluarga
E. Ruang tv
G. Ruang makan
Tipe Tempat Tinggal
Keluarga sudah memiliki tempat tinggal sendiri
Gambaran kondisi rumah
Luas ruma keluarga 14x5 m ,kebersihan rumah cukup bersih .
Jenis bangunan
Semi permanen
Luas bangunan
15x5 m
Luas pekarangan
60 m
Jumlah jendela
4 jendela
Kondisi ventilasi rumah
Memiliki sirkulasi udara yang baik
Kondisi pencahayaan rumah
Penerangan menggunakan listrik digunakan pada siang dan malam hari karena kurang pencahyaan
Jenis lantai
Lantai tempat tinggal menggunakan tehel
Kebersihan rumah secara keseluruhan
Kebersihan cukup bersih
Pengelolaan sampah keluarga
Sampah dibuang digalian dan membakar sampahnya.
Kondisi jamban keluarga
Terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa .
Sumber air bersih dalam keluarga
Sumber air bersih keluarga berada disumur dekat rumah.
Jarak sumber air minum dengan septic tank
Sekitar 20 m dari tempat keluarga tinggal
Sumber air minum yang digunakan
Mengunakan air sumber kemasan
Keadaan dapur
Cukup bersih
Pembuangan limbah
Saluran diarahkan menuju kali
Keamanan lingkungan rumah
Keamanan lingkungan Tn.S sangat aman
Perasaan subyektif keluarga terhadap rumah
Perasannya sangat senang, nyaman dan aman berada di tempat tinggalnya
Pengaturan pengaturan rumah dan privaci
Pengaturannya cukup rapi penempatannya
Karakteristik Lingkungan dan Komunitas Tempat Tinggal yang lebih luas.
Karakteristik fisik dari lingkungan
Ditempat tinggal Tn.S jarak antara satu rumah dan lainnya cukup dekat. Keluarga Tn .S sering berinteraksi dan berkomunikasi dengan tetangga sekitar hal ini mendukung karena tetangganya sangat ramah
Karakteristik duemografis dari lingkungan dan komunitas
Keluarga Tn.S tidak pernah pandah didesa atau kekota lain
Bagimana fasilitas-fasilitas mudah diakses atau dijangkau oleh keluarga
Keluarga Tn.S cukup berperan dalam mengikuti kegiatan .
Tersedianya transportasi umum yang dapat digunakan oleh keluarga dalam mengakses fasilitas yang ada.
Keluarga Tn.S menggunakan transportasi pribadi sepeda motor yang digunakan saat berpergian kemana-mana
e. Mobilitas geografis keluarga
menurut klien tidak pernah pindah daerah kota lain .
Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Keluarga Tn.S Mengatakan sering mengikuti majelis.
D. Struktur keluarga
Pola dan komunikasi keluarga
Keluarga Tn. S berkomunikasi degan menggunakan bahasa Bugis dan indonesi tapil bahasa Indonesia yang lebih sering digunakan.
Struktur kekuatan keluarga
Hingga saat ini Tn.S sangat berperan penting dalam mencari nafkah sedangkan anak dan istrinya tidak berkerj
Nilai-Nilai Keluarga
Nilai-nilai dan norma yang dianut dua sisih yaitu berdasarkan kebiasaan suku Bugis dalam agama islam. Nilai dan norma yang dimaksud saling menghargai, menghormati, serta saling menjaga kerkunan dalam keluarga dan masyrakat.
E. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
Tahap perkembangan keluarga saat ini
Keluarga Tn.S memiliki 1 orang putri yang masing-masing sudah memasuki usia dewasa.
Riwayat kesehatan keluarga inti
Tn.S mengeluh merasakan kaku diseluruh badan dan tidak bias di gerakkan,kepala terasa berat,pusing,demam.
Latar Belakang Budaya Keluarga
keluarga Tn.S berlatar belakang suku buton,nilai-nilai dalam keluarga pun berdasarkan budaya suku buton.
F. Status sosial ekonomi keluarga
Penghasilan keluarga Tn. S adalah sebesar 1.500.000-2.000.000/bulan ada perubahan penghasilan sejak awal menikah sangat meningkat.
G. Fungsi keluarga
Fungsi Sosial
Keluarga Tn. S aktif dalam kegiatan social yang berada dimasyarakat, keluarga tersebut juga aktif berinteraksi dengan masyarakat sekitar.
Fungsi Perawatan kesehatan
Jika salah satu dalam keluarga Tn.S sakit mereka saling merawat dalam anggota keluarga. Biasanya mereka meminum obat-obatan terlebih dahulu sebagai tindakan pertama. Namun jika keadaan tidak membaik maka mereka akan berobat ke fasilitas kesehatan terdekat.
H. Koping keluarga
Stresor jangka pendek dan jangka panjang
Terdapat beberapa stressor jangka pendek dalam keluarga Tn. S bagi Tn. S pada pekerjaannya. Sedangkan stressor yang dialami oleh Ny. Y paling sering akibat kelelahan dalam mengurus rumah dan stressor yang bagi Nn.N adalah masalah pendidikan .
Kemampuan keluarganya berespon terhadap situasi/ stressor
Tn.S biasanya berusaha mencegah adanya masalah pada keluarganya. Ny. Y biasanya tajin berolahrga dalam rumah . Tn.S biasanya memilih lingkungan yang baik serta menjalin hubungan yang baik dengan orang sekitar.
Strategi koping yang digunakan
Untuk mengatasi stres yang dialami, keluarga Tn. S biasanya refresing, mendekatkan diri kepada tuhan dan berisitirahat yang cukup.
I. Aktivitas rekreasi keluarga
Keluarga Tn.S biasa melakukan liburan dengan anggota keluarga seperti menonton bersama, minum teh bersama dll.
J. Harapan keluarga
Dengan adanya petugas kesehatan yang datang kerumahnya menurutnya mengharapkan supaya petugas kesehatan bisa memberikan pengetahuan yang dapat membantu dirinya mempersiapkan bagaimana sebenarnya kesehatan dalam rumah tangganya.
K. Tingkat kemandirian keluarga
Tingkat kemandirian keluarga terdiri dari tujuh kriteria kemampuan keluarga yang telah dicapai.
Kriteria 1
:
keluarga menerima perawat
Kriteria 2
:
keluarga menerima pelayanan kesehatan sesuai rencana rencana keperawatan keluarga
Kriteria 3
:
keluarga tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara benar
Kriteria 4
:
keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan pelayanan kesehatan sesuai anjuran
Kriteria 5
:
keluarga melakukan tindakan keperawatan sederhana yang sesuai anjuran
Kriteria 6
:
keluarga melakukan tidakan pencegahan secara aktif
Kriteria 7
:
keluarga melakukan tidakan promotif secara aktif
Tingkat Kemandirian
Kriteria 1
Kriteria 2
Kriteria 3
Kriteria 4
Kriteria 5
Kriteria 6
Kriteria 7
Tingkat I
V
v
-
-
-
-
-
Tingkat II
V
v
V
V
v
-
-
Tingkat III
V
v
V
V
v
v
Tingkat IV
V
v
V
V
v
v
V
L. Analisa data
Analisa data
Etiologi
Masalah
DS: Ny.Y mengatakan tidak mengetahui secara pasti mengenai kegiatan Nn.N
DO: Nn.N merupakan anak pertama dalam keluarga
Perkembangan remaja
Defisit pengetahuan
DS: Nn.N merasa di abaikan dalam keluarganya dan tidak pernah menceritakan masalahnya
DO:Tn.S dan Ny.Y tampak cemas
Ketidak mampuan mengenal gangguan perkembangan
Ketidak mampuan koping keluarga
M. Rumusan masalah
Data yang terkumpul dan dianalisis, kemudian didapatkan diagnosa keperawatan sebagai berikut :.
(D.0111 ) Defisit pengetahuan
(D.0093) Ketidak mampuan koping keluarga
N. Intervensi kesehatan
No
Diagnosa
Tujuan & kriteria hasil (NOC)
Intervensi (NIC)
Kode : D.0111
Kategori: perilaku
Subkategori : Penyuluhan dan pembelajaran
Defisit Pengetahuan b.d Kurang terpapar informasi
Ditandai dengan :
DS: Ny.Y mengatakan tidak mengetahui secara pasti mengenai kegiatan Nn.N
DO: Nn.N merupakan anak pertama dalam keluarga
Seteleh dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan
Tingkat Pengetahuan (L.12111)
skala :
Menurunt
cukup Menurun
sedang,
cukup Meningkat
Meningkat
dengan kriteria:
Perilaku sesuai dengan pengetahuan (skala 3 menjadi 4)
Pertanyaan tentang masalah yang di hadapi (skala 3 menjadi 4)
Intervensi keperawat
Edukasi kesehatan (1.12383)
Aktivitas Keperawatan
Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
Berikan kesempatan untuk bertanya
Jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan
2.
Kode : D.0093
Kategori: Fisiologis
Subkategori : Respirasi
Ketidak mampuan Koping Keluarga b/d Ketidak mampuan orang terdekat mengungkapkan perasaan
Ditandai dengan :
DS: Nn.N merasa di abaikan dalam keluarganya dan tidak pernah menceritakan masalahnya
DO:Tn.S dan Ny.Y tampak cemas
Status Koping Keluarga (L.09088)
meningkat,
cukup meningkat,
sedang,
cukup menurun,
menurun,
dengan kriteria:
Perasaan diabaikan (skala 3 menjadi 4)
Komunikasi antara anggota keluarga (skala 2 memjadi 4)
Promosi Koping (1.09312)
Aktivitas Keperawatan
Identifikasi kegiatan jangka pendek dan panjang sesuai tujuan
Diskusikan konsekuensi tidsk menggunakan rasa beersalah dan rasa malu
Ajarkan cara memecahkan masalah secara konstruktif
Puskesmas : kolono
Nama KK : Tn. S
No. Register : -
TANGGAL/JAM
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TINDAKAN
EVALUASI
TANDA TANGAN
20/01/2020
Kode : D.0111
Defisit Pengetahuan
Mengidentifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
Memberikan kesempatan untuk bertanya
Menjelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan
S : Ny.Y mengatakan sudah mampu mengidentifikasi dan biasa menerima informasi
O : Tn.S dan Ny.Y tampak cemas
O: keluarga Tn.S Nampak sudah bias menerima informasi dengan tenang
21/01/2020
Kode : D.0093
Ketidak mampuan Koping Keluarga
Mengidentifikasi kegiatan jangka pendek dan panjang sesuai tujuan
Mendiskusikan konsekuensi tidak menggunakan rasa bersalah dan rasa malu
Mengajarkan cara memecahkan masalah secara konstruktif
S: Nn.N mengatakan mampu meningkatkan koping keluarganya
O: Nn.N Nampak meningkatkan koping keluarga
O. Evaluasi
TANGGAL/JAM
DIAGNOSA KEPERAWATAN
EVALUASI
TANDA TANGAN
25/01/2021
Kode : D.0111
Defisit Pengetahuan
S : Tn.S mengatakan sudah mampu mengidentifikasi dan biasa menerima informasi
O: keluarga Tn.S Nampak sudah bias menerima informasi dengan tenang.
A: Masalah belum teratasi
P : Intervensi di lanjutkan oleh petugas puskesmas
26/01/2001
Kode : D.0093
Ketidak mampuan Koping Keluarga
S: Nn.N mengatakan mampu meningkatkan koping keluarganya
O: Nn.N Nampak meningkatkan koping keluarga
A: Masalah belum teratasi
P : Intervensi di lanjutkan oleh petugas puskesmas
PENUTUP
Kesimpulan
Keluarga adalah dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan-ikatan kebersamaan, ikatan emosional dan yang mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian dari keluarga . Keluarga adalah dua orang atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan.
Asuhan keperawatan keluarga digunakan untuk membantu menyelesaikan
masalah kesehatan keluarga dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan. Agar pelayanan kesehatan yang diberikan dapat diterima oleh keluarga, maka perawat harus mengerti, memahami tipe dan struktur keluarga, mengetahui tingkat pencapaian keluarga dalam melakukan fungsinya dan perlu paham setiap tahap perkembangan keluarga dan tugas perkembangannya.
Saran
Diharapkan untuk mahasiswa keperawatan lebih memahami tentang hubungan terapeutik dalam tahap-tahap asuhan keperawatan keluarga
DAFTAR PUSTAKA
Jhonson L. (2010). Keperawatan Keluarga. 177.
Keluarga, K. (2019). HI NG CENTER C ENTER F AMILY.
Rahma, S. A., & Hipertensi, P. P. (2019). FAMILY NURSING CARE IN THE STAGE OF DEVELOPMENT FAMILY WITH MIDDLE-AGED ADULTS. 1–7.
.
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TN. B DENGAN
MASALAH KESEHATAN TETANUS PADA TN.B
OLEH:
SUMIATIN
S.0017.P.036
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
KARYA KESEHATAN
KENDARI
2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT,Karena berkat rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini tepat pada waktunya. Terlantun solawat serta salam buat untuk imam besar kita semua Nabi Muhammad SAW.
Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan, baik dari segi isi maupun redaksinya. Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dapat menyusun makalah yang lebih baik di masa yang akan datang. Semoga makalah ini bermanfaat untuk memberikan kontribusi bagi kita dalam memajukan ilmu keperawatan.
Kendari,5 Februari 2020
Penulis
DAFTAR ISI
Contents
KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB 1 4
PENDAHULUAN 4
A.Latar belakang 4
B. Tujuan 5
C. Manfaat 5
BAB II 6
TINJAUAN TEORI 6
A.Definisi Tetanus 6
B. Klasifikasi 7
C. Etiologi 8
D. Patofisiologi 9
F. Penatalaksanaan Tetanus 11
H. Komplikasi pada klien Tetanus 12
BAB V 13
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA 13
A. Pengkajian keluarga 13
B . Pengkajian individu 14
C. Kesehatan lingkungan 20
D. Struktur keluarga 22
E. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga 22
F. Status sosial ekonomi keluarga 23
G. Fungsi keluarga 23
H. Koping keluarga 23
I. Aktivitas rekreasi keluarga 24
J. Harapan keluarga 24
K. Tingkat kemandirian keluarga 24
L. Analisa data 27
M. Rumusan masalah 29
N. Intervensi keperawatan 29
O. Evaluasi 32
BAB IV 35
PENUTUP 35
A. KESIMPULAN 35
B. SARAN 35
DAFTAR PUSTAKA 36
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Tetanus berasal dari kata Yunani “tetanus” yang artinya “berkontraksi”, merupakan penyakit bersifat akut yang ditandai dengan kekakuan otot dan spasme, akibat toksin yang dihasilkan Clostiridium Tetani mengakibatkan nyeri biasanya pada rahang bawah dan leher.
Tetanus merupakan hal yang dapat dicegah. Tetanus lebih umum didapatkan pada masyarakat dengan pemasukan ekonomi rendah, terutama negara berkembang, tapi tidak menutup kemungkinan tetanus ada di negara maju.
Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa disertai gangguan kesadaran. Gejala ini bukan disebabkan oleh kuman clostridium tetani, tetapi akibat toksin (tetanospasmin) yang dihasilkan kuman.Tetanus adalah penyakit infeksi yang ditandai oleh kekakuan dan kejang otot, tanpa disertai gangguan kesadaran, sebagai akibat dari toksin kuman closteridium tetani.Penyakit ini tersebar di seluruh dunia, terutama pada daerah resiko tinggi dengan cakupan imunisasi DPT yang rendah. Reservoir utama kuman ini adalah tanah yang mengandung kotoran ternak sehingga resiko penyakit ini di daerah peternakan sangat tinggi. Spora kuman Clostridium tetani yang tahan kering dapat bertebaran di mana-mana.Penyakit tetanus masih sering ditemui di seluruh dunia dan merupakan penyakit endemik di 90 negara berkembang.
WHO mengatakan pada tahun 2015, terdapat 10301 kasus tetanus termasuk 3551 kasus neonatal yang dilaporkan melalui WHO/Unicef. Laporan tersebut juga masih belum bisa menjelaskan angka kejadian sebenarnya dikarenakan banyaknya insiden yang tidak dilaporkan. Kelompok masyarakat yang tidak mendapatkan vaksinasi, usia lebih dari 65 tahun, penderita diabetes merupakan masyrakat yang memiliki faktor resiko tinggi terhadap tetanus. Kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap resiko infeksi tetanus yang disebabkan oleh luka juga menjadi salah satu faktor risiko masih maraknya terjadi tetanus Tetanus yang terjadi pada non neonatal paling banyak didapatkan dikarenakan pekerjaan terutama pekerjaan yang memiliki potensial bahaya tinggi seperti pekerja agrikultural, pekerja industry, dan pekerja kesehatan, pekerja konstruksi dan pekerja besi. Dapat juga didapatkan pada luka-luka yang tidak ditangani dengan benar. Luka yang dimaksud seperti luka akibat terpotong gelas ataupun luka tersayat metal Infeksi tetanus juga bisa disebabkan oleh sebab lain. Seperti dikatakan Novi, pada penelitian yang dilakukannya kepada 40 orang anak, didapatkan bahwa infeksi tetanus disebabkan karena otitis media sebanyak 52.5% dan sisanya dikarenakan luka tusuk dan laserasi di ekstremitas dan kepala.Tetanus neonatal terjadi pada bayi berusia kurang dari 28 hari.
Indonesia sebagai negara berkembang masih menjadi salah satu negara yang kasus tetanus neonatal nya banyak. Pada tahun 1979 Indonesia malukan upaya untuk mencapai target Eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatal dimulai dengan pemberian vaksin tetanus toxoid kepada ibu hamil, calon pengantin dan bayi (Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI. 2012).
Imunitas yang didapatkan dari vaksin tetanus dapat mencegah kejadian tetanus, tetapi imunitas ini tidak berlangsung seumur hidup. Maka dari itu dibutuhkan injeksi booster pada pasien yang mengalami luka rentan tetanus.dilakukan studi literature ini adalah mengedukasi dan memberikan informasi kepada pembaca mengenai pencegahan tetanus terutama dengan penggunaan vaksin tetanus.
B. Tujuan
Mahasiswa mengetahui proses terjadinya penyakit Tetanus
Mahasiswa mengetahui cara mencegah Tetanus
Mahasiswa mampu merumuskan rencana asuhan keperawatan pada penyakit Tetanus
C. Manfaat
Bagi mahasiswa, makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan reverensi untuk materi kasus Tetanus
Bagi masyarakat, makalah ini dapat memberikan edukasi tentang penyebab serta pencegahan Tetanus
Bagi Ilmu pengetahuan keperawatan, makalah ini dapat dijadikan sebagai update referensimengenai kasus Tetanus
BAB II
TINJAUAN TEORI
A.Definisi Tetanus
Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa disertai gangguan kesadaran. Gejala ini bukan disebabkan oleh kuman clostridium tetani, tetapi akibat toksin (tetanospasmin) yang dihasilkan kuman. Tetanus adalah penyakit infeksi yang diakibatkan toksin kuman Clostridium tetani, bermanifestasi sebagai kejang otot paroksismal, diikuti kekakuan otot seluruh badan. Kekakuan tonus otot ini selalu tampak pada otot masseter dan otot-otot rangka.Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa tetanus adalah penyakit infeksi yang diakibatkan oleh toksin kuman Clostridium tetani,yang ditandai dengan gejala kekakuan dan kejang otot.
Tetanus adalah penyakit infeksi yang ditandai oleh kekakuan dan kejang otot, tanpa disertai gangguan kesadaran, sebagai akibat dari toksin kuman closteridium tetani .Penyakit ini mengenai sistem saraf yang disebabkan oleh tetanospasmin yaitu neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani.Clostridium tetani merupakan organisme obligat anaerob, batang gram positif, bergerak, ukurannya kurang lebih 0,4 x 6 μm. Mikroorganisme ini menghasilkan spora pada salah satu ujungnya sehingga membentuk gambaran tongkat penabuh drum atau raket tenis. Spora Clostridium tetani sangat tahan terhadap desinfektan kimia, pemanasan dan pengeringan. Kuman ini terdapat dimana-mana, dalam tanah, debu jalan dan pada kotoran hewan terutama kuda. Spora tumbuh menjadi bentuk vegetatif dalam suasana anaerobik. Bentuk vegetatif ini menghasilkan dua jenis toksin, yaitu tetanolisin dan tetanospasmin. Tetanolisin belum diketahui kepentingannya dalam patogenesis tetanus dan menyebabkan hemolisis in vitro, sedangkan tetanospasmin bekerja pada ujung saraf otot dan sistem saraf pusat yang menyebabkan spasme otot dan kejang.
Derajat keparahan :
1. Derajat I (ringan) : Trismus ringan sampai sedang, spastisitasgeneralisata, tanpa gangguan pernafasan, tanpaspasme, sedikit atau tanpa disfagia.
2. Derajat II (sedang) : Trismus sedang, rigiditas yang nampak jelas,spasme singkat ringan sampai sedang, gangguanpernafasan sedang dengan frekuensi pernafasanlebihd dari 30 disfagia ringan.
3. Derajat III (berat) : Trismus berat, spastisitas generalsata, spasmerefleks berkepanjangan, frekuensi pernafasan lebihdari 40, serangan apnea, disfalgia berat dantakikardia lebih dari 120.
4. Derajat IV (sangat berat) : Derajat tiga dengan gangguan otonomik berat melibatkan sistem kardiovaskuler. Hipertensi berat dan takikardi terjadi berselingan dengan hipotensi dan bradikardia, salah satunya dapat menetap.
B. Klasifikasi
Tetanus berdasarkan bentuk klinis dibagi menjadi 3 yaitu:
Tetanus local: biasanya ditandai dengan otot terasa sakit, lalu timbul rebiditas dan spasme pada bagian paroksimal luar. Gejala itu dapat menetap dalam beberapa minggu dan menghilang.
Tetanus general: yang merupakan bentuk paling sering, biasanya timbul mendadak dengan kaku kuduk, trismus, gelisah, mudah tersinggung daan sakit kepala merupakan manifestasi awal. Dalam waktu singkat kontraksi otot somatic meluas. Timbul kejang tetanik bermacam grup otot, menimbulkan aduksi lengan dan ekstensi ekstremitas bagian bawah. Pada mulanya, spasme berlangsung beberapa detik sampai beberapa menit dan terpisah oleh periode relaksasi.
Tetanus segal: varian tetanus local yang jarang terjadi. Masa inkubasi 1-2 hari terjadi sesudah otitis media atau luka kepala dan muka. Paling menonjol adalah disfungsi saraf III, IV, VII, IX, dan XI tersering saraf otak VII diikuti tetanus umum.
Berdasarkan berat gejala dapat dibedakan menjadi 3 stadium, yaitu:
Trismus (3 cm) tanpa kejang torik umum meskipun dirangsang.
Trismus (3 cm atau lebih kecil) dengan kejang torik umum bila dirangsang.
Trismus (1 cm) dengan kejang torik umum spontan.
C. Etiologi
Penyakit tetanus disebabkan oleh toksin kuman Clostridium tetani yang dapat masuk melalui luka tusuk, gigitan binatang, luka bakar, luka operasi yang tidak dirawat dan tidak dibersihkan dengan baik, caries gigi, pemotongan tali pusat yang tidak steril, dan penjahitan luka robek yang tidak steril. Penginfeksian kuman Clostridium tetani lebih mudah bila klien belum terimunisasi.
Sering kali tempat masuk kuman sukar diketahui tetepi suasana anaerob seperti pada luka tusuk, lukakotor, adanya benda asing dalam luka yang menyembuh , otitis media, dan cairies gigi, menunjang berkembang biaknya kuman yang menghasilkan endotoksin.
Penyakit ini tersebar di seluruh dunia, terutama pada daerah resiko tinggi dengan cakupan imunisasi DPT yang rendah. Reservoir utama kuman ini adalah tanah yang mengandung kotoran ternak sehingga resiko penyakit ini di daerah peternakan sangat tinggi. Spora kuman Clostridium tetani yang tahan kering dapat bertebaran di mana-mana.
Port of entry tak selalu dapat diketahui dengan pasti, namun dapat diduga melalui:
Luka tusuk, gigitan binatang, luka bakar
Luka operasi yang tidak dirawat dan dibersihkan dengan baik
OMP, caries gigi
Pemotongan tali pusat yang tidak steril.
Penjahitan luka robek yang tidak steril
Clostridium tetani termasuk dalam bakteri Gram positif, anaerob obligat, dapat membentuk spora, dan berbentuk drumstick. Spora yang dibentuk oleh C. tetani ini sangat resisten terhadap panas dan antiseptik. Ia dapat tahan walaupun telah diautoklaf (1210C, 10-15 menit) dan juga resisten terhadap fenol dan agen kimia lainnya. BakteriClostridium tetani ini banyak ditemukan di tanah, kotoran manusia dan hewan peliharaan dan di daerah pertanian. Umumnya, spora bakteri ini terdistribusi pada tanah dan saluran penceranaan serta feses dari kuda, domba, anjing, kucing, tikus, babi, dan ayam. Ketika bakteri tersebut berada di dalam tubuh, ia akan menghasilkan neurotoksin (sejenis protein yang bertindak sebagai racun yang menyerang bagian sistem saraf). C. tetanimenghasilkan dua buah eksotoksin, yaitu tetanolysin dan tetanospasmin.Fungsi dari tetanoysin tidak diketahui dengan pasti, namun juga dapat memengaruhi tetanus. Tetanospasmin merupakan toksin yang cukup kuat.
D. Patofisiologi
Tetanus disebabkan oleh toksin kuman Clostridium tetani yang masuk melalui luka tusuk, gigitan binatang, luka bakar, luka operasi yang tida dirawat dan tidak dibersihkan dengan baik, caries gigi, pemotongan tali pusat yang tidak steril, dan penjahitan luka robek yang tidak steril yang lebih beresiko bagi orang-orang yang belum terimunisasi.
Toksin kuman C. tetani berbentuk spora. Bentuk spora dalam suasana anaerob dapat berubah menjadi kuman vegetatif yang menghasilkan eksotoksin. Toksin ini menjalar intrakasonal sampai ganglin/simpul saraf dan menyebabkan hilangnya keseimbanngan tonus otot sehingga terjadi kekakuan otot baik lokal maupun mnyeluruh. Bila toksin banyak, selain otot bergaris, otot polos dan saraf otak juga terpengaruh. Biasanya penyakit ini terjdi setelah luka tusuk yang dalam misalya luka yang disebabkan tertusuk paku, pecahan kaca, kaleng atau luka tembak, karena luka tersebut menimbulkan keadaan anaerob yang ideal. Selain itu luka laserasi yang kotor dan pada bayi dapat melalui tali pusat luka bakar dan patah tulang yang terbuka juga akan mengakibatkan keadaan anaerob yang ideal untuk pertumbuhan clostridium tetani.
Tetanus terjadi sesudah pemasukan spora yang sedang tumbuh, memperbanyak diri dan mneghasilkan toksin tetanus pada potensial oksidasi-reduksi rendah (Eh) tempat jejas yang terinfeksi. Plasmid membawa gena toksin. Toksin yang dilepas bersama sel bakteri sel vegetative yang mati dan selanjutnya lisis. Toksin tetanus (dan toksin batolinium) di gabung oleh ikatan disulfit. Toksin tetanus melekat pada sambungan neuromuscular dan kemudian diendositosis oleh saraf motoris, sesudah ia mengalami ia mengalami pengangkutan akson retrograt kesitoplasminmotoneuron-alfa. Toksin keluar motoneuron dalam medulla spinalis dan selanjutnya masuk interneuron penghambat spinal. Dimanatoksin ini menghalangi pelepasan neurotransmitter . Toksin tetanus dengan demikian meblokade hambatan normal otot antagonis yang merupakan dasar gerakan yang disengaja yang di koordinasi, akibatnya otot yang terkena mempertahankan kontraksi maksimalnya, system saraf otonom juga dibuat tidak stabil pada tetanus.
E. Manifestasi Klinis
Penyakit ini biasanya terjadi mendadak dengan ketegangan otot yang makin bertambah terutama pada rahang dan leher. Dalam waktu 48 jam penyakit ini menjadi nyata dengan gejala umum:
Trismus (kesukaran membuka mulut) karena spasme otot-otot mastikatoris
Kaku kuduk sampai epistotonus karena ketegangan otot-otot erector trunki
Ketegangan otot dinding perut
Kejang tonik terutama bila dirangsang karena toksin terdapat di kornu anterior
Risus sardonikus karena spasme otot muka (alias tertarik ke atas), sudut mulut tertarik ke luar dan ke bawah, bibir tertekan kuat pada gigi
Kesukaran menelan, gelisah, mudah terangsang, nyeri anggota badan (sering merupakan gejala dini)
Spasme yang khas, yaitu badan kaku dengan epistotonus, ekstremitas inferior dala keadaan ekstensi, lengan kaku dan tangan mengepal kuat. Keadaan tetap sadar, spasme mula-mula intermitten diselingi periode relaksasi, kemudian tidak jelas lagi dan serangan tersebut disertai rasa nyeri. Kadang-kadang terjadi perdarahan intramuscular karena kontraksi yang kuat.
Asfiksia dan sianosis terjadi akibat serangan pada otot pernapasan dan laring. Retensi urine dapat terjadi karena spasme otot uretral. Fraktur kolumna vertebralis dapat pula terjadi karena kontraksi otot yang sangat kuat.
Panas biasanya tidak tinggi dan terdapat pada stadium akhir.
Biasanya terdapat leukositosis ringan dan kadang-kadang peninggian tekanan cairan otak.
F. Penatalaksanaan Tetanus
Penatalaksanaan pada klien dengan tetanus ada 2 macam yaitu farmakologi dan non-farmakologi.
Farmakologi
Antitoksin: antitoksin 20.000 1u/ 1.M/5 hari. pemberian baru diberikan setelah dipastikan tidak ada reaksi hipersensitivitas.
Anti kejang (antikonvulsan)
Fenobarbital (luminal): 3 x 100 mg/1.M. Untuk anak diberikan mula-mula 60-100 mg/1.M lalu dilanjutkan 6x30 mg/hari (max. 200mg/hari).
Klorpromasin: 3x25 mg/1.M/hari. Untuk anak-anak mula-mula 4-6 mg/kg BB.
Diazepam: 0,5-10 mg/kg BB/1.M/4 jam, dll.
Antibiotic: penizilin procain 1juta 1u/hari atau tetrasifilin 1gr/hari/1.V. Dapat memusnahkan tetani tetapi tidak mempengaruhi proses neurologiknya.
Non-farmakologi
Merawat dan membersihkan luka sebaik-baiknya,
Diet TKTP. Pemberian tergantung kemampuan menelan. Bila trismus, diberikan lewat sonde parenteral.
Isolasi pada ruang yang tenang, bebas dari rangsangan luar.
Menjaga jalan nafas agar tetap efisien.
Mengatur cairan dan elektrolit.
G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada klien dengan tetanus meliputi:
1. Darah
Glukosa Darah : Hipoglikemia merupakan predisposisi kejang (N < 200 mq/dl)
BUN : Peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan merupakan indikasi nepro toksik akibat dari pemberian obat
Elektrolit : K, Na (Ketidakseimbangan elektrolit merupakan predisposisi kejang )
Kalium ( N 3,80 – 5,00 meq/dl)
Natrium ( N 135 – 144 meq/dl)
2. Skull ray : Untuk mengidentifikasi adanya proses desak ruang dan adanya lesi, Teknik untuk menekan aktivitas listrik otak melalui tengkorak yang utuh untuk mengetahui fokus aktivitas kejang, hasil biasanya normal
H. Komplikasi pada klien Tetanus
a. Spasme otot faring
b. Asfiksia
c. Ateletaksis
d. Fraktur kompresi
e. Jalan nafas : Aspirasi, Laringuspasme/obstruksi, Obstruksi berkaitan dengan sedative
f. Respirasi : Apnea, Hipoksia ,Gagal nafas tipe 1 (atelektasis, aspirasi,pneumonia), Gagal nafas tipe 2 ( spasme laringeal,spasme trunkal berkepanjangan, sedasi berlebihan) ARDSK, komplikasi bantuan ventilasi berkepanjangan (seperti pneumonia), komplikasi traneotomi (seperti stenosistrachea )
g. Kardiovaskuler: Takikardia, hipertensi, iskemiaHipotensi, bradikardia Takiaritma, bradiaritma, Asistol, gagal jantung
h. Ginjal : Gagal ginjal curah tinggi, gagal ginjal oliguria
i. Gastrointestinal : Statis gaster, ileus, pendarahan, diare
j. Ruptur tendon akibat spasme.
BAB V
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
A. Pengkajian keluarga
Puskesmas
:
Kolono
Alamat
:
Desa Puupi
Hari/Tanggal Pengkajian
:
Selasa/09 februari 2021
Nama KK
:
Tn. B
Usia
:
64 tahun
Pendidikan
:
SMP
Pekerjaan
:
Petani
Komposisi Keluarga :
No
Nama Anggota Keluarga
Hub. Keluarga
L/P
Umur (th)
Pendidikan
Agama
Suku
Pekerjaan
Imunisasi (L/TL)
KB
Alat bantu, ptotesa
Keadaan umum (sehat/tidak sehat)
Riwayat penyakit & alergi
1.
Tn. B
Suami
L
64
SI
Islam
Buton
Petani
Lengkap
Tidak
Tidak ada
Sehat
Asma
2.
Ny. S
Istri
P
53
SMP
Islam
Buton
IRT
Lengkap
Tidak
Tidak ada
Sehat
Tidak ada
3.
Nn. R
Anak
P
19
SMA
Islam
Buton
Tidak kerja
Lengkap
Tidak
Tidak ada
Sehat
Tidak ada
Jarak Untuk Mencapai Pelayanan Kesehatan Terdekat
Fasilitas Kesehatan
Jarak
Cara tempuh
Puskesmas
:
900 meter
Motor
roda 2
:
Puskesmas Pembantu
:
200 meter
Motor
roda 2
:
Posyandu
:
100 meter
Motor
roda 2
:
3. Genogram
4. TipeKeluarga
Keluarga inti
B. Pengkajian individu
No
Data
Tn.B
Ny.Y
Nn.N
Keadaan umum :
Baik
Baik
Baik
Penampilan
Baik
Baik
Baik
BB
65 kg
80 kg
57 kg
TB
150 cm
170 cm
162 cm
Status Gizi
Baik
Baik
Baik
Diagnosa medis
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Masalah kesehatan yang pernah dialami
Asma
Tidak ada
Tidak ada
Masalah kesehatan sekarang
Asma
Tidak ada
Tidak ada
Masalah kesehatan yang lalu
Asma
Tidak ada
Tidak ada
Masalah kesehatan keluarga (turunan)
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
TTV :
Tekanan darah
110 MmHg
120 MmHg
110 MmHg
Respirasi
24x/menit
20x/menit
20x/menit
Nadi
80x/menit
72x/menit
74x/menit
3.
Palpebra
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Fungsi
Baik
Baik
Baik
4.
Telinga :
Bentuk
Normal
Normal
Normal
Keadaan
Bersih
Bersih
Bersih
Fungsi
Baik
Baik
Baik
5.
Hidung :
Bentuk
Normal
Normal
Normal
Keadaan
Bersih
Bersih
Bersih
Fungsi
Baik
Baik
Baik
6.
Mulut :
Gigi
Baik
Baik
Baik
Fungsi menelan
Baik
Baik
Baik
Kelembaban
Baik
Baik
Baik
7.
Leher :
Pembengkakan kelenjar tiroid
Tidakterdapat pembengkakan
Tidak terdapat pembengkakan
Tidak terdapat pembengkakan
8.
Dada :
Bentuk
Normal
Normal
Normal
Suara paru
Resonan
Resonan
Resonan
Respirasi
18X/menit
18X/menit
20X/Menit
Bunyi jantung
S1, S2
S1, S2
S1, S2
9.
Abdomen :
Bentuk
Normal
Normal
Normal
Nyeri tekan
Tidak adanyeri
Tidak ada nyeri
Tidak adanyeri
10.
Ekstremitas :
Oedema
Tidak adaoedema
Tidak ada oedema
Tidak ada oedema
Kontraktur
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
11.
Istirahat dan tidur
Baik
Baik
Baik
12.
Status mental
Baik
Baik
Baik
13.
Kebersihan diri
Bersih
Bersih
Bersih
14.
Sistem respirasi
Tidak adamasalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
15.
Sistem kardiovaskuler
Tidak adamasalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
16.
Sistem pencernaan
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
17.
Sistem urinaria
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
18.
Sistem integument
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
19.
Sistem persyarafan
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
20.
Sistem muskulosketal
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Tidak ada masalah
Pemeriksaan penunjang bagi yang sakit (lab, radiologi, EKG, USG)
Tidak adapemeriksaan
Tidakada pemeriksaan
Tidak ada pemeriksaan
C. Kesehatan lingkungan
Karakteristik Rumah
Denah rumah
(A) (F)
(B)
(G)
( C (E) ( F)
(D)
Ket:
A. Kamar anak Nn.
B. Kamar mandi
C. Kamar Tn.B dan Ny.S
D. Ruang Tamu
E. Ruang keluarga
F. Ruang makan
G. Dapur
Tipe Tempat Tinggal
Keluarga sudah memiliki tempat tinggal sendiri
Gambaran kondisi rumah
Luas rumah keluarga 14x10 m ,kebersihan rumah cukup bersih .
Jenis bangunan
Semi permanen
Luas bangunan
14x10 m
Luas pekarangan
60 m
Jumlah jendela
6 jendela
Kondisi ventilasi rumah
Memiliki sirkulasi udara yang baik
Kondisi pencahayaan rumah
Penerangan menggunakan listrik diguhnakan pada siang dan malam hari karena kurang pencahyaan
Jenis lantai
Lantai tempat tinggal menggunakan tehel
Kebersihan rumah secara keseluruhan
Kebersihan cukup bersih
Pengelolaan sampah keluarga
Sampah dibuang digalian dan membakar sampahnya.
Sumber air bersih dalam keluarga
Sumber air bersih keluarga berada disumur dekat rumah.
Jarak sumber air minum dengan septic tank
Sekitar 20 m dari tempat keluarga tinggal
Sumber air minum yang digunakan
Mengunakan air sumber kemasan
Keadaan dapur
Cukup bersih
Pembuangan limbah
Saluran diarahkan menuju kali
Keamanan lingkungan rumah
Keamanan lingkungan Tn.B sangat aman
Perasaan subyektif keluarga terhadap rumah
Perasannya sangat senang, nyaman dan aman berada di tempat tinggalnya
Pengaturan pengaturan rumah dan privaci
Pengaturannya cukup rapi penempatannya
Karakteristik Lingkungan dan Komunitas Tempat Tinggal yang lebih luas.
Karakteristik fisik dari lingkungan
Ditempat tinggal Tn.B jarak antara satu rumah dan lainnya cukup dekat. Keluarga Tn .B sering berinteraksi dan berkomunikasi dengan tetangga sekitar hal ini mendukung karena tetangganya sangat ramah
Karakteristik duemografis dari lingkungan dan komunitas
Keluarga Tn.B tidak pernah pindah didesa atau kekota lain
Bagimana fasilitas-fasilitas mudah diakses atau dijangkau oleh keluarga
Keluarga Tn.B cukup berperan dalam mengikuti kegiatan .
Tersedianya transportasi umum yang dapat digunakan oleh keluarga dalam mengakses fasilitas yang ada.
Keluarga Tn.B menggunakan transportasi pribadi sepeda motor yang digunakan saat berpergian kemana-mana
e. Mobilitas geografis keluarga
menurut klien tidak pernah pindah daerah kota lain .
Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Keluarga Tn.B Mengatakan sering mengikuti majelis.
D. Struktur keluarga
Pola dan komunikasi keluarga
Keluarga Tn. B berkomunikasi degan menggunakan bahasa Buton dan indonesi bahasa Indonesia yang lebih sering digunakan.
Struktur kekuatan keluarga
Hingga saat ini Tn.B sangat berperan penting dalam mencari nafkah sedangkan anak dan istrinya tidak berkerja
Nilai-Nilai Keluarga
Nilai-nilai dan norma yang dianut dua sisih yaitu berdasarkan kebiasaan suku buton dalam agama islam. Nilai dan norma yang dimaksud saling menghargai, menghormati, serta saling menjaga kerkunan dalam keluarga dan masyrakat.
E. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
Tahap perkembangan keluarga saat ini
Keluarga Tn.B memiliki 1 orang putri yang masing-masing sudah memasuki usia dewasa.
.
Riwayat kesehatan keluarga inti
Tn.B mengeluh merasakan kaku diseluruh badan dan tidak bias di gerakkan,kepala terasa berat,pusing,demam.
Latar Belakang Budaya Keluarga
keluarga Tn. B berlatar belakang suku buton,nilai-nilai dalam keluarga pun berdasarkan budaya suku buton.
F. Status sosial ekonomi keluarga
Penghasilan keluarga Tn. B adalah sebesar 1.500.000-2.000.000/bulan.
G. Fungsi keluarga
Fungsi Sosial
Keluarga Tn. B aktif dalam kegiatan social yang berada dimasyarakat, keluarga tersebut juga aktif berinteraksi dengan masyarakat sekitar.
Fungsi Perawatan kesehatan
Jika salah satu dalam keluarga Tn.B, sakit mereka saling merawat dalam anggota keluarga. Biasanya mereka meminum obat-obatan terlebih dahulu sebagai tindakan pertama. Namun jika keadaan tidak membaik maka mereka akan berobat ke fasilitas kesehatan terdekat.
H. Koping keluarga
Stresor jangka pendek dan jangka panjang
Terdapat beberapa stressor jangka pendek dalam keluarga Tn. B, bagi Tn. B pribadi yaitu pada pekerjaannya. Sedangkan stressor yang dialami oleh Ny. S paling sering akibat kelelahan dalam mengurus rumah dan stressor yang bagi Nn.R adalah masalah pendidikan .
Kemampuan keluarganya berespon terhadap situasi/ stressor
Tn.B biasanya berusaha mencegah adanya masalah pada keluarganya. Ny. B biasanya tajin berolahrga dalam rumah . Tn.D biasanyamemilih lingkungan yang baik serta menjalin hubungan yang baik dengan orang sekitar.
Strategi koping yang digunakan
Untuk mengatasi stres yang dialami, keluarga Tn. S biasanya refresing, mendekatkan diri kepada tuhan dan berisitirahat yang cukup.
I. Aktivitas rekreasi keluarga
Keluarga Tn.B biasa melakukan liburan dengan anggota keluarga seperti menonton bersama, minum teh bersama dll.
J. Harapan keluarga
Dengan adanya petugas kesehatan yang datang kerumahnya menurutnya mengharapkan supaya petugas kesehatan bisa memberikan pengetahuan yang dapat membantu dirinya mempersiapkan bagaimana sebenarnya kesehatan dalam rumah tangganya.
K. Tingkat kemandirian keluarga
Tingkat kemandirian keluarga terdiri dari tujuh kriteria kemampuan keluarga yang telah dicapai.
Kriteria 1
:
keluarga menerima perawat
Kriteria 2
:
keluarga menerima pelayanan kesehatan sesuai rencana rencana keperawatan keluarga
Kriteria 3
:
keluarga tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara benar
Kriteria 4
:
keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan pelayanan kesehatan sesuai anjuran
Kriteria 5
:
keluarga melakukan tindakan keperawatan sederhana yang sesuai anjuran
Kriteria 6
:
keluarga melakukan tidakan pencegahan secara aktif
Kriteria 7
:
keluarga melakukan tidakan promotif secara aktif
Tingkat Kemandirian
Kriteria 1
Kriteria 2
Kriteria 3
Kriteria 4
Kriteria 5
Kriteria 6
Kriteria 7
Tingkat I
V
v
-
-
-
-
-
Tingkat II
V
v
V
V
v
-
-
Tingkat III
V
v
V
V
v
v
Tingkat IV
V
v
V
V
v
v
V
L. Analisa data
Analisis Data
Kode
Etiologi
Masalah
DS : Klien mengatakan nyeri dan
kaku diseluruh badan dan tidak bias di gerakkan
DO : Klien Nampak gelisah
Kode: D.0077
Kategori : Psikologis
Sub Kategori : Nyeri dan kenyamanan
Agen injury
(biologi)
Nyeri akut
DS :klien mengatkan demam dan pusing
DO : klien Nampak pucat dan lemas
Td:130/70
N:120X/menit
S:39 ,60C
R:26x/menit
Kode:
D.0131
Kategori: lingkungan
Sub Kategori : keamanan dan proteksi
Penyakit tetanus
Hipertermi
M. Rumusan masalah
Data yang terkumpul dan dianalisis, kemudian didapatkan diagnosa keperawatan sebagai berikut :.
(0077 ) Nyeri akut berhubungan dengan cedera fisik
(0130 ) Hipetermia berhubungan dengan proses penyakit
N. Intervensi kesehatan
No
Diagnosa
Tujuan & kriteria hasil (NOC)
Intervensi (NIC)
Kode: D.0077
Kategori : Psikologis
Sub Kategori : Nyeri dan kenyamanan
DS : Klien mengatakan nyeri dan kaku diseluruh badan dan tidak bias di gerakkan
DO : - Klien Nampak gelisah
Seteleh dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan
Tingkat nyeri ( L. 08066)
Skala
1.meningkat
2. cukup meningkat
3.sedang
4. cukup menurun
5. menurun
Dengan kriteria :
1.Keluhan nyeri (skala 2 menjadi 4)
2. Meringis (skala 2 menjadi 2)
Intervensi keperawat
Menajemen nyeri (1.08238)
Identifikasi lokasi,karakteristik,durasi,frekuensi,kualitas,intensitas nyeri
Identifikasi skala nyeri
Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan
2.
Kode:D.0131
Kategori : lingkungan
Sub Kategori : keamanan dan proteksi
DS :klien mengatkan demam dan pusing
DO : klien Nampak pucat dan lemas
Td:130/70
N:120X/menit
S:39 ,60C
R:26x/menit
Status kenyamanan ( L. 08064)
Skala
1.meningkat
2. cukup meningkat
3.sedang
4. cukup menurun
5. menurun
Dengan kriteria :
1. Keluhan tidak nyaman
(skala 2 menjadi 4)
2. Gelisah (skala 3 menjadi 5 )
Menajemen hipertermia (1.14507)
Monitor suhu tubuh
Identifikasi penyebab hipetermia
Monitor tanda dan gejala akibat hipertermia
Puskesmas : kolono
Nama KK : Tn. B
No. Register : -
TANGGAL/JAM
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TINDAKAN
EVALUASI
TANDA TANGAN
20/01/2020
Kode: (0077 )
Nyeri akut berhubungan dengan cedera fisik
1. mengidentifikasi lokasi,karakteristik,durasi,frekuensi,kualitas,intensitas nyeri
2. Mengidentifikasi skala nyeri
3. Mengidentifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
4. Memonitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan
S : klien mengatakan nyeri yang dirasakan sedikit berkurang
O: Pasien tidak Nampak meringis
21/01/2020
Kode:(0130) Hipetermia berhubungan dengan proses penyakit
1. Memonitor suhu tubuh
2. mengidentifikasi penyebab hipetermia
3.Memonitor tanda dan gejala akibat hipertermia
S: klien mengatkan demam demamnya berkurang
O: Td:130/70
N:120X/menit
S:36 ,50C
R:26x/menit
O. Evaluasi
TANGGAL/JAM
DIAGNOSA KEPERAWATAN
EVALUASI
TANDA TANGAN
25/01/2021
Kode: (0077 )
Nyeri akut
S : klien mengatakan nyeri yang dirasakan sedikit berkurang
O : Pasien tidak Nampak meringis
\A : masalah hampir teratasi
P :intervensi dipertankan
26/01/2001
Kode:(0130)
Hipetermia
S: klien mengatkan demam demamnya berkurang
O: Td:130/70
N:120X/menit
S:36 ,50C
R:26x/menit
A : masalah hampir teratasi
P :intervensi dipertankan
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Tetanus berasal dari kata Yunani “tetanus” yang artinya “berkontraksi”, merupakan penyakit bersifat akut yang ditandai dengan kekakuan otot dan spasme, akibat toksin yang dihasilkan Clostiridium Tetani mengakibatkan nyeri biasanya pada rahang bawah dan leher.Tetanus merupakan hal yang dapat dicegah. Tetanus lebih umum didapatkan pada masyarakat dengan pemasukan ekonomi rendah, terutama negara berkembang, tapi tidak menutup kemungkinan tetanus ada di negara maju.
WHO mengatakan pada tahun 2015, terdapat 10301 kasus tetanus termasuk 3551 kasus neonatal yang dilaporkan melalui WHO/Unicef. Laporan tersebut juga masih belum bisa menjelaskan angka kejadian sebenarnya dikarenakan banyaknya insiden yang tidak dilaporkan. Kelompok masyarakat yang tidak mendapatkan vaksinasi, usia lebih dari 65 tahun, penderita diabetes merupakan masyrakat yang memiliki faktor resiko tinggi terhadap tetanus. Kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap resiko infeksi tetanus yang disebabkan oleh luka juga menjadi salah satu faktor risiko masih maraknya terjadi tetanus Tetanus yang terjadi pada non neonatal paling banyak didapatkan dikarenakan pekerjaan terutama pekerjaan yang memiliki potensial bahaya tinggi seperti pekerja agrikultural, pekerja industry, dan pekerja kesehatan, pekerja konstruksi dan pekerja besi. Dapat juga didapatkan pada luka-luka yang tidak ditangani dengan benar.
B. SARAN
Untuk mahasiswa diharapkan agar memahami segelah penjelasan dalam makalah ini dan menjadi salah sau referensi pembelajaran
Untuk dosen diharapkan segalah kritik dan saran agar kedepanya bisa membua makalah asuhan keperawatan bisa lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Haq, N. Z., Keperawatan, F., & Airlangga, U. (n.d.). ASUHAN KEPERAWATAN ( ASKEP ) TETANUS.
Nomor, V. (2020). Jurnal Penelitian Perawat Profesional. 2(November), 443–450.
Haq, N. Z., Keperawatan, F., & Airlangga, U. (n.d.). ASUHAN KEPERAWATAN ( ASKEP ) TETANUS.
Nomor, V. (2020). Jurnal Penelitian Perawat Profesional. 2(November), 443–450.
Haq, N. Z., Keperawatan, F., & Airlangga, U. (n.d.). ASUHAN KEPERAWATAN ( ASKEP ) TETANUS.
Nomor, V. (2020). Jurnal Penelitian Perawat Profesional. 2(November), 443–450.
Haq, N. Z., Keperawatan, F., & Airlangga, U. (n.d.). ASUHAN KEPERAWATAN ( ASKEP ) TETANUS.
Nomor, V. (2020). Jurnal Penelitian Perawat Profesional. 2(November), 443–450.
(Haq et al., n.d.)
Langganan:
Komentar (Atom)